Moderasi: Jembatan Indah di Tengah Ekstremitas

Moderasi: Jembatan Indah di Tengah Ektremitas
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”Religion is a compass to God, don’t make it a sword to stab others.”
“(Agama adalah kompas menuju Tuhan, jangan jadikan ia pedang untuk menghujam sesama)”

​Moderasi beragama bukanlah tanda bahwa Islam kurang sempurna. Sebaliknya, ia adalah cermin dari keagungan ajaran ini. Islam hadir sebagai wasathiyyah, sebuah jalan tengah yang presisi, menjaga kita agar tidak terperosok dalam fanatisme buta, namun juga tidak hanyut dalam pengabaian agama. Islam menolak segala bentuk ekstremisme demi menjaga harmoni kemanusiaan.

​Menjadi moderat berarti kokoh dalam prinsip, namun luwes dalam interaksi. Keberagamaan yang dewasa adalah yang mampu memancarkan kedamaian bagi semesta (Rahmatan lil ‘Alamin). Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya,
​وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ
Artinya:
​”Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ (Ummatan Wasathan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia...”(Qs. Al-Baqarah: 143)

​Dalam Tafsir Al-Misbah, kata Wasath dimaknai sebagai posisi di tengah agar seseorang dapat terlihat oleh semua pihak dan mampu memandang ke segala arah. Ini adalah simbol keadilan dan keseimbangan; tidak berlebihan dalam mengejar dunia, namun tidak pula ekstrem dalam urusan akhirat hingga melupakan realitas sosial di sekitar kita.​Rasulullah SAW juga mengingatkan kita dalam sebuah hadis yang menyejukkan:
​إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَ لَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوْا وَ قَارِبُوْا وَ أَبْشِرُوْا وَ اسْتَعِيْنُوْا بِالْغَدْوَةِ وَ الرَّوْحَةِ وَ شَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ
Artinya:
​”Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali ia sendiri yang akan dikalahkan. Maka berlakulah lurus, mendekatlah pada kebenaran, berilah kabar gembira, dan mohonlah pertolongan (dalam beribadah) di waktu pagi, petang, dan sebagian waktu malam.” (HR. Bukhari No. 38)

​Pesan utama hadis ini sangat jelas: Islam adalah agama yang memudahkan, bukan memberatkan. Kita diminta untuk istiqamah dan optimis, tanpa harus memaksakan diri di luar batas kemampuan hingga akhirnya jenuh dan tumbang.

​Jadi, moderasi bukanlah upaya mengubah syariat, melainkan cara kita memandang dan mempraktikkan agama. Islam sudah sempurna sejak semula. Manusialah yang membutuhkan moderasi agar tidak terjebak dalam arus radikalisme yang keras maupun liberalisme yang kebablasan. Keduanya sama-sama berisiko merusak esensi kasih sayang Islam. ​Semoga renungan ini bermanfaat bagi kita semua.

Semoga bermanfaat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search