Pakar Pendidikan Umsida Sebut Profesi Guru adalah Panggilan Jiwa

Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr. Septi Budi Sartika, M.Pd.
www.majelistabligh.id -

Kebijakan pengetatan formasi guru menuai kekhawatiran terkait masa depan lulusan sarjana pendidikan. Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr. Septi Budi Sartika, M.Pd., menegaskan bahwa tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan sekadar regulasi, melainkan kejujuran dan faktor passion dalam mengajar.

Menurut Dr. Septi, karut-marut persoalan pendidikan di Indonesia tidak akan pernah selesai jika manipulasi data dan evaluasi pembelajaran yang tidak jujur terus dibiarkan. “Kalau kita mau jujur, sebetulnya (perbaikan) itu bermula dari gurunya. Apakah pembelajaran yang dilakukan sudah sesuai dan benar-benar meningkatkan pemahaman siswa?” ujarnya.

Salah satu poin krusial yang disoroti Dr. Septi adalah pelaksanaan remedial di sekolah yang sering kali kehilangan esensinya. Jangankan memberikan pendalaman materi kepada siswa yang belum paham, remedial kerap kali hanya menjadi formalitas pengulangan soal ujian demi mengejar target nilai angka.

“Yang seharusnya belum tuntas itu kadang ‘dituntas-tuntaskan’. Yang kurang malah dilebih-lebihkan. Kalau seperti itu terus, pendidikan kita mau dibawa ke mana?” kritik Dr. Septi.

Ia menambahkan, data pendidikan yang dilaporkan secara jujur sangat penting untuk mempermudah pengambilan kebijakan, baik di tingkat sekolah maupun pemerintah. Oleh karena itu, kepala sekolah, pengawas, hingga dinas pendidikan wajib memastikan bahwa data yang dilaporkan benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Menjadi Guru itu Passion

Lebih lanjut, Dr. Septi mengingatkan bahwa profesi guru harus didasari oleh panggilan hati (passion), bukan sekadar pelarian untuk mengejar gelar sarjana atau status Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia menilai, hilangnya rasa cinta terhadap profesi ini menjadi akar penyebab munculnya berbagai kasus pelanggaran oknum guru yang viral di media sosial belakangan ini.

“Menjadi guru itu memang dari hati. Ada rasa senang mengajar dan berbagi ilmu. Kalau tidak punya passion, itu yang berbahaya,” tegas dosen Prodi Pendidikan IPA tersebut.

Meski seleksi formasi makin ketat, Doktor lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini optimistis minat generasi muda untuk menjadi pendidik tidak akan surut. Banyak mahasiswa yang awalnya masuk jurusan pendidikan karena ketidaksengajaan, namun akhirnya jatuh cinta pada profesi ini setelah menjalani proses perkuliahan dan beradaptasi.

Mengenai ketatnya persaingan ke depan, Dr. Septi mengakui bahwa lulusan sarjana pendidikan harus bersiap menghadapi seleksi yang jauh lebih kompetitif dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Namun, ketatnya formasi ini bukan berarti program studi pendidikan harus ditutup paksa. Langkah yang jauh lebih mendesak adalah upaya peningkatan kualitas lulusan agar relevan dengan kebutuhan zaman.

Pemerintah sendiri dinilai sudah berjalan di jalur yang tepat dalam mendongkrak kualitas akademik pengajar. Salah satunya melalui standardisasi minimal pendidikan S1/D4, integrasi data lewat Dapodik, hingga penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Bagi guru senior yang belum sarjana, pemerintah juga memfasilitasi bantuan studi lanjut ke jenjang S1 sebelum menempuh PPG.

Sebagai penutup, Dr. Septi berpesan agar para lulusan pendidikan saat ini tidak hanya berpangku tangan mengandalkan formasi ASN. “Lulusan pendidikan perlu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi dan kompetensi tambahan agar mampu bersaing di berbagai sektor dunia pendidikan modern,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search