”A sick heart is like a dusty mirror; it exists, but cannot reflect the light of Truth. Clean it, then the universe will appear more beautiful in your sight”
“(Hati yang sakit bagaikan cermin yang berdebu; ia ada, namun tak mampu memantulkan cahaya kebenaran. Bersihkanlah ia, maka semesta akan tampak lebih indah dalam pandanganmu)”
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali menyesakkan dada, kegelisahan kerap datang tanpa diundang. Ulama besar Nusantara, Sunan Bonang, telah merangkum resep mujarab untuk mengobati penyakit hati tersebut dalam gubahan Tombo Ati. Lima perkara ini bukan sekadar tradisi, melainkan intisari dari ajaran Al-Qur’an dan Sunah.
1. Menyelami Samudra Al-Qur’an (Moco Qur’an lan Maknane)
Membaca Al-Qur’an bukan hanya tentang merdunya nada, melainkan tentang meresapi setiap pesan Tuhan ke dalam relung sukma. Allah SWT berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ
Artinya:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Isra: 82)
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qur’an adalah penyembuh bagi penyakit hati seperti keraguan, kemunafikan, dan kesyirikan, serta memberikan ketenangan lahir dan batin bagi mereka yang mentadaburinya.
2. Melangitkan Doa di Sepertiga Malam (Sholat Wengi Lakonono)
Saat dunia terlelap, di situlah momentum eksklusif antara hamba dan Sang Pencipta terjadi. Shalat malam (Tahajud) adalah sebaik-baik sarana pengaduan.
Dalam hadis, Dari Abu Umamah Al-Bahily berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلإِثْمِ
Artinya:
“Hendaklah kalian bangun malam, sebab dia adalah kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kalian, dia mendekatkan kalian kepada Tuhan kalian, menghapuskan keburukan dan mencegah perbuatan dosa. (HR. At-Tirmidzi: 5/553 no: 3549).
3. Bersandar pada Kesalehan Kolektif (Wong Kang Sholeh Kumpulono)
Energi positif bersifat menular. Lingkungan yang baik akan menjaga ritme ibadah kita tetap stabil. Berkumpul dengan orang saleh memudahkan kita untuk diingatkan saat lupa dan dikuatkan saat jatuh. Seseorang cenderung dinilai berdasarkan agama teman dekatnya.
Dalam sebuah hadis Rasululah SAW menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
Artinya:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628)
4. Menahan Syahwat dengan Lapar (Weteng Iro Ingkang Luwe)
Bukan sekadar menahan lapar, melainkan melatih kontrol diri. Perut yang terlalu kenyang sering kali membuat hati menjadi tumpul dan malas beribadah. Berpuasa atau menyedikitkan makan adalah cara efektif untuk menundukkan nafsu amarah serta menajamkan intuisi spiritual.
Dalam hadis, Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ الصِّيَامَ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
Artinya:
“Puasa itu adalah perisai. Maka jika seorang dari kalian tengah berpuasa, janganlah ia berkata-kata kotor dan berlaku tidak terpuji. Dan jika ada seorang yang mencela atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia berkata kepada orang itu, ‘Sesungguhnya saya tengah berpuasa.” (HR. Ahmad No. 9617)
5. Larut dalam Keheningan Zikir (Dzikir Wengi Ingkang Suwe)
Zikir adalah detak jantung bagi iman. Mengingat Allah dalam keheningan malam akan mengikis kecintaan yang berlebihan pada dunia. Allah SWT berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya:
”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.“(Qs. Ar-Ra’d: 28).
Jadi, menyembuhkan hati tidaklah instan. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi. Lima perkara Tombo Ati di atas adalah kompas bagi kita yang sedang tersesat dalam rimba kegelisahan. Jika hati telah sehat, maka seluruh raga dan amal perbuatan kita pun akan memancarkan cahaya kebaikan.
Semoga bermanfaat.
