Pelajaran dari Al-Maghdhūb ‘Alaihim: Kritik Al-Qur’an atas Karakter Yahudi dan Kesaksian Israel Shahak

Pelajaran dari Al-Maghdhūb ‘Alaihim: Kritik Al-Qur’an atas Karakter Yahudi dan Kesaksian Israel Shahak
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fatah Sidoarjo & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Setiap muslim sadar atau tidak minimal membaca surat Al-Fātiḥah minimal tujuh belas kali sehari dalam salat. Pada akhir surat tersebut, kita memohon:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(Tunjukilah kami ke jalan) orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS. Al-Fātiḥah: 7)

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa al-maghdhūb ‘alaihim (yang dimurkai) adalah Yahudi, sedangkan adh-āllīn (yang sesat) adalah Nasrani. Rasulullah sendiri menegaskan dalam sebuah hadits:

الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ، وَالضَّالُّونَ النَّصَارَى

Al-maghdhūbi ‘alaihim adalah Yahudi, dan adh-āllīn adalah Nasrani.” (HR. Ahmad, Tirmidzī, Ibnu Ḥibbān; sanad hasan)

Dengan demikian, umat Islam setiap hari diingatkan untuk tidak menempuh jalan orang-orang yang tahu kebenaran tetapi enggan mengamalkan (contohnya Yahudi), dan tidak pula menempuh jalan orang yang bersemangat tanpa ilmu (contohnya Nasrani).

Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an banyak mengulas perilaku Bani Israil sebagai pelajaran universal, bukan sekadar catatan sejarah. Beberapa ciri yang menonjol antara lain:

1. Mengingkari nikmat Allah (QS. Al-Baqarah: 61).

2. Mengubah dan menyembunyikan wahyu (QS. Al-Baqarah: 79).

3. Keras kepala terhadap perintah Allah (QS. Al-Baqarah: 67–71).

4. Fanatisme golongan dan merasa paling benar (QS. Al-Baqarah: 111).

5. Membunuh para nabi dan menolak risalah (QS. Al-Baqarah: 91; Ali ‘Imran: 21).

Ulama tafsir menekankan bahwa sifat ini berlaku universal—siapa pun yang berperilaku sama akan terkena celaan yang sama.

Sifat Rasis dan Eksklusivisme

Selain ciri-ciri di atas, Al-Qur’an juga menyinggung sikap fanatisme kesukuan yang melahirkan diskriminasi. Keyakinan bahwa mereka adalah bangsa pilihan (chosen people) membuat sebagian Yahudi menolak mengakui kesetaraan dengan bangsa lain.

Fenomena ini terlihat dalam praktik Zionisme modern: pembatasan hak warga Palestina, diskriminasi dalam akses air, pendidikan, dan tempat tinggal. Sikap ini sesuai dengan ayat:

وَقَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ

Dan mereka berkata: tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummiyyīn (non-Yahudi).” (QS. Āli ‘Imrān: 75)

Ayat ini menggambarkan rasisme teologis: sebagian Yahudi merasa boleh berlaku zalim terhadap non-Yahudi karena tidak menganggap mereka setara.

Kisah Prof. Israel Shahak

Kritik ini bahkan datang dari dalam komunitas Yahudi sendiri. Prof. Israel Shahak (1933–2001), seorang akademisi Yahudi dan aktivis hak asasi manusia di Israel, menceritakan sebuah pengalaman nyata dalam bukunya Jewish History, Jewish Religion:

Suatu hari, ia menyaksikan seorang non-Yahudi di Yerusalem mengalami kecelakaan listrik. Ia segera meminta bantuan kepada seorang Yahudi religius terdekat. Namun, orang tersebut menolak menolong dengan alasan: “Dia bukan orang Yahudi.”

Pengalaman itu mengguncang Shahak. Sejak saat itu, ia menulis banyak kritik terhadap eksklusivisme Yahudi dan diskriminasi yang dilegalkan secara sosial-religius dalam masyarakat Israel.

Kisah ini menegaskan kembali pesan Al-Qur’an bahwa rasisme dan diskriminasi adalah sifat tercela yang bisa menghapus nilai kemanusiaan.

Relevansi dengan Fakta Kontemporer

Kajian modern menunjukkan bahwa sifat-sifat yang dikritik Al-Qur’an masih relevan:

Manipulasi narasi: dominasi media pro-Israel dalam menutupi realitas Palestina.

Fanatisme eksklusif: ideologi Zionisme yang menempatkan Yahudi di atas bangsa lain.

Pengkhianatan perjanjian: berulang kali melanggar kesepakatan damai internasional.

Rasisme struktural: diskriminasi sistematis terhadap warga Palestina dan Arab-Israel.

Namun, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa tidak semua Yahudi demikian. Ada di antara mereka yang jujur, rendah hati, dan taat beribadah (QS. Āli ‘Imrān: 113–115).

Doa Al-Fātiḥah menuntun kita agar tidak mengikuti jalan orang-orang yang dimurkai Allah. Karakter Yahudi yang dikritik Al-Qur’an—kufur nikmat, manipulasi kebenaran, keras kepala, rasisme, dan fanatisme—adalah peringatan universal. Fakta kontemporer, termasuk kesaksian Prof. Israel Shahak, menunjukkan bahwa sifat tersebut masih dapat ditemukan dalam praktik Zionisme modern.

Pelajaran terpenting: jangan sampai umat Islam terjerumus dalam kesalahan serupa—mengetahui kebenaran tetapi enggan mengamalkannya, serta membiarkan fanatisme menutupi nilai kemanusiaan.

Daftar Pustaka

Al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Ma‘rifah.

Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aīm. Riyadh: Dār Ṭayyibah.

As-Sa‘dī, Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif.

Esposito, John L. Islam and Politics. Syracuse: Syracuse University Press, 1998.

Chomsky, Noam. The Fateful Triangle: The United States, Israel, and the Palestinians. London: Pluto Press, 2015.

Said, Edward. The Question of Palestine. New York: Vintage Books, 1992.

Shahak, Israel. Jewish History, Jewish Religion: The Weight of Three Thousand Years. London: Pluto Press, 1994.

Tinggalkan Balasan

Search