Menjemput Berkah di Balik Gerhana

Menjemput Berkah di Balik Gerhana
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”The eclipse is not a representation of universal sorrow, but rather the Creator’s proclamation so that His servants kneel in the most solemn submission.”
​”(Gerhana bukanlah representasi duka semesta, melainkan maklumat Sang Pencipta agar hamba-Nya bersimpuh dalam ketundukan yang paling khidmat)”

​Bagi warga Muhammadiyah, cuaca mendung bukanlah penghalang untuk menunaikan salat gerhana bulan (Khusuf). Berdasarkan fatwa Majelis Tarjih, shalat tetap disunnahkan selama perhitungan astronomis (hisab) menunjukkan gerhana sedang berlangsung, meskipun bulan tertutup awan atau mendung.

​Namun, penting untuk dicatat bahwa salat tidak disyariatkan pada gerhana penumbra, karena perubahan fisiknya tidak terlihat jelas secara kasatmata. Hal ini menegaskan bahwa ibadah gerhana berpijak pada fenomena alam yang nyata, bukan sekadar bayangan samar. ​Allah SWT berfirman:
​وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya:
​“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” ( Qs. Fussilat: 37)

​Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili menegaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk merespons fenomena alam dengan ibadah kepada Sang Khaliq, sekaligus memutus mata rantai kepercayaan mistis atau mitos yang sering menyertai gerhana.

​Pesan Rasulullah SAW tentang Gerhana

​Diriwayatkan dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Artinya:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari No. 1044)

​Refleksi: Undangan Istimewa di Bulan Ramadhan

​Momen gerhana yang hadir di bulan Ramadan adalah “undangan” istimewa untuk melipatgandakan ketaatan.
​Jika terjadi di malam hari, ia menyempurnakan syahdunya tarawih dan tahajud. Jika terjadi di siang hari, ia menjadi ujian kesabaran dan keikhlasan di tengah rasa haus saat berpuasa.

​Inti dari ibadah gerhana adalah kepatuhan hati yang melampaui penglihatan mata. Meski bulan tak terlihat karena mendung, keyakinan kita pada ketetapan Allah tetap menuntun langkah menuju masjid.

​Mari melangkah dengan penuh keyakinan. Manfaatkan momentum langka ini untuk mendekatkan diri kepada Allah di bulan yang penuh berkah.

Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Search