Beberapa pekan ini, ruang digital diramaikan dengan perbincangan antar Gen-Z soal tradisi tahlilan. Tiap kali muncul unggahan di beranda platform media sosial, hampir selalu banjir komentar.
Menariknya, jika selama ini terasa menjadi monopoli ulama fikih, kini perlahan berubah. Bedanya, yang dibahas oleh Gen-Z bukan soal hukumnya: perbuatan sunnah atau bidah, tradisi yang perlu dilestarikan atau tidak, melainkan langsung pada dampaknya: seputar beban sosial ekonomi.
Pertanyaan yang kerap muncul dalam perbincangan adalah: bagaimana rasanya menjadi keluarga yang sedang berduka, tetapi disibukkan dengan tradisi jamuan?
Gen-Z adalah generasi rentang tahun 1997 sampai dengan 2012. Sebagian mereka tumbuh besar menjadi remaja di era digital. Mereka memperoleh penanaman nilai-nilai keagamaan, bukan hanya dari orang tua atau para guru, tetapi juga melalui media lain. Lewat layar gawai, mereka terbiasa mencari tahu dengan bertanya, membandingkan, dan mencari jawaban sendiri.
Dari kebiasaan itulah, ketika mereka melihat tradisi yang terasa memberatkan, mereka tak diam. Mereka langsung bersuara dengan cara memviralkannya.
Mereka lahir dan tumbuh dalam kondisi ekonomi nasional yang tidak baik-baik saja. Hampir setiap hari, mereka melihat orang tua sendiri harus bekerja lembur sampai larut malam demi mencari penghasilan tambahan, mengorbankan waktu bersama keluarga.
Tragisnya, penghasilan tambahan yang dikumpulkan untuk kebutuhan masa depan sekolah anak perlahan tergerus seiring kabar duka datang. Uang itu harus disisihkan untuk keperluan rangkaian acara tradisi kematian.
Sebagai anggota keluarga, Gen-Z merasakan langsung situasi yang tidak kondusif: kesedihan belum kering, juru tagih sudah di depan pintu. Duka dan terkurasnya uang tabungan datang di saat bersamaan.
Memang tidak bisa menggeneralisasi bahwa semua Gen-Z memiliki latar belakang ekonomi yang sama. Begitu juga pandangan mereka soal tahlilan, bisa jadi beragam. Meskipun demikian, ada satu kesamaan prinsip: berduka adalah waktu untuk saling menguatkan, bukan saling membebani.
Di sinilah, menurut Gen-Z, pentingnya memaknai agama bukan sekadar ajaran yang harus ditelan bulat-bulat tanpa bertanya. Mereka ingin tahu hikmah di baliknya, juga ingin tahu kemaslahatannya. Ini tidak dimaksudkan menolak, tetapi bentuk keinginan menjalankan ajaran agama sesuai syariat.
Mengapa ini penting? Sebab, mereka merasa ikut bertanggung jawab pada keluarga yang masih harus dihidupi setelah kepergian salah satu orang yang mereka sayangi. Menurut mereka, sebuah tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun, semestinya memberikan dampak positif bagi ketenangan dan ketentraman hati keluarga, bukan malah menambah beban pikiran.
Sebenarnya tidak sedikit dari mereka kerap berada di barisan paling depan saat ada keluarga berduka. Ikut merawat jenazah, menjadi ‘seksi sibuk’ dalam urusan tamu yang sedang takziah, bahkan tidak segan turut hadir dalam acara doa bersama. Mereka tidak menolak doanya. Yang mereka tolak adalah beban dan rasa ‘wajib’ yang menyertainya.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan orang yang sedang berduka karena kehilangan anggota keluarga, justru dibebani urusan dapur. Di suasana memilukan ini, mereka masih sibuk menghitung biaya jamuan yang harus disiapkan nanti malam.
Seharusnya yang berduka itu yang dikuatkan, dan yang berduka itu yang dibantu. Logikanya, bila tidak bisa membantu meringankan, setidaknya tidak membebani orang yang sedang berduka.
Namun yang terjadi sebaliknya. Ada komitmen menjaga tradisi yang tidak tertulis: selama beberapa hari ke depan, ditambah hari-hari lainnya, keluarga “wajib” mengundang tetangga untuk acara kirim doa dengan menyiapkan jamuan.
Memang ada yang berpendapat berdasarkan pengalaman, jika itu sifatnya hanya sukarela, apalagi bahan-bahan pokok kebutuhan acara sudah disediakan hasil dari gotong royong sumbangan warga.
Namun masalahnya, kalau tidak diadakan takut jadi omongan sekampung. Apalagi sumbangan dana atau bahan pokok dari warga tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan. Akhirnya, bagi keluarga yang sedang tidak punya apa-apa, terpaksa mencari pinjaman. Semua itu dilakukan demi menjaga perasaan tidak enak pada tetangga.
Lebih ironis lagi, masih ada yang menganggap wajar jika yang terkena musibah itu sibuk melayani warga yang sudah bersedia membantu pengurusan jenazah. Ini sebagai bagian balas budi. Seolah-olah perlu timbal balik yang harus dibayar dengan cara menyajikan makanan. Padahal menolong orang dalam duka tidak ada kaitannya dengan nasi kotak.
Keresahan mereka ini, mendapatkan respons dari sesama Gen-Z. Di kolom komentar, banyak yang menyarankan agar saat ada keluarga terkena musibah, sebaiknya mencari rujukan pada “paham keagamaan” yang lebih menekankan kesederhanaan syariat dalam keadaan berduka.
Malah sebagian mereka yang memiliki latar belakang keluarga Muhammadiyah berbagi pengalaman saat terjadi musibah kematian di keluarganya.
Di sinilah kemudian, titik temu perbincangan itu dengan paham Muhammadiyah. Karena organisasi ini memang menganjurkan kesederhanaan dalam urusan kematian. Tidak ada hidangan yang diwajibkan, dan tidak ada rasa tidak enak atau gengsi jika tidak melakukannya.
Mendoakan mayit memang tuntunan syariat agama. Tapi tidak ada keharusan membebani keluarganya dengan acara kenduri berhari-hari.
Bagi Muhammadiyah, mendoakan orang yang meninggal bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa harus memberatkan keluarga yang berduka. Justru yang utama adalah doa anak shaleh, amal jariyah, dan kehadiran tetangga yang menguatkan, bukan yang menuntut suguhan.
Karena itu tidak heran jika banyak Gen-Z merasa menemukan jawabannya saat membaca atau mendengar pandangan paham Muhammadiyah. Bukan karena ingin meninggalkan tradisi, tetapi karena ingin menjalankan syariat agama dengan cara yang tidak menambah luka di atas duka. (*)
