Musuh Dalam Diri

Musuh Dalam Diri
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Kadang yang melakukan bukan dunia, tetapi fikiran yang kita pelihara. Lindungilah diri dari bisikan sendiri, karena tidak semua suara itu benar dan suci.

Tenangkan jiwa dengan dzikir dan sabar, agar hati tidak lemas dalam fikir yang liar. Sesungguhnya ketenangan datang perlahan, bila minta tunduk keimanan.

Dalam konteks ini, “musuh” bukanlah entitas eksternal, melainkan sisi-sisi dalam diri yang menghambat pertumbuhan, keikhlasan, dan kebermaknaan hidup.

Dimensi Musuh Dalam Diri
1. Nafsu yang Tidak Terkendali
• Dorongan untuk memuaskan keinginan sesaat, tanpa mempertimbangkan nilai atau akibat.
• Contoh: keinginan untuk dipuji, merasa paling benar, atau enggan menerima kritik.

2. Bisikan Keraguan dan Ketakutan
• Rasa takut gagal, takut ditolak, atau ragu akan potensi diri.
• Bisa melumpuhkan langkah menuju kebaikan atau keberanian mengambil keputusan.

3. Ego dan Kesombongan
• Merasa lebih tinggi dari orang lain, sulit meminta maaf, atau enggan belajar dari kesalahan.
• Menutup pintu taubat dan pertumbuhan spiritual.

4. Kemalasan dan Penundaan
• Menunda kebaikan, mengabaikan amanah, atau enggan berjuang.
• Musuh halus yang menggerogoti waktu dan potensi.

5. Putus Asa dan Hilangnya Harapan
• Merasa tidak layak, tidak mampu, atau tidak mungkin berubah.
• Padahal rahmat Allah selalu terbuka bagi yang ingin kembali.

“Cermin dan Kompas”
• Cermin: Mengajak kita melihat ke dalam, jujur pada diri sendiri, mengenali bayangan yang selama ini disembunyikan.
• Kompas: Menunjukkan arah ridho Allah, agar kita tidak tersesat oleh ilusi dunia atau bisikan hawa nafsu.

Beberapa ayat Al-Qur’an menggambarkan musuh dalam diri sebagai hawa nafsu, bisikan setan, dan kecenderungan terhadap kebatilan yang menghalangi manusia dari jalan kebenaran.

Ayat Al-Qur’an Tentang Musuh Dalam Diri
1. Surat Yusuf Ayat 53
۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

• Makna: Nafsu adalah musuh internal yang mendorong manusia kepada keburukan. Hanya dengan rahmat Allah, seseorang dapat mengendalikannya.

2. Surat Al-A’raf Ayat 200
وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: Jika setan benar-benar menggodamu dengan halus, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

• Makna: Bisikan setan adalah musuh batin yang halus. Perlindungan kepada Allah adalah senjata utama.

3. Surat Al-Furqan Ayat 43
اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۗ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا ۙ
Artinya: Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?

• Makna: Ketika hawa nafsu menjadi pengendali hidup, ia menjadi musuh yang menyesatkan dari tauhid dan akhlak.

4. Surat Al-Baqarah Ayat 286
ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ
Artinya: Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”

• Makna reflektif: Dalam konteks musuh luar, ayat ini juga bisa dimaknai bahwa Allah adalah pelindung dari musuh batin yang menyesatkan.

5. Surat Al-Hashr Ayat 19
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Terjemah Kemenag 2019
19. Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.

• Makna: Melupakan Allah adalah awal dari kehancuran batin. Musuh dalam diri bisa muncul dari kelalaian spiritual. (*)

Tinggalkan Balasan

Search