Menjernihkan Hati dari Dengki

Menjernihkan Hati dari Dengki
*) Oleh : Suharto Fauzan
Pegiat Literasi (Simpatisan Muhammadiyah)
www.majelistabligh.id -

Kedengkian adalah penyakit hati yang berbahaya, obat utamanya adalah ketulusan menerima takdir dan ketetapan Allah SWT.

Pengertian Dengki
Dalam ajaran Islam, dengki dikenal dengan istilah hasad. Secara bahasa, dengki adalah rasa tidak suka terhadap nikmat yang diperoleh orang lain. Sedangkan secara istilah, dengki adalah seseorang yang mengharapkan agar nikmat yang ada pada orang lain (baik berupa harta, kedudukan, kepandaian, maupun kebahagiaan) segera hilang atau berpindah kepada dirinya.

Sifat dengki berbeda dengan ghibthah (iri yang dibolehkan). Jika ghibthah adalah keinginan untuk mendapatkan nikmat yang sama seperti orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang dari orang tersebut, maka hasad murni dilandasi oleh kebencian atas takdir pembagian rezeki dari Allah SWT.

Cara Mengenali Diri Dihinggapi Sikap Dengki
Penyakit hati seringkali tersembunyi rapat di dalam dada. Namun, kita dapat mengenali apakah diri kita sedang dihinggapi sifat dengki melalui beberapa tanda berikut:

Merasa Tertekan atau Sedih Melihat Orang Lain Senang
Ketika mendengar atau melihat orang lain mendapatkan kesuksesan, promosi jabatan, atau kebahagiaan; hati terasa perih, gelisah, atau tidak rela, sementara musibah yang menimpa orang tersebut justru membuat lega.

Suka Mencari-cari Aib atau Keburukan
Orang yang dengki cenderung tidak suka melihat orang lain dipuji. Ia akan berusaha mencari-cari kekurangan atau kesalahan orang lain untuk menjatuhkan reputasinya di hadapan umum.

Enggan Mengucapkan Selamat atau Syukur
Terasa berat di lisan untuk mendoakan kebaikan atau sekadar mengucapkan selamat atas pencapaian orang lain.

Merasa Diri Lebih Berhak
Selalu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain dan merasa bahwa dirinyalah yang paling layak mendapatkan nikmat tersebut, bukan orang lain.

Bahaya Sikap Dengki
Islam sangat melarang umatnya memiliki sifat dengki karena dampaknya yang sangat merusak, baik bagi kehidupan individu maupun sosial. Di antara bahaya besar sikap dengki adalah:

Memakan Kebaikan Seperti Api Memakan Kayu Bakar. Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Menolak Takdir dan Membenci Pembagian Allah
Hakikat dari kedengkian adalah protes terselubung terhadap takdir Allah SWT. Orang yang dengki seolah tidak ridha dengan kebijaksanaan Allah dalam membagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya.

Menyiksa Diri Sendiri
Orang yang dengki hidupnya tidak akan pernah tenang. Sebelum ia berhasil menyakiti orang lain, hatinya sendiri telah tersiksa oleh rasa panas dan iri yang dipeliharanya setiap hari.

Cara Mengatasi Sikap Dengki
Langkah-langkah praktis untuk mengatasi dan mengikis sifat dengki di dalam hati antara lain:

Menerima Takdir dengan Lapang Dada
Sadarilah bahwa setiap manusia telah memiliki porsi rezeki, takdir, dan ujiannya masing-masing yang telah diatur oleh Allah SWT. Menerima bagian diri sendiri dengan penuh rasa syukur adalah obat paling mujarab bagi penyakit dengki.

Berdoa untuk Kebaikan Orang Lain
Ketika perasaan dengki mulai muncul terhadap seseorang, paksa diri untuk mendoakannya agar diberikan keberkahan atas nikmat yang diterimanya. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa doa kebaikan untuk saudara kita secara diam-diam akan diamini oleh malaikat dan mendatangkan kebaikan serupa bagi yang mendoakan.

Memperbanyak Bersyukur
Fokuslah pada nikmat yang telah Allah berikan kepada diri sendiri daripada sibuk menghitung nikmat di tangan orang lain. Dengan melihat ke bawah dalam urusan dunia, hati akan lebih mudah bersyukur.

Menyadari Bahwa Karunia Adalah Hak Prerogatif Allah
Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya. Mengapa kita harus marah atas apa yang diberikan Allah kepada hamba-Nya?
Firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain …” (QS. An-Nisa’: 32)

Mari kita senantiasa membersihkan hati dari sifat dengki, menggantinya dengan rasa syukur, serta menerima setiap ketentuan-Nya dengan jiwa yang pasrah dan tenang.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search