Berdakwah seringkali difokuskan pada generasi muda, padahal kelompok lanjut usia (lansia) adalah mad’u (sasaran dakwah) yang memiliki urgensi spiritual yang paling tinggi. Usia senja adalah fase penutup kehidupan, momen krusial untuk memperbaiki bekal dan mencapai husnul khātimah (akhir yang baik).
Islam memandang usia lanjut sebagai fase yang mulia dan terhormat, bahkan memuliakan mereka adalah bagian dari mengagungkan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak akan menerima argumen kepada seseorang yang Allah tunda ajalnya hingga mencapai 60 tahun.” (HR. Bukhari).
Dari hadis di atas, dapat dipahami bahwa setelah mencapai usia matang (sekitar 60 tahun), seorang muslim/muslimah sudah tidak punya alasan lagi untuk lalai dari ibadah. Ini adalah masa di mana peringatan dan nasihat harus menjadi prioritas. Pada usia tersebut, seseorang harus didampingi dan dipandu dalam beribadah sehingga meskipun sudah pikun, tetap dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya memuliakan orang tua yang muslim adalah bagian dari memuliakan Allah.” (HR. Abū Dāwūd).
Hadis di atas, memberikan pesan kepada kita untuk berdakwah kepada lansia. Berdakwah kepada para lansia harus didasari oleh sikap tawāḍu’ (rendah hati), penghormatan yang tinggi, dan kelembutan, karena kita sedang melayani seseorang yang dimuliakan oleh Allah.
Dakwah yang tepat bagi lansia berfungsi sebagai pendorong dan penawar hati yang rapuh di masa-masa akhir. Dakwah bagi lansia meliputi banyak aspek diantaranya; penyempurnaan ibadah, pelipur kesepian dan kekhawatiran, penguat akidah menjelang ajal, dan motivasi untuk beramal.
Secara umum, lansia cenderung memiliki rutinitas ibadah, oleh karenanya peran dakwah membantu mereka menyempurnakan kualitas (khusyuk), memperbaiki kesalahan fikih (taharah, salat dalam kondisi sakit), dan meluruskan niat.
Pada usia senja juga kerap dibarengi rasa sepi (ditinggal pasangan/teman) dan takut menghadapi kematian. Pada kondisi demikian, peran dakwah kepada mereka berfungsi sebagai terapi spiritual (dengan zikir dan doa) untuk menumbuhkan ketenangan (sakinah) dan harapan (rajā’) kepada rahmat Allah.
Pada saat-saat kelemahan fisik dan akal, lansia juga harus terus diperkuat akidahnya. Dakwah yang intensif pada mereka akan membantu untuk senantiasa mengingat tauhid dan syahadat, serta memohon husnul khātimah.
Metode dakwah kepada lansia tidak boleh disamakan dengan dakwah kepada remaja atau dewasa. Pendekatan harus fokus pada kenyamanan dan sentuhan batin. Ada tida metode dakwah yang tepat bagi kaum lansia yaitu; pertama, dakwah bi al-Ḥikmah dan Mau’iẓah Ḥasanah. Metode ini mengedepankan kelembutan dan kasih sayang; menggunakan bahasa yang santun, suara yang jelas (mengingat daya dengar menurun), dan penyampaian yang perlahan serta menghindari perdebatan (mujadalah) yang dapat membebani pikiran.
Kedua, metode dakwah Al-Manhaj Al-‘Aṭhifī, yaitu dari hati ke hati. Metode ini Lebih mengutamakan pendekatan sentimental (sentuhan emosi) daripada rasional-filosofis. Berikan perhatian, tanyakan kabar, dan tawarkan bantuan praktis sebelum memberi nasihat.
Ketiga, metode pengulangan (At-Takrār). Bentuknya Pengulangan dan Praktik. Mengingat daya ingat dan konsentrasi yang menurun, materi ibadah (misalnya: tata cara wudu atau salat sambil duduk) harus disampaikan secara berulang, bahkan disertai praktik langsung (simulasi).
Adapun materi dakwah yang disampaikan harus ringkas, jelas, dan fokus pada persiapan menuju akhirat. Beberapa materi yang tepat untuk lansia adalah fiqih ibadah lansia, misalnya hukum bersuci (tayamum), keringanan salat (duduk atau berbaring), dan ketentuan puasa bagi yang tidak mampu.
Kemudian, akhlak dan keluarga. Materi ini misalnya terkait dengan pentingnya berwasiat, memaafkan, menjaga lisan, serta peran mendoakan anak dan cucu sebagai amal jariyah yang tersisa.
Tak kalah penting adalah materi mengingat kematian. Materi ini memuat gambaran tentang kehidupan setelah mati, sakaratul maut yang berat, dan keindahan surga sebagai motivasi untuk memperbanyak istighfar dan taubat.
Berdakwah pada lansia agaknya masih kurang mendapat perhatian bila dibandingkan dengan dakwah kepada remaja atau kalangan muda. Padahal berdakwah kepada lansia adalah tugas mulia yang harus diemban dengan penuh kehormatan, kesabaran, dan kasih sayang. Di tangan para da’i, diharapkan kaum lansia dapat menemukan kembali semangat spiritual mereka, memaksimalkan sisa usia untuk bekal terbaik, dan menjemput janji Allah untuk husnul khātimah di akhir perjalanan hidupnya. (*)
