Saat ibu kita meninggal, ternyata ada bagian darinya yang tidak pernah pergi dari tubuh kita. Namanya sel mitokondria. Ia hidup di setiap sel tubuhmu, memberi energi agar kamu terus bertahan hidup. Organ ini menjadi salah satu bentuk ikatan biologis paling kuat dan abadi.
Memang, mitokondria adalah warisan biologis yang kita terima dari ibu kita—diturunkan melalui garis maternal. Ia terus hidup di setiap sel tubuh, menjadi sumber energi yang memungkinkan kita bergerak, berpikir, dan bertahan. Seakan-akan ada bagian dari ibu yang senantiasa menyertai kita, bukan hanya dalam kenangan, tetapi juga dalam wujud nyata yang bekerja tanpa henti di dalam tubuh.
Kalau dipandang dari sisi spiritual, ini bisa menjadi pengingat bahwa kasih sayang seorang ibu tidak pernah benar-benar hilang. Sama seperti mitokondria yang terus memberi energi, doa dan cinta ibu tetap mengalir dalam hidup anak-anaknya, bahkan setelah beliau tiada. Ada ikatan biologis sekaligus ikatan batin yang abadi.
Energi Ibu yang Tak Pernah Padam
Ketika seorang ibu meninggalkan dunia, banyak yang merasa seakan seluruh ikatan terputus. Namun, sains mengajarkan kita sesuatu yang menakjubkan: ada bagian dari ibu yang tetap hidup dalam diri kita. Namanya mitokondria—organ kecil di dalam setiap sel tubuh yang berfungsi sebagai pusat energi. Mitokondria diwariskan hanya melalui garis maternal, artinya setiap energi yang mengalir dalam tubuh kita adalah warisan langsung dari ibu.
Secara biologis, ini adalah ikatan paling kuat dan abadi. Setiap langkah yang kita ambil, setiap napas yang kita hirup, setiap pikiran yang kita jalani, semuanya digerakkan oleh energi yang berasal dari sel yang diwariskan ibu. Seakan-akan, meski jasadnya telah tiada, ada denyut kehidupan beliau yang terus bergetar dalam diri kita.
Dari sisi spiritual, hal ini menjadi pengingat indah: cinta seorang ibu tidak pernah benar-benar hilang. Sama seperti mitokondria yang terus memberi energi, doa dan kasih sayang ibu tetap mengalir dalam hidup anak-anaknya. Ia hadir dalam ketabahan kita, dalam semangat kita untuk bertahan, dan dalam kelembutan hati yang kita warisi.
Maka, ketika rasa kehilangan datang, ingatlah bahwa ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia ada dalam setiap denyut energi yang membuat kita hidup. Ia ada dalam doa yang kita panjatkan, dalam amal yang kita lakukan, dan dalam cinta yang kita teruskan kepada orang lain.
Selama energi itu berdenyut, selama Allah ada di hati kita, maka ikatan dengan ibu akan selalu abadi.
Dalam Al-Qur’an tidak ada ayat yang secara langsung menyebut kata mitokondria, karena istilah itu adalah temuan sains modern. Namun, banyak ayat yang menyinggung tentang penciptaan manusia, kehidupan sel, dan kekuatan Allah yang menanamkan energi kehidupan ke dalam tubuh kita. Ayat-ayat ini bisa dipahami sebagai landasan spiritual yang selaras dengan penemuan sains tentang mitokondria.
Beberapa ayat yang relevan:
QS. Al-Mu’minun [23]: 12–14
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ ۖ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ
12. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah.
13. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim)
14. Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.
Allah menjelaskan proses penciptaan manusia dari tanah, kemudian menjadi setetes air, segumpal darah, segumpal daging, hingga menjadi makhluk sempurna. Ayat ini menunjukkan betapa detailnya Allah menciptakan sistem kehidupan dalam tubuh, termasuk organ kecil seperti mitokondria yang memberi energi.
QS. Ya-Sin [36]: 82
اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Artinya: Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu.
Ayat ini menegaskan bahwa segala sistem kehidupan, termasuk energi seluler, terjadi karena kehendak Allah.
QS. Al-Anfal [8]: 24
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul (Nabi Muhammad) apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu!) Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya311) dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
Ayat ini bisa dimaknai bahwa Allah memberi kehidupan bukan hanya secara ruhani, tetapi juga melalui sistem biologis yang terus bekerja dalam tubuh.
Jadi, meskipun Al-Qur’an tidak menyebut mitokondria secara eksplisit, ayat-ayat tentang penciptaan manusia dan pemberian kehidupan dapat dipahami sebagai bingkai spiritual yang meliputi keberadaan mitokondria. (*)
