Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Ustaz Abdul Basith, Lc, MPdI mengajak umat muslim untuk mensyukuri nikmat persaudaraan. Nikmat ini seringkali banyak dilupakan hanya karena perbedaan memahami dalil agama.
“Sesuai tema acara ini mempererat ukhuwah, mewujudkan peradaban berkemajuan, maka mensyukuri nikmat persaudaraan harus terus kita jaga. Kita sering terjebak pada keinginan untuk menjadikan umat Islam dalam satu pemahaman, itu tidak mungkin. Perbedaan itu sunatullah, tapi yang penting bagaimana dalam perbedaan itu kita tetap menjaga persaudaraan,” ujar Ustaz Abdul Basith dalam pengajian Milad 1 Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran dan Halalbihalal PCM Buduran Sidoarjo, Ahad (12/4/2026).

Ustaz Basith lantas menyinggung keberadaan 4 imam mazhab fikih, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Mereka semua hafal Qur’an dan banyak hadis, namun perbedaan pemahaman di antara mereka tidak sampai mengganggu tali persaudaraan.
“Bukankah beliau beliau mengatakan, saya bisa salah bisa benar, kalau benar ambilah. Perkataan itu bukan beliau tidak paham akan masalah, tapi saking tawaduknya. Lha kita-kita ini siapa, Qur’an saja tidak hapal, tapi suka memperuncing perbedaan,” jelasnya.
Ia lantas mengingatkan bahwa perbedaan memahami agama itu sudah ada sejak agama ini lahir. Untuk itu ia mengajak warga muslim untuk tidak menghabiskan energi hanya untuk mempermasalahkan perbedaan. Sudah semestinya energi dihabiskan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Ustaz Abdul Basith mengingatkan keberadaan tokoh Yahudi yang menetap di Madinah dan sangat membenci persatuan kaum Muslimin. Shas bin Qais. Ia terkenal karena upayanya mengadu domba suku Aus dan Khazraj (kaum Anshar). Sampai hari ini pun masih ada pihak-pihak yang tidak suka jika umat Muslim di Indonesia sersatu. “Bisa jadi anak cucu Shas bin Qais masih hidup sampai ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut Ustaz Abdul Basith pun memberikan apreasi keberadaan Masjid Ar Royyan Buduran. Di usianya 1 tahun, kiprah masjid Ar Royyan sudah berdampak kepada warga sekitar. Masjid yang dikenal sebagai “Ramah Musafir” telah menjadi tempat singgah ratusan musafir dari berbagai daerah dengan beragam permasalahannya.
Bersamaan dengan acara kajian juga dibarengi kegiatan pemeriksaan kesehatan maupun donor darah. Bahkan juga ada makan bersama. “Artinya takmir sudah memahami apa yang dibutuhkan warga sekitar. Karena memang begitulah keberadaan masjid, jadi Qorrota ayun, sedap dilihat, bikin tenang hati, hingga akhirnya banyak warga apapun motif, entah pribadi atau membantu dakwah akhirnya mau singgah di masjid,” jelasnya.
Ketua Takmir Masjid Ar Royyan Buduran Ustaz Ridwan Manan menyampaikan, beragam kegiatan sengaja dirangkai dalam peringatan Milad 1 masjid dengan tagline “Masjid Ramah Musafir”itu. Selain, donor darah, pemeriksaan kesehatan juga pentasyarufan (pendistribusian) zakat mal kepada warga yang berhak. “Kita juga menyediakan ratusan porsi makan siang usai kajian ini,” ujar Ridwan Manan yang juga Kepsek SMA Ponpes Al Fattah Sidoarjo ini. (ono)
