Pentingnya Istiqamah dalam Beribadah

Pentingnya Istiqamah dalam Beribadah
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
 Anggota MT PCM Merden dan Mahasiswa Sekolah Tabligh PWM Jateng 
www.majelistabligh.id -

Allah SWT menciptakan manusia tidak lain dan tidak bukan adalah untuk beribadah. Setiap perjalaan hidup manusia adalah saat untuk beribadah. Bahkan setiap desah nafas pun juga merupakan momen untuk berdzikir dan beribadah kepada Allah SWT. Baik ibadah secara mahdoh maupun ghoiru mahdoh.

Ibadah tersebut harus dilakukan secara kontinu dan istiqamah. Bukan ibadah yang sambil lalu atau seadanya waktu. Karena ibadah menuntut perjuangan dan pengorbanan baik waktu, tenaga, pikiran dan bahkan harta benda.

Istiqamah secara bahasa berarti teguh, lurus, dan konsisten. Dalam konteks ibadah, istiqamah adalah sikap mempertahankan ketaatan kepada Allah SWT secara berkesinambungan, tidak berbelok ke kanan atau ke kiri, baik dalam hati, lisan, maupun perbuatan, hingga akhir hayat. Ini adalah wasiat terbesar yang disampaikan Rasulullah SAW.

Pada suatu ketika seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu dalam Islam yang tidak perlu aku tanyakan lagi kepada siapapun selain engkau.” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah!” (HR. Muslim).

Intikamah dalam beribadah sangatlah penting. Oleh karenanya, istiqamah harus diupayakan hingga akhir hayat. Ada beberapa alasan mengapa istiqamah itu penting. Pertama,istiqamah adalah amalan yang paling dicintai Allah SWT. Istiqamah mengajarkan bahwa kualitas dan konsistensi lebih utama daripada kuantitas yang sesaat.

Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (kontinu) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Amalan kecil yang dikerjakan secara rutin, misalnya, shalat dhuha dua rakaat setiap pagi, atau membaca Al-Qur’an satu lembar setiap hari, jauh lebih bernilai di sisi Allah daripada ibadah besar yang hanya dilakukan sesekali, lalu ditinggalkan. Kontinuitas menunjukkan kesungguhan dan ketulusan hati hamba

Kedua, Istiqamah adalah bukti nyata dari kalimat syahadat yang diucapkan. Seseorang yang istiqamah adalah mereka yang telah menancapkan tauhid di hati, dan berusaha menyelaraskan setiap tindakan dengan perintah-Nya, sehingga amal ibadahnya tidak terputus atau rusak oleh godaan.

Allah SWT menjanjikan balasan yang luar biasa bagi hamba-Nya yang teguh di jalan kebenaran. Allah SWT akan menurunkan malaikat saat sakaratul maut pada orang yang istiqamah. Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (sambil berkata): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'” (QS. Fushilat: 30).

Ayat di atas dengan jelas menyebutkan bahwa istiqamah adalah kunci untuk menjadi Aṣḥābul Jannah atau penghuni surga.

Istiqamah itu berat, karena ia adalah pertarungan melawan hawa nafsu dan godaan setan. Namun, Allah menjadikannya mungkin dengan beberapa cara diantaranya:

1. Luruskan Niat (Ikhlas): Niatkan semua ibadah hanya karena mencari wajah Allah. Niat yang tulus adalah fondasi terkuat yang tidak akan goyah oleh pujian manusia atau godaan dunia.
2. Perbanyak Do`a: Hati manusia mudah berbolak-balik. Doa adalah senjata utama memohon keteguhan. Perbanyak do`a Nabi SAW: “Ya Muqallibal Qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.)
3. Mulai dari yang Kecil dan Mampu: Jangan memaksakan diri melakukan amalan besar hingga akhirnya putus di tengah jalan. Mulailah dari amalan yang paling ringan dan yakin bisa dilakukan secara konsisten, lalu tingkatkan seiring berjalannya waktu.
4. Lingkungan yang Mendukung: Bergaul dengan orang-orang saleh (ṣāliḥīn) dan aktif di majelis ilmu. Teman yang baik akan menjadi pengingat dan penyemangat saat iman sedang menurun (futur).
5. Tadabbur Al-Qur’an: Membaca dan merenungkan makna Al-Qur’an adalah cara Allah meneguhkan hati orang-orang beriman sebagaimana dinyatakan dalam al Qur`an surat An-Nahl: 102. Al-Qur’an adalah peta jalan menuju keistiqamahan.

Cara-cara tersebut dapat dilakukan secara perlahan namun pasti sehingga kelak dapat menjadi hamba yang istiqamah. Hamba yang dapat istiqamah dalam beribadah berarti ia dapat menikmati manisnya ibadah sehingga ibadah yang ia lakukan sudah menjadi kebutuhan dirinya bukan sekedar kewajban.

Dengan kata lain, istiqamah adalah ibadah seumur hidup, bukan ibadah musiman. Ia bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tetapi tentang seberapa gigih kita berjalan lurus tanpa henti. Dengan demikan, mari kita berusaha untuk istiqomah dalam segala bentuk ketaatan, karena pada akhirnya, istiqamah itulah yang akan menentukan di mana kita berlabuh di akhirat kelak. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search