Para rasul dalam berdakwah seringkali dituduh mencari popularitas guna meraih kekuasaan. Padahal para nabi berdakwah secara ikhlas, agar kaumnya mengagungkan Allah semata, dan mengabdikan diri kepada-Nya. Ajakan tulus ikhlas kerap ditanggapi dengan tuduhan-tuduhan yang tidak adil terus berulang dan dialami para penyeru kebenaran. Tuduhan itu muncul karena kehabisan akal dalam menghadapi argumentasi Nabi yang lurus dan konsisten. Oleh karenanya, mereka mencoba membalikkan narasi dengan menuduh beliau berambisi pada kekuasaan duniawi.
Tuduhan Palsu
Tuduhan mencari popularitas dan kekuasaan terhadap seruan para rasul itu bukan sekadar fitnah kosong, tetapi sebuah strategi untuk melemahkan kredibilitas para utusan Allah di mata masyarakat. Sebagaimana dicatat dalam Al-Qur’an, para penentang dakwah seringkali menuduh para rasul terdahulu hendak merebut kedudukan atau mengusir mereka dari tanah air. Firman Allah mengabadikan tuduhan yang diarahkan kepada Musa dan Harun :
قَالُوٓاْ إِنۡ هَٰذَٰنِ لَسَٰحِرَٰنِ يُرِيدَانِ أَن يُخۡرِجَاكُم مِّنۡ أَرۡضِكُم بِسِحۡرِهِمَا وَيَذۡهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ ٱلۡمُثۡلَىٰ
Mereka berkata, “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya, dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.” (QS. Ţāhā : 63)
Menuding dakwah tauhid sebagai ambisi politik. Hal ini juga menimpa Nabi Muhammad. Para pemuka Quraisy menyebut beliau hanya manusia biasa yang ingin lebih mulia dari kaumnya. Allah merekam tuduhan tersebut dalam firman-Nya :
فَقَالَ ٱلۡمَلَؤُاْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ مَا هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيۡكُمۡ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةٗ مَّا سَمِعۡنَا بِهَٰذَا فِيٓ ءَابَآئِنَا ٱلۡأَوَّلِينَ
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (QS. Al-Mu’minūn : 24)
Tuduhan mencari kedudukan merupakan bentuk defensif kaum penentang, yang merasa terancam oleh pesan tauhid. Mereka menyadari, jika ajaran Nabi diterima, maka struktur kekuasaan, sistem ekonomi berbasis berhala, dan dominasi sosial mereka akan runtuh. Dengan kata lain, penolakan mereka lebih dilandasi oleh kepentingan duniawi ketimbang kebenaran.
Oleh karena itu, tuduhan “ambisi dunia” terhadap rasul sejatinya merupakan cermin ketidakmampuan kaum kafir menghadapi kekuatan moral dan logika dakwah Islam. Para rasul justru menunjukkan konsistensi dan keikhlasan. Nabi Muhammad pernah menolak tawaran harta, tahta, dan wanita yang pernah diajukan Quraisy sebagai imbalan agar berhenti berdakwah.
Namun keteguhan Nabi Muhammad dalam berdakwah tercermin jelas dengan merespon secara tegas. Hal ini sebagaimana penegasan Nabi Muhammad sebagaimana sabda beliau berikut :
وَاللَّهِ يَا عَمِّ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ
“Wahai paman, demi Allah! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, aku tidak akan meninggalkannya.” (HR. Ibn Hisyam)
Ikhlas Berdakwah
Fenomena tuduhan terhadap Nabi Muhammad sebagai sosok yang mengejar kekuasaan sejatinya tidak berhenti pada masa lalu. Pola serupa masih berulang dalam konteks dakwah Islam kontemporer. Banyak ulama dan dai yang mengajak masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai tauhid, keadilan sosial, dan akhlak Qur’ani justru dituduh memiliki agenda politik atau haus popularitas.
Di berbagai belahan dunia misalnya, sejumlah pemimpin agama yang karismatik ketika menyampaikan kritik sosial keagamaan sering dicap sebagai aktor politik terselubung. Setiap pesan moral yang menyentuh isu keadilan sosial, korupsi, atau ketidakadilan ekonomi kerap dipelintir seakan-akan itu bagian dari manuver menuju kekuasaan. Tidak sedikit pula dai yang ketika memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat dituding “membangun basis massa” untuk kepentingan politik praktis, padahal esensi dakwahnya adalah membangunkan kesadaran umat.
Kasus serupa juga terjadi di dunia internasional. Di beberapa negara Muslim, ulama yang menyerukan penegakan nilai keadilan, melawan tirani, atau menolak kebijakan yang zalim, sering dicurigai sebagai oposisi politik. Tuduhan itu pada dasarnya mencerminkan kecemasan penguasa yang merasa legitimasi mereka terguncang oleh kekuatan moral dakwah.
Jika kita cermati, pola tuduhan ini identik dengan apa yang dialami Nabi Muhammad. Dakwah tauhid dianggap ancaman karena mengguncang struktur kekuasaan yang mapan. Demikian pula, para dai masa kini yang menegakkan amar ma‘ruf nahi munkar sering disalahpahami, seolah-olah dakwah mereka adalah jalan menuju kursi kekuasaan. Padahal, sebagaimana Nabi, mayoritas dai ikhlas berdakwah demi menegakkan kebenaran, bukan demi popularitas atau jabatan.
Dengan demikian, tuduhan terhadap Nabi Muhammad sebagai sosok yang mencari kekuasaan hanyalah strategi kaum penentang untuk melemahkan dakwah. Tuduhan serupa masih diwariskan dalam sejarah dakwah hingga kini, di mana para dai dituding berpolitik ketika menyuarakan kebenaran. Narasi ini memperlihatkan bahwa perjuangan dakwah selalu menuntut keteguhan hati, keikhlasan, dan kesabaran menghadapi fitnah. Justru, tuduhan semacam itu dapat dipandang sebagai bukti bahwa dakwah menyentuh aspek paling mendasar dari kehidupan manusia, yakni kekuasaan, keadilan, dan kebenaran.
Dakwah Nabi bukanlah sarana mencari popularitas atau kekuasaan. Justru beliau menolak segala tawaran duniawi demi menjaga kemurnian risalah. Hal ini relevan untuk para penyeru kebenaran. Mereka yang dituduh mengejar kekuasaan sebenarnya sedang mengikuti jejak dakwah Nabi. Mereka menyuarakan kebenaran walaupun dibayar dengan fitnah dan tuduhan. Tuduhan semacam itu justru menjadi bukti bahwa dakwah menyentuh kepentingan strategis yang selama ini dipertahankan oleh para pemegang kuasa.
Karena itu, sebagaimana Nabi menolak harta, tahta, dan wanita demi tegaknya tauhid, para penyeru kebenaran masa kini pun dituntut untuk meneguhkan keikhlasan dan kesabaran. Tuduhan duniawi hendaknya tidak melemahkan semangat dakwah, tetapi menjadi pengingat bahwa jalan kebenaran selalu penuh ujian.
Surabaya, 15 September 2025
