Ada masa di mana seseorang tidak berniat berbuat dosa, namun satu letupan emosi seakan menghapus seluruh nalar yang tersisa. Kita marah karena harga diri diinjak, kecewa karena tak dihargai, atau cemburu karena merasa tersaingi. Dari situ, dosa bukan lagi hasil perencanaan, melainkan luapan dari emosi yang tak terkendali.
Di sinilah menariknya peran emosi — bukan sekadar perasaan, tetapi tenaga penggerak yang bisa menuntun ke arah kebaikan atau justru mendorong pada jurang kesalahan.
Dalam Islam, hati adalah pusat pengendali emosi. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusaklah seluruhnya, itulah hati.” (HR. Bukhari).
Saat hati dipenuhi amarah, dengki, dan kesombongan, maka tubuh akan mengikuti arusnya. Kita jadi mudah menyinggung orang lain, menipu, atau menyakiti tanpa sadar bahwa semuanya bermula dari satu percikan emosi yang tak dijaga. Seperti mesin yang kelebihan bahan bakar, emosi yang meluap-luap tanpa kendali bisa membakar pemiliknya sendiri.
Lihatlah fenomena yang begitu dekat, seseorang menulis komentar kasar di media sosial hanya karena tersinggung oleh pendapat yang berbeda. Di jalan, pengemudi saling klakson hingga berujung baku hantam, bukan karena mereka jahat, tapi karena emosi mereka sedang lapar — lapar pengakuan, lapar keadilan, lapar kasih sayang.
Emosi-emosi itu, ketika tak disalurkan dengan bijak, perlahan menumbuhkan dosa yang berakar pada ego. Dalam psikologi Islam, keadaan ini dikenal sebagai an-nafs al-ammarah bis-su’ — jiwa yang mendorong pada keburukan.
Namun menariknya, Islam tidak mematikan emosi. Ia hanya mengajarkan keseimbangan. Marah boleh, asal di tempat yang benar. Sedih wajar, asal tak berlebihan. Gembira pun dianjurkan, asal tidak membuat lupa diri.
Psikosomatis yang sering muncul pada orang yang menahan emosi tanpa arah — sesak di dada, pusing tanpa sebab, atau nyeri perut berulang — menjadi tanda bahwa dosa dan emosi punya hubungan yang sangat halus. Dosa sering menjadi jalan pelarian dari tekanan batin, sedangkan batin yang kotor akibat dosa justru melahirkan emosi baru yang makin menyiksa.
Mengelola emosi bukan hanya soal kesehatan mental, tapi juga soal keselamatan spiritual. Menjaga hati dari amarah, iri, dan sombong adalah bentuk terapi jiwa yang paling sederhana namun paling sulit dilakukan.
Ketika seseorang belajar sabar, ia bukan sedang menekan perasaan, melainkan mengalirkan energinya agar tak berubah menjadi bahan bakar dosa. Karena pada akhirnya, dosa bukan hanya tercatat di lembar amal, tetapi juga menorehkan luka di tubuh dan jiwa — pelan, halus, tapi nyata.
https://lynk.id/faridfi
