Perhiasan Dunia Hanyalah Ujian

*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada masa ketika manusia begitu sibuk mengejar apa yang berkilau: harta, jabatan, rumah, kendaraan, popularitas, hingga pujian manusia. Kita sering mengira semua itu adalah tanda keberhasilan. Padahal Al-Qur’an mengingatkan bahwa apa pun yang menghiasi bumi hanyalah perhiasan sementara.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Kahfi ayat 7 : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya”.

Ayat ini mengubah cara pandang kita terhadap dunia. Kekayaan bukan semata-mata hadiah, kemiskinan bukan otomatis kehinaan, jabatan bukan tanda kemuliaan, dan popularitas bukan ukuran kesuksesan. Semua itu bisa menjadi ujian : apakah manusia semakin bersyukur atau justru semakin sombong?

Yang menarik, Allah tidak mengatakan “siapa yang paling banyak amalnya, tetapi “siapa yang paling baik amalnya” —ahsanu ‘amala. Artinya, ukuran kehidupan bukan sekadar seberapa banyak yang kita miliki atau kerjakan, melainkan bagaimana kualitas niat, keikhlasan, dan kebenaran amal tersebut.

Pada akhirnya, semua perhiasan dunia akan ditinggalkan. Rumah megah menjadi kenangan, jabatan berganti, harta berpindah tangan, wajah menua, dan popularitas menghilang. Yang ikut bersama manusia bukan mobilnya, bukan rekeningnya, bukan jumlah pengikutnya, melainkan amalnya.

Karena itu, jangan terlalu bangga pada apa yang sedang kita genggam. Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sebagai kemuliaan justru sedang menjadi ujian. Dunia memang indah, tetapi keindahan itu bukan tujuan akhir. Ia hanya panggung tempat manusia diuji : siapa yang paling baik amalnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search