Riset perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Penelitian juga perlu menjawab persoalan nyata dan memberi manfaat bagi masyarakat maupun industri. Karena itu, dosen perlu merancang penelitian dan pengabdian secara terarah, mulai dari mengidentifikasi masalah hingga memastikan hasilnya berpeluang diterapkan.
Komitmen tersebut menjadi perhatian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam memperkuat kualitas riset dan pengabdian. Upaya ini dibahas dalam Sosialisasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat BIMA 2027 yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Senin (2/11/2026) di Aula BAU UMM.

Tim Pakar Penelitian BIMA DPPM Kemdiktisaintek Prof. Ir. Candra Wahyu Purnomo, ST, M.Eng, D.Eng, IPM, menekankan, pengabdian kepada masyarakat merupakan penerapan hasil penelitian. Programnya harus disusun berdasarkan kebutuhan mitra dan melibatkan kolaborasi lintas disiplin agar solusi yang ditawarkan tepat sasaran.
“Pengabdian itu adalah bagian aplikasi hasil riset ke masyarakat, dan pengabdian itu harus kolaborasi,” tegasnya.
Ia mencontohkan pemanfaatan limbah produksi tahu sebagai peluang pengembangan program pengabdian. Persoalan lokal dapat menjadi dasar kegiatan bermanfaat apabila proposal mampu menjelaskan masalah, kebutuhan mitra, metode penyelesaian, dan hasil yang ingin dicapai. Contoh lainnya ialah pengembangan produk cokelat yang melibatkan penyandang autisme di Malang. Program tersebut menghubungkan proses produksi dengan peluang pemasaran sekaligus membuka ruang pemberdayaan masyarakat.
Sebagai tambahan BIMA merupakan Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, sistem informasi tersebut terintegrasi dan dikelola oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk mengelola seluruh proses penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bagi dosen dan perguruan tinggi di Indonesia
Dari sisi penelitian, Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S., Tim Penyusun Panduan BIMA DRTPM-Dikti Ristek, mengingatkan pentingnya perencanaan matang agar proposal memiliki daya saing. Aspek yang perlu diperhatikan meliputi kebaruan penelitian, analisis kesenjangan (gap analysis), peta jalan penelitian, tingkat kesiapterapan teknologi (TKT), metode, luaran, jadwal, dan kelengkapan administrasi. Seluruh unsur harus saling berkaitan serta disesuaikan dengan skema pendanaan yang dipilih.
Menurutnya, peneliti perlu memahami panduan dan rubrik penilaian. Pembentukan tim, pembagian tugas, serta kolaborasi dengan peneliti yang memiliki keahlian relevan menentukan kualitas proposal.
“Tidak ada kegiatan apa pun yang berkualitas dan kompetitif kalau tidak direncanakan well designed,” urainya.
Ia turut mengingatkan penggunaan kecerdasan buatan dalam penyusunan proposal. Teknologi tersebut dapat membantu memperbaiki bahasa, struktur tulisan, referensi, dan pengembangan gagasan. Namun, peneliti tetap harus memeriksa kebenaran informasi serta bertanggung jawab atas isi proposal. Kecerdasan buatan tidak boleh digunakan untuk menghasilkan atau memanipulasi data penelitian.
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyebut penguatan riset berbasis persoalan nyata sejalan dengan pengembangan UMM Excellent Solution Center (ESC), khususnya pilar Industry Solution Partner. Melalui pendekatan tersebut, kepakaran dosen diharapkan dapat membantu menyelesaikan persoalan industri dan masyarakat.
“Riset itu permasalahan harus berangkat dari real problem,” ujarnya.
Terakhir, pemahaman terhadap kebijakan dan prioritas pendanaan penting agar dosen mampu menyusun penelitian yang relevan serta memiliki peluang implementasi. Melalui penguatan ini, UMM berharap riset dan pengabdian tidak berhenti pada luaran akademik, tetapi berkembang menjadi inovasi dan solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.(*/tim)
