Perjalanan terjauh manusia adalah bukanlah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan dari pikiran menuju hatinya sendiri.
Jika kita bicara tentang “perjalanan terjauh manusia,” maknanya bisa sangat luas bukan hanya soal jarak geografis, tetapi juga kedalaman spiritual, perjuangan batin, dan transformasi hidup. Mari kita jelajahi dari beberapa sudut:
Perjalanan Terjauh Manusia: Antara Fisik, Jiwa, dan Makna
1. Perjalanan Fisik: Menembus Batas Langit
– Ke Bulan dan Luar Angkasa: Pendaratan manusia di Bulan (Apollo 11, 1969) adalah salah satu pencapaian fisik terjauh umat manusia.
– Voyager 1: Meski bukan berawak, wahana ini telah meninggalkan tata surya dan menjadi simbol eksplorasi manusia yang paling jauh secara fisik.
– Ekspedisi ke Kutub dan Palung Mariana: Menjelajahi titik-titik ekstrem di Bumi juga merupakan bentuk perjalanan luar biasa.
2. Perjalanan Jiwa: Menemukan Diri dan Tuhan
– Hijrah Nabi Muhammad ﷺ: Dari Makkah ke Madinah, bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi transformasi peradaban dan spiritualitas.
– Perjalanan Taubat: Ketika seseorang kembali dari kehidupan gelap menuju cahaya iman, itu adalah perjalanan yang sangat jauh dan berat.
– Mencari Makna Hidup: Banyak tokoh seperti Imam Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, dan bahkan tokoh modern seperti Malcolm X, melakukan perjalanan batin yang mengubah arah hidup mereka.
3. Perjalanan Reflektif: Dari Ego ke Ikhlas
– Mengalahkan Nafsu: Perjalanan mengendalikan hawa nafsu adalah jihad terbesar menurut sabda Nabi ﷺ.
– Melepaskan Dunia: Ketika seseorang mampu melepaskan keterikatan dunia demi ridha Allah, itu adalah perjalanan yang tidak bisa diukur dengan kilometer.
– Mendidik Anak dengan Hikmah: Perjalanan seorang ayah atau ibu dalam membentuk karakter anak adalah perjalanan panjang yang penuh cinta dan pengorbanan.
Perjalanan Terjauh Adalah Menuju Rida Allah
Dalam Islam, perjalanan terjauh bukanlah ke ujung galaksi, tetapi dari hati yang lalai menuju hati yang tunduk. Dari hidup yang penuh ilusi menuju hidup yang penuh makna. Dari dunia yang fana menuju akhirat yang kekal.
Banyak ayat yang menggambarkan perjalanan manusia dalam dimensi fisik, spiritual, dan eksistensial. Berikut beberapa ayat yang sangat relevan:
1. Perjalanan Fisik & Reflektif di Muka Bumi
Surah Al-Mulk (67): Ayat 15
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Artinya: Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
Menunjukkan bahwa perjalanan fisik adalah sarana untuk mengenali nikmat dan tujuan akhir: kembali kepada Allah.
2. Perjalanan Spiritual: Melampaui Langit dan Bum
Surah Ar-Rahman (55): Ayat 33
يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ
Artinya: Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).
Ini adalah ayat yang sangat kuat secara metaforis dan ilmiah menunjukkan bahwa perjalanan terjauh bukan hanya fisik, tapi juga spiritual dan penuh tantangan.
3. Perjalanan Menuju Akhirat: Tujuan Hakiki
Surah Al-Insyiqaq (84): Ayat 6
يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya engkau telah bekerja keras menuju (pertemuan dengan) Tuhanmu. Maka, engkau pasti menemui-Nya.
Ini adalah ayat yang menggambarkan perjalanan eksistensial manusia dari lahir hingga kematian, menuju perjumpaan dengan Allah.
Ada beberapa riwayat yang menggambarkan perjalanan terjauh manusia bukan sekadar fisik, tetapi sebagai perjalanan ruhani menuju akhirat dan ridha Allah. Berikut beberapa hadits yang sangat relevan:
1. Hidup di Dunia Seperti Musafir
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari no. 6416, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)
Hadits ini mengajarkan bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan. Perjalanan sejati adalah menuju akhirat. Seorang musafir tidak menetap, ia hanya singgah dan terus melangkah.
2. Perjalanan Menuju Allah
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)
Hadis ini menegaskan bahwa perjalanan ilmu adalah bagian dari perjalanan terjauh manusia menuju surga, ridha Allah, dan kebahagiaan abadi.
3. Perjalanan Jiwa dan Doa Musafir
“Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa, doa pemimpin yang adil, dan doa musafir.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Musafir dalam hadits ini bukan hanya orang yang bepergian secara fisik, tetapi juga bisa dimaknai sebagai orang yang sedang menempuh perjalanan spiritual, hijrah dari maksiat menuju taat.
4. Perumpamaan Dunia
“Perumpamaanku dan dunia ini seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Rasulullah ﷺ menggambarkan dunia sebagai tempat singgah sementara. Perjalanan terjauh adalah setelahnya menuju akhirat, tempat yang kekal.
Perjalanan terjauh manusia bukanlah ke ujung bumi, tetapi dari lalai menuju sadar, dari dunia menuju akhirat, dari ego menuju ikhlas, dan dari makhluk menuju Khalik. Hadis-hadis ini mengajak kita untuk hidup dengan kesadaran bahwa kita sedang menempuh perjalanan pulang.
