Mubaligh Muhammadiyah Menegaskan Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Ijazah Wapres dan Ujian Etika Kekuasaan Prespektif Buya Syafii Maarif
www.majelistabligh.id -

Di tengah dinamika kehidupan bermasyarakat yang kian kompleks, kebutuhan akan corak dakwah yang menyejukkan, adaptif, serta solutif menjadi sangat krusial.

Mengakomodasi kebutuhan tersebut, penanaman karakter mubaligh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) yang moderat dan berkemajuan dipandang sebagai langkah strategis dalam merawat keragaman sekaligus memajukan peradaban umat.

Direktur Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) sekaligus Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, Dr. Gus Sholikh Al Huda, M.Fil.I., menegaskan bahwa dakwah Islam saat ini tidak boleh berhenti sekadar pada tataran ajaran formalis, melainkan harus mampu menjadi gerakan pencerahan yang nyata di masyarakat. Seorang mubaligh modern dituntut untuk menyatukan keteguhan nilai keagamaan dengan keterbukaan pemikiran.

“Prinsip utama kita adalah teguh dalam akidah, moderat dalam pemikiran, dan santun dalam tindakan. Beragama harus dengan ilmu, berpikir terbuka, serta selalu berorientasi pada kemajuan peradaban,” ujar Gus Sholikh Al Huda, ditemui di Apple Sun Learning Center, Kota Batu.

Dalam pandangannya, karakter dasar yang wajib dimiliki oleh seorang mubaligh berkemajuan berpijak pada prinsip wasathiyah (moderasi). Sikap ini diwujudkan dengan mengedepankan pendekatan adil, toleran, dan inklusif, serta secara tegas menghindari ekstremisme, radikalisme, maupun fanatisme sempit. Melalui penghargaan terhadap perbedaan pandangan (ikhtilaf), dakwah yang dihadirkan hendaknya senantiasa damai dan membangun dialog ketimbang konfrontasi.

Tidak hanya moderat, pembaruan (tajdid) menjadi pilar penting berikutnya. Mubaligh berkemajuan dituntut merespons persoalan kontemporer secara adaptif, kreatif, dan inovatif dengan mengintegrasikan ilmu agama, sains, serta teknologi modern. Melalui integrasi ini, ajaran Islam dapat disampaikan secara relevan tanpa kehilangan substansi dasarnya.

Prinsip dakwah ini juga mengusung misi pencerahan (tanwir) dan pembebasan (tahrir). Gerakan dakwah dinilai belum lengkap jika hanya berfokus pada kesalehan individual. Lebih jauh dari itu, mubaligh harus mampu mendorong kesalehan sosial dengan membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan melalui pendidikan, literasi, serta pemberdayaan masyarakat.

“Dakwah bukan hanya mengajak manusia menjadi saleh secara individual, tetapi juga membangun kesalehan sosial. Kita bertugas memanusiakan manusia, merawat keragaman, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta,” tegasnya.

Sebagai panduan praktis, karakter ideal tersebut dirangkum ke dalam rumusan 5M Mubaligh Berkemajuan:

  • Moderat (Wasathiyah): Berada di jalur tengah, adil, toleran, dan jauh dari sikap ekstrem.
  • Maju (Tajdid): Adaptif, inovatif, serta berwawasan masa depan.
  • Mencerahkan (Tanwir): Membebaskan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan.
  • Memanusiakan (Humanis): Inklusif, mengedepankan dialog, dan menghargai martabat manusia.
  • Menggerakkan (Transformatif): Berintegritas tinggi serta mampu menghadirkan perubahan sosial yang nyata.

Melalui konsistensi antara perkataan dan perbuatan, mubaligh diharapkan tidak hanya menjadi penutur ajaran keagamaan, tetapi juga pelopor perubahan sosial yang mengarahkan masyarakat menuju kehidupan yang adil, mandiri, dan sejahtera. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search