Pentingnya Melestarikan Amal Kebaikan

Pentingnya Melestarikan Amal Kebaikan
*) Oleh : Ferry Is Mirza
Jurnalis Senior & Aktivisi Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Dari Abu Musa al-Asy’ari RA katanya: Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apabila seseorang hamba itu sakit atau bermusafir, maka dicatatlah untuknya pahala ketaatan sebagaimana kalau ia mengerjakannya, di waktu ia sedang berada di rumah sendiri dan dalam keadaan sehat.”
(HR Bukhari)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1. Hadis ini menunjukkan betapa besar karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

2. Barang siapa mempunyai amalan yang istikamah maka ia meninggalkan disebabkan oleh adanya uzur yang benar, maka ia terus akan ditulis baginya seperti amalnya.

3. Jika seseorang terbiasa melakukan amal saleh (seperti salat berjamaah, puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, sedekah, dll)

Lalu terhalang karena sakit atau perjalanan, maka tetap dicatat pahalanya secara penuh

4. Hadis ini memotivasi kita untuk membiasakan amal saleh secara konsisten.

Karena jika suatu hari kita terhalang karena alasan di luar kendali (sakit/safar), Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetap akan memberinya pahala yang sama.

5. Maka mengenalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tatkala lapang, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengenal kita tatkala dalam keadaan sempit.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Maha Pengasih tidak mengurangi pahala orang beriman hanya karena ada uzur.

Tema hadis yang berkaitan dengan Al-Quran :

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menuntut seseorang melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan.

Jika ada uzur seperti sakit atau perjalanan, maka amalan yang tidak bisa dikerjakan tetap mendapat ganjaran karena niat dan kebiasaannya.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS Al-Baqarah 286)

2. Kesempurnaan takwa tidak selalu bisa diraih, terutama saat ada kondisi fisik atau situasi tertentu.

Namun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetap menilai usaha dan ketulusan.

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurut kemampuanmu”
(QS. AtTaghabun 16)

3. Allah Subhanahu WaTa’ala menghargai setiap usaha, walaupun hasilnya tidak selalu terlihat.

Ini sangat sejalan dengan hadis, dimana usaha dan niat sebelumnya tetap diberi pahala meskipun tidak sedang bisa melakukannya.

“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usaha kamu adalah disyukuri (dihargai).”
(QS. Al-Insan : 22)

4. Beramal kebaikan pada hakikatnya untuk dirinya sendiri.

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri.

Dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, “Kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan“. (QS. Al-Jatsiyah: 15)

Insyaa Allah bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search