Parameter Hawa Nafsu dan Pembelokan Terhadap Kebenaran   

Parameter Hawa Nafsu dan Pembelokan Terhadap Kebenaran   
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Manusia yang berbuat menyimpang dari kebenaran, pada umumnya menjadikan hawa nafsu sebagai parameter kebenaran. Ketika hawa nafsu sudah menjadi parameter kebenaran,  maka semua perbuatan tidak lagi mengikuti aturan yang telah disepakati. Bahayanya ketika pelaku yang menjadikan hawa nafsu sebagai tolok ukur, maka mereka menganggap bahwa keadaannya tetap baik-baik saja. Bahkan dalam konteks beragama, ketika di akhirat mereka menganggap dirinya seperti orang-orang beriman. Persangkaan ini jelas menyimpang karena orang-orang beriman akan diperlakukan Allah dengan baik. Orang-orang beriman berdasarkan kebenaran pada nilai Al-Qur’an dan Hadits, sehingga hidupnya akan mendapatkan balasan terbaik. Oleh karena yakin akan mendapatkan balasan maka mereka senantiasa berbuat baik.

Parameter Hawa Nafsu

Dalam konteks beragama, perbuatan menyimpang yang dilakukan manusia pada umumnya berakar pada memperturutkan hawa nafsu. Hawa nafsu mengarahkan pada perbuatan bebas tanpa batas dan aturan yang ditetapkan Allah. Namun anehnya, ketika memperturutkan hawa nafsu, mereka yakin tidak akan mendapatkan balasan buruk. Mereka menganggap keadaannya sama seperti orang-orang beriman.

Keyakinan seperti ini jelas persangkaan yang menyimpang. Karena orang-orang beriman akan menikmati buah atas perbuatan baiknya saat di dunia. Perlakuan yang baik dari Allah, karena mereka berbuat baik mengikuti aturan Al-Qur’an dan Hadits. Orang-orang beriman sangat yakin bahwa seluruh perbuatan baiknya akan mendapatkan balasan berlipat ganda.

Sementara orang-orang yang berbuat menyimpang bernasib buruk. Oleh karenanya, persangkaan yang salah ketika pelaku kejahatan akan mendapatkan balasan yang sama sebagaimana yang diterima orang-orang beriman. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَـرَحُوا السَّيِّاٰتِ اَنْ نَّجْعَلَهُمْ كَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ سَوَآءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَا تُهُمْ ۗ سَآءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu.” (QS. Al-Jasiyah : 21)

Persangkaan yang salah itu tidak lain karena adanya angan-angan kosong yang dipandu oleh hawa nafsu. Hawa nafsu bukan hanya membangun kesadaran kosong tetapi juga mengarahkan manusia ke jalan menyimpang, sehingga mengunci hati dan matanya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah : 23)

Hawa nafsu pada umumnya mendasarkan pada kepentingan atau keinginan, sehingga sulit diukur karena bersifat relatif-subyektif. Tidak salah apabila kepentingan terganggu maka ketika datang kebenaran akan dilawan. Kisah para nabi yang mengalami perlawanan karena berhadapan dengan kaumnya yang mendasarkan pada kepentingan hawa nafsu.

Penolakan Kebenaran

Ketika hawa nafsu menjadi panduan, maka akal sehatnya pun akan terpengaruh untuk menjustifikasinya. Kebaikan apa pun yang disampaikan akan ditolaknya, meskipun dikatakan dari Allah. oleh karenanya, ketika datang peringatan dari Allah berupa pembacaan ayat-ayat-Nya, maka langsung menolaknya. Penolakan itu disebabkan oleh pertimbangan hawa nafsu yang berbasis kepentingan duniawi. Mendapatkan ancaman neraka sekalipun tidak membuatnya bergeming ketika hawa nafsu sudah menjadi parameter. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya  :

ذٰلِكُمْ بِاَ نَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ هُزُوًا وَّغَرَّتْكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا  ۚ فَا لْيَوْمَ لَا يُخْرَجُوْنَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُوْنَ

Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan, dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia”. Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertobat.” (QS. Al-Jasiyah : 35)

Pertimbangan hawa nafsu begitu besar pengaruhnya, dimana ketika datang kebenaran untuk memperbaiki diri atas kesalahan-kesalahannya, maka dengan serta merta menolaknya. Hawa nafsu bisa mempengaruhi dan memoles perilaku buruk terlihat baik tanpa merasa ada rasa salah. Dengan kata lain, hawa nafsu telah menjadi pedoman dan rujukan, sehingga ketika datang peringatan sebaik apapun langsung ditolaknya.

Sementara bagi orang beriman yang menjadikan Al-Qur’an dan keteladanan Nabi Muhammad sebagai rujukan dan pedoman, maka mengikuti dua kunci itu diyakini sebagai jalan keselamatan sekaligus pemandu hidup yang sempurna. Bagi orang beriman, Al-Qur’an diyakini sebagai kitab suci yang memberi rahmat bagi siapapun yang mempercayainya. Hal ini sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an berikut :

هٰذَا بَصَآئِرُ لِلنَّا سِ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

(Al-Qur’an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al Jatsiyah : 20 )

Sebagai kitab suci yang mengantarkan jalan lurus, Al-Qur’an diyakini tidak akan mendatangkan kerugian. Bahkan Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang akan memberi keselamatan di dunia mapun di akhirat. Sebagai kitab yang memberi panduan yang jelas dan tegas, Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu yang baik dan buruk, yang lurus dan menyimpang, serta memaparkan bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan tanpa mendhalimi pelakunya.

Sementara bagi pelaku yang memperturutkan hawa nafsu tidak akan mengenal baik buruk. Kepentingan untuk memuaskan dirinya menjadi dasar pertimbangan utama. Hawa nafsu mengarahkan dan mempengaruhi pelakunya untuk mencapai goal tanpa mengindahkan nilai-nilai kebenaran.

Surabaya, 24 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Search