Merawat Damai: Amanah Sosial Setiap Insan

Merawat Damai: Amanah Sosial Setiap Insan
*) Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd
Guru SD Muhammadiyah 1 Malang dan Sekbid Dakwah PDPM Malang
www.majelistabligh.id -

Kedamaian bukan sekadar keadaan tanpa suara,
melainkan nafas kehidupan yang membuat sebuah lingkungan tetap berdenyut,
sebuah hubungan tetap tegak,
dan sebuah hati tetap bening.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya:

﴿ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ ﴾
Dan Allah menyeru (manusia) ke rumah keselamatan.” (QS. Yunus: 25)

Keselamatan bukan datang begitu saja.
Ia lahir dari tangan-tangan yang menjaga,
dari warga yang memilih meredam api sebelum ia menyala,
dan dari pemimpin yang lebih memilih tenang daripada menang sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلِ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟ إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ »
Maukah kalian aku beritahu amalan yang lebih utama dari puasa, shalat, dan sedekah?
Yaitu: mendamaikan hubungan di antara kalian.” (HR. Abu Dawud)

Betapa keras suara hadis ini mengetuk hati.
Bahwa menjaga kondusifitas ternyata bukan tugas sampingan,
tetapi ibadah besar yang menaikkan derajat manusia.

Kata Ulama, Jalan Damai adalah Jalan Mulia, ungkapan Ibnul Qayyim

قال ابن القيّم رحمه الله:
« لَا تَحْيَا الْقُلُوبُ إِلَّا بِنُورِ الْأَمْنِ، وَلَا يَقُومُ الْأَمْنُ إِلَّا بِالْعَدْلِ »

Hati tidak akan hidup kecuali dengan cahaya keamanan,
dan keamanan tidak tegak kecuali dengan keadilan.”

Ungkapan Al-Ghazali

وقال الإمام الغزالي رحمه الله:
« إِنَّ أَعْظَمَ فَسَادِ الدُّوَلِ لَا يَبْدَأُ بِالسِّلَاحِ، وَلَكِنْ يَبْدَأُ بِفَسَادِ الْقُلُوبِ الَّتِي لَا تُرِيدُ أَنْ يَتَحَافَظَ النَّاسُ بَيْنَهُمْ »

“Kerusakan terbesar sebuah negeri bukan dimulai dari senjata,
tetapi dari hati yang tidak lagi mau saling menjaga.”

Inilah pesan para ulama:
Keamanan bukan hanya urusan aparat,
tetapi akhlak sosial yang harus menjadi budaya bersama.

Realita Saat Ini: Mengapa Kita Butuh Menjaga Kondisi Tetap Kondusif?
Karena di tengah era media sosial yang cepat menyambar,
satu kabar palsu dapat menjadi percikan api,
satu provokasi dapat menjadi badai,
satu komentar kasar dapat mencabik persaudaraan.

Kita telah melihat—
Bagaimana gesekan kecil di lingkungan, sekolah, atau perkampungan
dapat membesar hanya karena salah paham dan ego yang tidak dikendalikan.

Namun kita juga melihat—
Bagaimana rukun tetangga yang kuat dapat memadamkan konflik dalam sekejap,
Bagaimana guru yang bijak dapat menenangkan murid-muridnya dari isu yang menyesatkan,
Bagaimana tokoh masyarakat mampu meredakan suasana hanya dengan satu kalimat menyejukkan.

Setiap kita, sekecil apapun peran, adalah penjaga.
Penjaga lingkungan.
Penjaga ucapan.
Penjaga ketenangan.
Penjaga masa depan.

Menjaga Kondusifitas adalah Ibadah Sosial yang Berpahala Besar

Dalam setiap pilihan kita untuk diam daripada menyulut,
untuk menahan emosi daripada memperkeruh,
untuk memaafkan daripada membalas,
ada pahala yang tidak terlihat—
tetapi tercatat oleh langit.

Allah berfirman:

﴿ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ﴾
Bertakwalah kepada Allah dan damaikanlah hubungan di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 1)

Maka damai bukan hanya urusan dunia,
tapi perintah dari langit.

Kita Adalah Pelita Ketenangan

Mari menjadi pribadi yang meneduhkan.
Yang jika hadir, orang merasa aman.
Yang jika berbicara, hati menjadi ringan.
Yang jika memimpin, suasana menjadi damai.
Yang jika berpapasan, tidak ada yang merasa terancam.

Karena keamanan bukan hanya situasi,
tetapi warisan
yang kita titipkan kepada anak-anak kita kelak.

Semoga Allah menjaga negeri,lingkungan sekitar kita dari kegaduhan,
dan menjaga hati kita dari api kerusuhan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search