Pengajian Ahad pagi kembali diselenggarakan SMK Muhammadiyah 7 (Mutu) Gondanglegi Malang pada Ahad (4/10/2026). Program yang dikemas khusus untuk guru dan karyawan beserta keluarga ini bukan hanya sekedar momen berkumpul keluarga besar SMK MUTU, namun juga sebagai upaya pembinaan rohani dimotori oleh tim Ismuba SMK mutu.
Mengusung tema “Harmoni Cinta Kinerja & Keluarga Perindu Surga” ini berlangsung di titanium auditorium hall lantai 7, pengajian menghadirkan Suhadi Fadjaray, seorang motivator keluarga dan juga penulis buku parenthinking 4.B Amazing character Building sebagai keynote speaker.
Mengawali paparannya, Suhadi mengutip surat Al-Ghosyiah ayat 3-4 : bekerja keras lagi kepayahan ; Memasuki api yang sangat panas (neraka). Suhadi menjelaskan bahwa kontrol diri manusia adalah sumber daya yang terbatas. Ayat ini menjadi alarm keras bagi para pendidik.
“Kita berlindung kepada Allah agar proses mentransfer ilmu yang kita lakukan selama ini di sekolah maupun madrasah, tidak berujung pada kebangkrutan spiritual. Tanpa keikhlasan, niat, dan kepatuhan pada etika moral yang luhur, kerja keras kita disekolah berisiko hanya membuahkan rasa lelah di dunia dan ancaman siksa di akhirat,” jelasnya.
Keberhasilan pendidikan karakter, dimulai dari ibu. Karena ibu adalah madrasatul ula ( madrasah pertama) bagi keluarga. Sedangkan ayah sebagai kepala sekolah yang menghandle kepemimpinan di keluarga. Ia menjelaskan tidak mudah menjadi orangtua yang bisa menjadi tokoh panutan bagi anak-anak.
Mengutip hasil penelitian Harvard Grant Study, Suhadi menjelaskan, hasil dari penelitian longitudinal terpanjang dalam sejarah yang mengamati ratusan individu (termasuk tokoh sukses seperti John F. Kennedy) selama lebih dari 75 hingga 85 tahun.
Prediktor kesuksesan terbesar seseorang di masa depan bukanlah nilai akademis yang tinggi atau latar belakang finansial, melainkan kebiasaan sesederhana membantu pekerjaan rumah tangga (chores) sejak kecil. Oleh sebab itu, ia menjelaskan perlunya kerjasama orangtua dalam menahkodai keluarga menjadi sebuah keluarga yang utuh dan harmonis.
“Anak yang bermasalah tumbuh dari keluarga yang bermasalah. 80% anak itu meniru dari apa yang dikerjakan orangtua selebihnya 20% mereka mendengar,” paparnya.
“Jika ingin anak kita patuh dan sesuai apa yang kita harapkan, maka berikanlah contoh yang baik dimana mereka bisa melihat secara langsung visual aktornya,” imbuh Suhadi.
Hal yang paling krusial menurut Suhadi adalah kebahagiaan seorang ibu. Karena bahagia itu penting, jangan sampai paradoks ‘Malaikat’ di sekolah, ‘Singa’ di rumah itu ada di dalam keluarga kita. Hal ini sangat erat kaitannya dengan kondisi para ibu-ibu pekerja, khususnya di dalam forum ini kaitannya dengan profesi guru.
Setelah seharian menahan emosi di depan murid, guru rentan kehilangan kontrol emosi di rumah. Ia membeberkan, perlunya adanya buffer time (waktu jeda/transisi 10-15 menit saat tiba di rumah (misal: mandi, salat, atau minum teh bersama pasangan) sebelum mulai menyelesaikan urusan domestik.
Di sisi lain ia juga menyoroti pentingnya kehadiran “sosok” ayah di dalam keluarga. Bukan hanya sekedar pencari nafkah utama, sampai di rumah selesai tanggungjawabnya. Namun, seorang ayah sebaiknya juga “hadir” untuk keluarga.
“Tidak mudah menjadi ayah, silahkan hormati gurumu, ustadzmu di pondok karena mereka adalah murobbimu, namun ayah tetap murobbi utama di keluarga,” imbuh Suhadi.
Pentingnya peran ayah disampaikan Suhadi secara tegas dan lugas, ia menjelaskan, jika anak tidak bisa mengakses kasih sayang ayah, maka kecenderungan penyimpangan sosial besar terjadi. Oleh sebab itu ia membeberkan beberapa tips agar harmonisasi keluarga berjalan seimbang.
Pertama, Sinkronisasi Energi Rumah & Sekolah. Guru adalah profesi yang menguras energi psikologis. Jika rumah tangga konflik, performa mengajar hancur. Rumah harus menjadi tempat pengisian daya (recharging station). Rujukan QS. Ar rum : 21.
Kedua, Saling Menjaga Koridor Syariat di Era Digital. Jaga kehormatan dan batas pergaulan di sekolah (dengan rekan sejawat/wali murid) serta memastikan kehalalan nafkah. Rujukan QS. At tahrim : 6
Ketiga, Bentengi Keluarga dari Polusi Lingkungan (Lalai Ibadah & Distraksi Zaman). Rujukan QS. At – thaha : 132
Masalah karakter sering gagal diselesaikan karena orangtua mengobral nasihat dan sanksi, tetapi melupakan fondasi keteladanan.
“Keluarga sakinah adalah impian semua orang. Keluarga yang penuh kasih sayang. Namun tidaklah mudah, butuh bersama-sama. Tanpa integrasi dan sinergi bersama tidak akan terwujud karena sejatinya kebahagiaan itu diperjuangkan bersama-sama dan dinikmati bersama-sama,” ucapnya.
Dalam ulasan akhirnya, Suhadi memberikan pesan kepada seluruh jajaran guru dan karyawan agar memperlakukan anak sebagai amanah Allah yang wajib dijaga. Ia menganalogikan anak seperti berlian.
“Pandang anak sebagai ‘berlian’, maka di hari tua mereka akan memperlakukan kita sebagai ‘berlian’, bukan beban. Anak ‘berlian’ semestinya diasuh dengan cara ‘brilian’, bukan asal-asalan. Sungguh, pengasuhan terbaik tidak hadir dari kebetulan, tetapi dari kesadaran,” pungkasnya. (rizka sri wulandari)
