Penyesalan di Ambang Barzah: Kerinduan Sang Mayit dalam Dekapan Ramadan

Penyesalan di Ambang Barzah: Kerinduan Sang Mayit dalam Dekapan Ramadan
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”The world is a field for planting, the afterlife is a barn for harvesting. Don’t let your barn be empty when the eternal harvest season has arrived.”
“(Dunia adalah ladang tempat menanam, akhirat adalah lumbung tempat menuai. Jangan biarkan lumbungmu hampa saat musim panen abadi telah tiba)”

​Jeritan yang Terlambat

Bayangkan raga yang kaku di balik nisan, memohon satu kesempatan singkat:

“Ya Allah, kembalikan aku ke dunia sejenak saja untuk bersujud dan bersedekah.”
Namun sayang, pintu tobat telah tertutup rapat. Nilai seribu rupiah yang dulu kita tunda untuk disedekahkan, kini menjadi lebih berharga daripada seluruh emas di bumi.

​Mengapa Menunda Kebajikan?

​1. Ilusi Waktu (Merasa Umur Masih Panjang)

​Ini adalah penyebab paling umum. Kita sering merasa bahwa “nanti” masih ada. Kita berpikir bahwa masa tua adalah waktu yang tepat untuk beribadah atau berderma, sementara masa muda adalah waktu untuk “menikmati dunia”. Padahal, maut tidak mengenal urutan usia.

​2. Jebakan “Kesempurnaan” (Menunggu Momen Pas)

​Banyak orang menunda sedekah karena menunggu kaya, atau menunda salat awal waktu karena menunggu pekerjaan tuntas. Kita merasa kebajikan harus dilakukan dalam kondisi ideal.

Allah SWT berfirman mengenai penyesalan manusia di ujung hayatnya:
​فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
​Artinya:
“...Lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’” (Qs. Al-Munafiqun: 10)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa setiap jiwa yang melalaikan kewajiban pasti akan dirundung penyesalan saat maut menjemput. Mereka memohon waktu walau sekejap hanya untuk beramal saleh.

​Tiga Warisan Abadi

Rasulullah saw. pun menegaskan batasan amal kita dalam hadis dari Abu Hurairah:
​إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya:
​“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang saleh.” (HR Muslim No. 1631)

​Ramadan: Kesempatan Terakhir?

Jika ini adalah Ramadan terakhir kita, jejak apa yang ingin kita tinggalkan? Jangan biarkan “dua rakaat” dan “sedekah jariyah” hanya menjadi angan-angan kosong di alam barzah.

​Mari beramal sekarang, sebelum waktu berubah menjadi “nanti” yang abadi. Jadikan puasa ini proses transformasi jiwa yang indah, bukan sekadar menahan lapar yang sia-sia.

​Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search