Peristiwa apa yang pasti terjadi dalam hidup kita, tapi sering kita lalaikan untuk mempersiapkannya? Tanpa berpikir panjang, kita semua serentak akan menjawab: kematian.
Namun ironisnya, meskipun sudah tahu jawabannya, sebagian dari kita justru menganggap kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Bukannya dijadikan peringatan, kematian malah disepelekan dan dianggap sebagai peristiwa alam biasa yang pasti datang sendiri, cepat atau lambat semua orang mengalami. Tidak perlu persiapan jauh-jauh hari.
Padahal Nabi justru memberi peringatan agar memperbanyak mengingat kematian, sebab ia adalah pemutus semua kenikmatan dunia. Dan ini adalah kepastian yang telah Allah tetapkan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57)
Di momen itu, tidak ada satu pun yang dapat kita bawa, kecuali yang sudah kita titipkan di hadapan Allah. Semua urusan duniawi yang kita kejar seketika berhenti. Tabungan di rekening tak ada lagi transaksi, pangkat tinggal sebutan, nama tenar di media sosial sudah dilupakan ribuan pengikut. Begitu pun rencana liburan tahun depan akhirnya batal sebelum terealisasi.
Semua mendadak selesai, tidak menunggu kita siap. Bisa datang di tengah keramaian, di tengah perjalanan, di ruang kerja, bahkan di tengah rencana panjang yang belum sempat kita jalani.
Yang membuat kita lebih was-was lagi, kita juga tidak tahu titik akhirnya, entah husnul khatimah — dipanggil saat sedang sujud menunaikan kewajiban, menampakkan wajah tenang dengan lisannya basah karena dzikir — atau sebaliknya suul khatimah, dipanggil saat sedang asyik dalam kelalaian dan kemaksiatan. Tidak sempat bertaubat, tidak sempat meminta maaf, dan tidak sempat memperbaiki amal.
Dalam Islam, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah titik awal perjalanan abadi. Perjalanan menuju pertanggungjawaban, tempat yang menjadi kehidupan sesungguhnya dan tidak pernah berakhir.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdik adalah yang mengingat mati dan mempersiapkan bekal untuk setelahnya.” (HR. Tirmidzi no. 2459)
Perjalanan itu langsung dimulai saat ruh berpisah dengan tempat tinggal sementara yang fana beserta segala isinya. Saat itulah pintu dunia tertutup dan pintu akhirat mulai terbuka.
Ketika ruh hendak terlepas dari jasad, Allah mengutus para malaikat. Bagi hamba yang beriman, saat sakaratul maut datang, para malaikat akan turun dan menghibur: “Janganlah kamu bersedih dan janganlah kamu takut, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)
Betapa tenangnya hati yang mendengar kalimat itu. Tidak ada lagi cemas, tidak ada lagi duka. Karena ia tahu, ini bukan perpisahan, ini adalah kepulangan. Pulang ke rumah yang sesungguhnya.
Pada saat jenazah saudara kita yang mukmin diusung, ia justru ingin bergegas. Ia berkata kepada para pengusungnya: “Segerakanlah aku! Segerakanlah aku!” Ia rindu. Ia tahu, di depan sana ada rahmat, ada nikmat kubur, ada taman dari taman-taman surga yang menantinya.
Sebaliknya, ketika jenazah yang lalai diusung, ia meronta dan berteriak: “Ke mana kalian akan membawaku? Ke mana kalian akan membawaku?” Ia ketakutan. Karena ia tahu, di depan sana bukan tempat istirahat, melainkan lubang yang sempit, gelap, dan menjadi awal dari pertanggungjawaban yang panjang. (HR. Bukhari no. 1380)
Perjalanan belum selesai. Ini baru awal perjalanan menuju keabadian. Setelah mendengar suara terompah yang menjauh dari liang lahat, ia kini berada di alam barzakh. Kemudian datanglah dua malaikat menyampaikan beberapa pertanyaan.
Bagi yang beriman, kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang, diberi cahaya, dan dibukakan pintu menuju surga. Ia tidur seperti pengantin.
Bagi yang lalai, kuburnya menghimpit, dipenuhi gelap, dan dibukakan pintu neraka untuk diperlihatkan api yang menyala-nyala. Inilah awal dari penyesalan yang tidak akan pernah ada ujungnya.
Kedua “keadaan” itu tidak terlihat oleh mata kita. Tapi ia nyata. Jaraknya hanya sekejap setelah hembusan napas terakhir.
Pertanyaannya sekarang buat kita yang masih diberikan napas: “Saat giliran kita yang diusung nanti, kita akan berkata apa: Segerakanlah aku atau ke mana kalian membawaku?”
Jawabannya tidak ditentukan nanti. Jawabannya ditentukan hari ini. Kebaikan atau keburukan yang kita lakukan sampai waktu itu datang akan menentukan pada akhirnya.
Maka, inilah kesempatan untuk kita membenahi, paling tidak tiga hal selagi masih ada waktu.
Pertama, perbaiki salat kita. Karena salat yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ia adalah amalan pertama yang dihisab. Jika salat kita baik, maka baik pula amalan lainnya.
Kedua, perbaiki hubungan kita — dengan orang tua, pasangan, anak, dan sesama. Karena banyak orang masuk neraka bukan karena besarnya dosa, tapi karena lisan dan zalimnya kepada manusia. Jangan sampai amal shalih kita habis diambil oleh orang yang pernah kita zalimi.
Ketiga, titipkan amal jariyah: ilmu yang bermanfaat, sedekah yang mengalir, anak shalih yang mendoakan. Karena amalan inilah yang setia mendampingi kita di liang lahat. Bukan harta, jabatan, ataupun kenikmatan duniawi.
Kita di dunia ini hanyalah musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon rindang sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir. Tak ada yang kita bawa pergi, kecuali amal yang kita siapkan sebagai bekal.
Jangan tunggu waktu senggang. Jangan tunggu kalau sudah tua. Dan jangan tunggu “nanti saja”. Karena kematian tidak pernah janji.
Ya Allah, jadikan akhir hidup kami husnul khatimah. Wafatkan kami dalam keadaan sujud kepada-Mu. Lapangkan kubur kami, dan jadikan perjalanan kami setelah ini sebagai perjalanan menuju ridha-Mu. (*)
