Menyambut agenda akbar Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah bersama panitia lokal menanam 114 pohon kelor di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Ahad lalu.
Penanaman ini bukan sekadar penghijauan biasa, melainkan simbolisasi kearifan lokal Sulawesi Tengah yang kini diangkat menjadi identitas nasional Muhammadiyah.
Aksi yang dipusatkan di area Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unismuh Palu tersebut menjadi bagian dari Persiapan Tanwir Muhammadiyah 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 19–21 November 2026 di kampus tersebut.
Ketua PWM Sulawesi Tengah, Muh. Amin Parakkasi, mengungkapkan bahwa tanaman kelor (Moringa oleifera) dipilih karena kedekatannya dengan budaya masyarakat Palu serta keselarasan filosofisnya dengan gerakan Muhammadiyah.
“Tanaman kelor sangat berbanding lurus dengan semangat Muhammadiyah, sederhana, tangguh di berbagai kondisi tanpa perawatan rumit, namun kaya manfaat,” terang Amin.
Amin menambahkan, keberadaan kelor dalam Tanwir 2026 bermula dari usulan PWM Sulteng untuk menjadikan motif daun kelor sebagai batik resmi acara. Usulan tersebut disetujui Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, yang kemudian mengilhami desain logo utama Tanwir dan Milad ke-114.
“Ini sebuah kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Tengah. Kearifan lokal kita, pohon dan sayur kelor, kini ‘go nasional’ menjadi identitas resmi batik dan logo Tanwir Muhammadiyah,” ujarnya.
Sebagai miracle tree atau pohon ajaib, kelor merepresentasikan kesederhanaan, ketangguhan, keluasan pergerakan, dan kemakmuran, sebagaimana ditegaskan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Rektor Unismuh Palu sekaligus Ketua Panitia Penerima, Rajindra, menegaskan penanaman 114 pohon ini diharapkan menjadi pemantik kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.
Mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa”, Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Palu diharapkan dapat menjadi momentum krusial untuk memperkuat persatuan nasional serta memperluas kemanfaatan organisasi bagi masyarakat luas. (*/tim)
