Nilai di Mata Manusia

Nilai di Mata Manusia
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

Saat kau berguna, namamu di julang tinggi, dicari, dipuji, disanjung tanpa henti. Kehadiranmu dirindukan, suaramu didengar seolah-olah engkau segalanya di mata dunia.

Namun bila tiada lagi manfaat yang diberi, perlahan kau disisihkan tanpa rasa simpati. Maka jangan dengarkan nilai diri pada manusia, cukup Allah mengetahui harga sebenarnya dirimu.

Perspektif Spiritual

Dalam Al-Qur’an, nilai manusia bukan ditentukan oleh rupa atau status, melainkan oleh takwa dan amal baik
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.

Artinya, ukuran sejati bukan apa yang tampak di mata manusia, melainkan apa yang bernilai di sisi Allah.

Hakikat Nilai dalam Pandangan Spiritual
1. Takwa sebagai ukuran utama
* QS. Al-Hujurat: 13 menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan oleh takwa, bukan status sosial atau fisik.
* Takwa berarti kesadaran penuh akan Allah, yang melahirkan amal baik, kejujuran, dan kasih sayang.

2. Amal sebagai cermin nilai
* QS. Al-Baqarah: 2–3 menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang berpegang pada petunjuk Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan rezeki.
* Nilai spiritual manusia tampak dari amal yang memberi manfaat, bukan sekadar ritual kosong.

3. Niat sebagai inti nilai
* Hadis Nabi: “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.”
* Nilai sejati bukan hanya pada apa yang dilakukan, tetapi pada keikhlasan hati di balik perbuatan.

Dimensi Nilai Spiritual
* Vertikal (hubungan dengan Allah):
Nilai manusia ditakar dari sejauh mana ia tunduk, bersyukur, dan menjaga amanah sebagai khalifah.

* Horizontal (hubungan dengan sesama):
Nilai manusia tampak dari kebermanfaatannya, sebagaimana sabda Nabi: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
* Internal (hubungan dengan diri):
Nilai juga lahir dari kemampuan menjaga fitrah, membersihkan hati, dan melawan hawa nafsu.

Perspektif Sosial

Di mata manusia, nilai sering dikaitkan dengan peran dan manfaat: apakah seseorang berguna bagi orang lain, memberi kontribusi, atau justru merugikan.
Pepatah Jawa mengatakan: “Urip iku urup” — hidup itu menyala, artinya hidup yang bernilai adalah yang memberi cahaya bagi sesama.

Hakikat Nilai Sosial
1. Manfaat bagi sesama
* Dalam masyarakat, seseorang dianggap bernilai ketika ia memberi kontribusi nyata: membantu, mengajar, melayani, atau menciptakan kebaikan bersama.
* Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” — ini menegaskan bahwa nilai sosial lahir dari kebermanfaatan.

2. Peran dan fungsi sosial
* Nilai manusia sering diukur dari peran yang ia jalankan: sebagai guru, pemimpin, orang tua, atau warga.
* Semakin besar tanggung jawab dan keberhasilan menjalankan peran itu, semakin tinggi pula nilai yang diberikan masyarakat.

3. Akhlak dan etika sosial
* Kejujuran, amanah, sopan santun, dan empati menjadi tolok ukur utama.
* Orang yang berakhlak mulia akan dihargai, meski mungkin sederhana secara materi.

Dimensi Nilai Sosial
* Kolektifitas: Nilai manusia muncul dari keterlibatan dalam komunitas, bukan sekadar pencapaian pribadi.
* Relasi timbal balik: Nilai sosial terbangun melalui interaksi—bagaimana seseorang menghormati, mendengar, dan menghargai orang lain.
• Budaya & simbol: Dalam masyarakat Jawa misalnya, nilai seseorang sering dikaitkan dengan unggah-ungguh (tatakrama) dan tepa selira (empati).

Tantangan dalam Penilaian Sosial
* Superfisialitas: Masyarakat kadang menilai dari status, harta, atau popularitas.
* Ketidakadilan: Orang yang tulus bekerja di balik layar sering kurang dihargai dibanding yang tampil di depan.
* Dinamika zaman: Nilai sosial bisa bergeser sesuai tren, misalnya dari penghargaan pada kebijaksanaan ke penghargaan pada popularitas digital.

Perspektif Etis

Nilai manusia juga tercermin dari integritas: kejujuran, konsistensi, dan kesetiaan pada prinsip.
Orang yang mungkin sederhana secara materi bisa sangat tinggi nilainya karena ketulusan dan kebermanfaatannya.

Hakikat Nilai Etis
1. Integritas sebagai fondasi
* Nilai manusia dalam perspektif etis ditentukan oleh konsistensi antara ucapan, pikiran, dan tindakan.
* Orang yang berintegritas dihargai karena ia “satu kata dengan perbuatan”, tidak berpura-pura atau menipu.

2. Keadilan sebagai ukuran
* Etika menuntut manusia berlaku adil, tidak berat sebelah, dan menghormati hak orang lain.
* Nilai seseorang meningkat ketika ia mampu menegakkan keadilan, meski harus mengorbankan kepentingan pribadi.

3. Tanggung jawab moral
* Nilai etis juga lahir dari kesediaan menanggung akibat dari pilihan dan tindakan.
* Orang yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya akan lebih dihargai daripada yang menutupinya.

Dimensi Nilai Etis
* Prinsip universal: kejujuran, amanah, keadilan, dan empati berlaku lintas budaya dan agama.
* Konteks lokal: setiap masyarakat punya norma etis yang memperkuat nilai, misalnya tepa selira (empati) dalam budaya Jawa.
* Relasi sosial: nilai etis tampak dalam cara seseorang memperlakukan orang lain, terutama yang lemah atau tidak berdaya

Refleksi
Sering kali manusia menilai berdasarkan lahiriah: jabatan, harta, penampilan. Namun nilai sejati lebih dalam: berguna, bukan sempurna — seperti yang sering kita bahas bersama. Nilai itu tumbuh dari benih fitrah yang dijaga, dari cermin hati yang jernih, dan dari pelita amal yang menerangi sekitar. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search