Muzaki Terbitkan Dua Karya Buku tentang IMM, Hadirkan Gagasan Dakwah dan Pengembangan Perkaderan

Muzaki Terbitkan Dua Karya Buku tentang IMM, Hadirkan Gagasan Dakwah dan Pengembangan Perkaderan
www.majelistabligh.id -

Kader Muhammadiyah, Moch. Muzaki menerbitkan dua karya buku yang mengangkat tema dakwah dan pengembangan perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Kedua buku tersebut berjudul Dakwah Merah dan Membangun Kader.

Dua karya ini lahir dari perjalanan intelektual, pengalaman berorganisasi, aktivitas dakwah, serta kegelisahan penulis terhadap dinamika gerakan dan perkaderan di lingkungan IMM dan Muhammadiyah.

Muzaki menjelaskan, kedua buku tersebut memiliki latar belakang penulisan yang berbeda. Buku Dakwah Merah merupakan kumpulan tulisan dan refleksi pemikiran yang selama ini berkembang dari pengalaman serta pengamatannya terhadap dakwah dan gerakan organisasi.

Sementara itu, buku Membangun Kader merupakan pengembangan dari hasil penelitian tesis yang mengkaji integrasi konsep Education for Sustainable Development (ESD) dengan Sistem Perkaderan Ikatan IMM.

“Dua buku ini adalah masukan sekaligus sebagai dialektika untuk perkembangan organisasi. Saya berharap gagasan-gagasan yang tertuang di dalamnya dapat menjadi bahan diskusi, refleksi, dan pengembangan gerakan ke depan,” ungkap Muzaki.

Dalam buku Membangun Kader, Muzaki berupaya mempertemukan dua gagasan penting, yakni Education for Sustainable Development dan Sistem Perkaderan Ikatan IMM. Integrasi keduanya bukan sekadar menambahkan konsep baru dalam sistem perkaderan, melainkan menghadirkan perspektif yang lebih luas bagi kader dalam memahami realitas, membaca persoalan, membangun kesadaran, mengembangkan kompetensi, serta melakukan aksi sosial.

Melalui pendekatan tersebut, perkaderan IMM diharapkan mampu melahirkan kader yang berpikir kritis dan sistemik, mampu bekerja secara kolaboratif, memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, serta berani menghadirkan perubahan.

Muzaki juga menegaskan, karya tersebut masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Kritik, saran, dan gagasan dari pembaca sangat diperlukan sebagai bagian dari penyempurnaan pemikiran mengenai integrasi ESD dalam perkaderan IMM.

Sementara itu, buku Dakwah Merah menghadirkan kumpulan opini dan refleksi tentang dakwah, intelektualitas, kepemimpinan, pengabdian, serta dinamika gerakan Muhammadiyah. Buku ini berangkat dari kegelisahan penulis terhadap tantangan dakwah dan perkaderan di era modern.

Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga harus mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan zaman. Dakwah perlu menghadirkan solusi, membangun optimisme, memperkuat intelektualitas, serta melahirkan generasi yang religius, berakhlak, profesional, dan berkemajuan.

Sebagai kader Muhammadiyah, Muzaki memandang perkaderan bukan sekadar proses regenerasi organisasi. Lebih dari itu, perkaderan merupakan proses melahirkan manusia-manusia yang siap menjadi pelayan umat dan pembangun peradaban.

Organisasi harus menjadi ladang ibadah, sekolah kepemimpinan, laboratorium keilmuan, sekaligus ruang pembentukan karakter. Nilai-nilai tersebut menjadi benang merah dari berbagai tulisan yang dihimpun dalam Dakwah Merah.

“Buku ini lahir dari perjalanan panjang dalam belajar, mengajar, berorganisasi, berdakwah, serta menyaksikan berbagai dinamika kehidupan umat dan gerakan. Ada kegelisahan mendasar tentang bagaimana semangat dakwah, pengabdian, dan perkaderan terkadang mulai kehilangan ruhnya. Mengapa organisasi hanya dipahami sebagai ruang aktivitas, bukan sebagai jalan ibadah? Kegelisahan itulah yang menjadi benang merah tulisan dalam buku ini,” jelasnya.

Bagi Muzaki, menerbitkan buku bukan semata-mata tentang menghasilkan sebuah karya atau menambah daftar publikasi pribadi. Lebih jauh, menulis merupakan ikhtiar untuk merawat gagasan, mendokumentasikan pemikiran, dan membuka ruang dialog lintas generasi.

Ia meyakini bahwa pemikiran yang dituangkan dalam tulisan dapat melampaui batas waktu dan menjadi bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.

“Pikiran yang dituliskan akan abadi,” tuturnya.

Melalui dua karya ini, Muzaki berharap tradisi literasi dan intelektualitas di lingkungan IMM semakin tumbuh. Kader tidak hanya didorong untuk aktif dalam berbagai aktivitas organisasi, tetapi juga mampu membaca realitas, membangun argumentasi, menghasilkan gagasan, dan memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search