Oase di Negeri Paman Sam: Politisi Muslim Melawan Arus

Oase di Negeri Paman Sam: Politisi Muslim Melawan Arus
*) Oleh : Agus Rosid
Jemaah Masjid Baitul Fadli Gunung Anyar Tambak dan Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah Cabang Bubutan Barat Surabaya
www.majelistabligh.id -

Kemenangan Abdul El-Sayed dalam perebutan kursi Senat di Michigan kemarin, makin memperpanjang daftar politisi Muslim di Amerika Serikat yang berani bersuara lantang melawan arus menentang kebijakan politik Washington terhadap Israel.

Ia tidak sendirian. Sebelumnya sudah ada Ilhan Omar di Kongres, dan Zohran Mamdani yang bersuara di panggung politik kota metropolitan New York.

Bagi saya, terpilihnya mereka bukan sekadar urusan menang pemilu. Ada pesan yang lebih dalam: publik di sana mulai menaruh harapan pada suara-suara minoritas untuk menyikapi kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang ‘ugal-ugalan’, terutama di masa kepemimpinan Donald Trump saat ini.

Ketiganya seakan menjadi saksi sejarah bergesernya pandangan warga di Negeri Paman Sam terhadap umat Islam, yang sejak tragedi 11 September 2001, posisinya selalu disudutkan dan dicurigai.

Kehadiran tiga tokoh ini membawa angin segar. Mereka seperti oase di tengah gurun, memberi harapan untuk melawan penindasan atas dasar kemanusiaan. Dan yang membuatnya istimewa, mereka tidak melawan dari luar, tetapi bersuara dan melawan dari dalam sistem, di negeri jantung kapitalisme dunia.

Lihat saja di panggung parlemen, Ilhan Omar tidak pernah gentar berhadapan langsung dengan Donald Trump. Sebagai anggota Kongres dari Minnesota, perempuan berjilbab keturunan imigran Somalia ini kerap melontarkan kritik tajam di setiap dengar pendapat. Sikap kritisnya terhadap kebijakan Israel dan Palestina membuatnya kerap berhadapan dengan politikus konservatif, termasuk Donald Trump.

Tak pelak ini membuat Trump geram, lewat akun media sosialnya, ia beberapa kali menyerang Omar dengan berkata: “She is a constant complainer who hate the USA, knows everything there is to know. She should be in jail, or even a worse punishment, sent back to Somalia.”

Alih-alih menjawab substansi kritik, Trump justru menyerangnya secara pribadi dengan pernyataan yang bernada rasis. Namun, dari sinilah publik mulai tahu bahwa ada figur muslim yang berani melawan kebijakan dengan argumentasi, tanpa takut intimidasi.

Jika Ilhan Omar bersuara dari kursi legislatif, Zohran Mamdani memilih jalur eksekutif. Ia memenangi pemilihan Wali Kota New York City setelah mengalahkan kandidat yang didukung Trump. Kemenangan Mamdani di 2025 ini meruntuhkan hegemoni sejarah politik di Negeri Paman Sam.

Sikapnya soal Palestina paling menyita perhatian. Mamdani secara terbuka menyatakan akan menegakkan surat perintah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Benjamin Netanyahu jika datang ke New York.

Pernyataan itu langsung mengundang reaksi Trump. Terlebih lagi lewat akun Truth Social, Trump menegaskan: “Netanyahu tidak akan ditangkap, dalam bentuk atau cara apa pun, selama berada di Amerika Serikat.”

Mamdani kemudian menyadari bahwa kewenangan itu tidak sepenuhnya ada di tangannya sebagai walikota. Namun, desakannya tetap menggema. Bahkan Amnesty International ikut mendukung seruan tersebut. Bagi warga New York, ini memberikan nuansa baru: seorang pemimpin kota metropolitan, urat nadi transaksi finansial dunia, berani bersuara soal Palestina tanpa takut kehilangan dukungan.

Lalu yang terbaru, ada Abdul El-Sayed. Dokter epidemiologi ini melenggang ke Senat setelah mengalahkan lawan-lawannya yang didukung dana besar dari jaringan AIPAC, baik di primary Demokrat maupun di pemilihan umum.

Hasil yang diperoleh El-Sayed lagi-lagi membuat Trump meradang. Kemenangan ini seakan menampar dan mempermalukan Trump, yang secara terbuka sering melontarkan ejekan terhadap El-Sayed karena sikap anti-Israel tersebut.

Dalam orasi kampanyenya di Detroit dan Flint, El-Sayed berkali-kali menegaskan: kalau mau melawan Trumpism, kita harus punya keberanian untuk jujur melihat genosida di Gaza.

Pernyataan El-Sayed ini tak pelak membuat Donald Trump melontarkan serangan balik dalam sebuah rapat akbar di Michigan. Trump menyebut El-Sayed harus melewati detektor logam untuk memasuki gedung Senat, bahkan menjulukinya sebagai seorang jihadis:

“I’m here to keep a Jihadist Muslim Brotherhood member from becoming a United States senator.”

Serangan bernuansa islamofobia ini sengaja dilempar untuk pembunuhan karakter di tengah tensi politik dalam negeri AS yang sedang mendidih.

Namun, alih-alih surut atas pernyataan yang bernada cemoohan itu, justru semakin menebalkan tekad El-Sayed untuk menentang kebijakan luar negeri Trump.

Setelah kemenangannya dalam pemilihan Senat AS Michigan, ia menegaskan akan berdiri untuk hak anak-anak Palestina agar tumbuh dengan aman di tanah leluhur mereka, tanpa dibunuh oleh senjata yang dibiayai oleh wajib pajak Amerika.

El-Sayed menambahkan bahwa percaya pada hak yang sama dan hak semua orang untuk perdamaian, martabat, dan kemandirian bukanlah kebencian, tetapi itu adalah wujud dari cinta dan kemanusiaan yang paling dasar.

Kemenangan El-Sayed ini menjadi preseden penting, bahwa mengkritik kebijakan Israel tidak otomatis membuat seorang kandidat kehilangan dukungan dalam pemilihan di negara yang mayoritas penduduknya non muslim.

Meski berseberangan dengan kebijakan pemerintah AS dan kerap menjadi sasaran serangan politik, ketiganya tetap menunjukkan bahwa suara berbeda dari kelompok minoritas masih memiliki ruang di tengah masyarakat Amerika.

Di sinilah, ketiga nama ini membuktikan satu hal: suara kebenaran tidak harus datang lewat Sidang Umum PBB. Ia bisa lahir dari lorong-lorong Kongres, dari Balai Kota New York, hingga panggung kampanye di Michigan. Di saat banyak yang memilih diam demi kepentingan, mereka memilih bicara demi kemanusiaan.

Inilah pelajaran paling sederhana dari Negeri Paman Sam: suara kebenaran bisa lahir dari mana saja, asalkan ada keberanian untuk mengucapkannya. (*)

 

—

Sumber Referensi:
¹ CNN Indonesia. “Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim Pertama New York yang Pro-Palestina”. 6 November 2025
² Kompas.com. “Zohran Mamdani Menang Pilkada New York, Janji Tangkap Netanyahu Jika ke AS”. 24 Juli 2026
³ Detik.com. “Trump: Netanyahu Tak Akan Ditangkap Selama di Amerika Serikat”. 22 Juli 2026
⁴ Tempo.co. “Amnesty International Desak Negara-negara Tegakkan Surat Perintah Penangkapan ICC”. 25 Juli 2026
⁵ CNBC Indonesia. “Sejarah! Tekuk Tim Trump, Pria Ini Jadi Muslim Pertama Lolos Senat AS”. 5 November 2026
⁶ Antara News. “Ilhan Omar Terus Kritik Kebijakan AS terhadap Israel”. 15 Maret 2024
⁷ Liputan6.com. “Profil Ilhan Omar, Politisi Muslim Keturunan Somalia di Kongres AS”. 20 September 2023
⁸ Reuters / The New York Times, dikutip Newsmax & Zetik. “AIPAC dan Super PAC Afiliasinya Menggelontorkan Puluhan Juta Dolar untuk Mendukung Haley Stevens di Primary dan Mike Rogers di Pemilihan Umum Michigan”. Oktober 2026

Tinggalkan Balasan

Search