Pengajian Ahad Pagi di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gresik berlangsung khidmat dan penuh antusiasme jemaah, Ahad (5/4/2026). Lebih 1000 jemaah hadir.
Kegiatan ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Mukhadir yang melantunkan Surah Ali Imran ayat 133–138. Selanjutnya, Wakil Ketua PDM Gresik Bidang Majelis Tabligh, Ustaz Anas Thohir, menyampaikan sambutan pembuka sebelum memasuki acara inti.

Tepat pukul 06.44 WIB, pengajian utama dimulai dengan tema “Memahami Semangat Berkemajuan Muhammadiyah”. Ceramah disampaikan oleh Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Jatim Ustaz H. Afifun Nidlom, S.Ag, MPd, MH yang mengupas konsep Islam berkemajuan sebagai fondasi peradaban.
Dalam tausiyahnya, ia menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad SAW mengenali umatnya di hari kiamat. Menurutnya, tanda tersebut berasal dari cahaya yang terpancar dari bekas air wudu.
“Rasulullah mengenali umatnya dari cahaya wudu yang bersinar,” ujarnya di hadapan jemaah.
Ia juga menegaskan, Muhammadiyah kini telah hadir di sekitar 30 negara melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah. Hal ini, menurutnya, menuntut adanya kalender Hijriah global sebagai simbol kesatuan umat Islam dunia.
Lebih lanjut, ia mengingatkan, Islam sejak awal hadir sebagai agama pembebasan.
“Sejarah mencatat, kelompok pertama yang banyak menerima Islam adalah para budak, karena Islam selalu berupaya menghapus perbudakan,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, ia mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 110 tentang konsep khairu ummah atau umat terbaik, yakni mereka yang mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.
Ustaz Afifun juga memaparkan tiga pilar utama dalam membangun peradaban Islam berkemajuan.
Pertama, membangun keluarga sakinah sebagai basis pembentukan etika. Ia menekankan bahwa keluarga menjadi fondasi utama dalam melahirkan generasi berakhlak.
Kedua, memakmurkan masjid. Ia mengutip Surah At-Taubah ayat 18 yang menegaskan bahwa orang beriman adalah mereka yang aktif memakmurkan masjid.
Ketiga, membangun ekosistem ekonomi umat. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi jemaah merupakan kewajiban kolektif yang harus diperkuat melalui gerakan nyata, termasuk inisiasi koperasi masjid oleh Majelis Tabligh.
Selain itu, ia menyinggung peran strategis Muhammadiyah dalam menjawab persoalan umat, termasuk fatwa keagamaan yang kontekstual dan solutif, seperti kebolehan pembayaran dam di tanah air demi kemaslahatan yang lebih luas.
Menurutnya, Islam berkemajuan bukan hanya konsep, tetapi juga gerakan nyata yang berorientasi pada kemajuan di berbagai bidang, baik spiritual maupun material.
“Islam berkemajuan adalah proses tanpa akhir untuk mencapai kondisi unggul dalam kehidupan,” tegasnya.
Pengajian ini menjadi pengingat penting bagi warga Muhammadiyah untuk terus berperan sebagai problem solver dalam kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan global. (ana aziza)
