Yang kita lihat kadang mencuri bahagia kita.
Dulu, bahagia itu sederhana. Makan bersama keluarga, meski hanya lauk seadanya. Tinggal di rumah kecil, tapi hangat oleh tawa dan doa. Berpakaian biasa, namun hati lapang tanpa beban citra.
Kini, kebahagiaan mulai terasa jauh. Bukan karena hidup makin sulit, tapi karena mata kita terlalu sering menatap hidup orang lain. Kita melihat makan malam mewah, rumah-rumah megah, dan gaya hidup yang tampak sempurna.
Lalu, hati kita mulai membandingkan. “Mengapa hidupku tak seindah itu?” Padahal, mereka yang tampak bahagia di layar, belum tentu tenang di kehidupan nyata.
Di zaman ini, menjaga syukur jadi perjuangan yang berat. Bukan karena nikmat berkurang, tapi karena pandangan kita terlalu sering keluar, bukan ke dalam.
Karena itu, juga pandangan–bukan hanya mata, tapi juga hati. Belajarlah menikmati apa yang ada, tanpa sibuk menghitung apa yang tak dimiliki. Karena kebahagiaan sejati, tak akan pernah bisa dipamerkan. Ia hanya bisa dirasakan oleh hati yang tahu cara bersyukur.
Jika anda ingin menjalani kehidupan bahagia, terikatlah dengan sebuah tujuan hidup, jangan terikat kepada manusia atau materi.
Jika ingin hidup bahagia, tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Pahamilah, karena kamu memiliki kehidupan yang berbeda, situasi yang tidak sama, dan nasib, serta takdir yang tidak serupa dengan orang lain.
Semoga bermanfaat buat kita semua dan memperbanyak syukur atas pemberian Allah, dan juga dari apa yang kita miliki.
Barakallahu fiikum.
