Ada saat di mana tubuh kita berbicara tanpa kata. Kadang lewat kepala yang berat, perut yang melilit, atau dada yang terasa sempit padahal hasil pemeriksaan bilang semuanya normal. “Nggak ada penyakit apa-apa,” kata dokter.
Tapi di dalam hati, kita tahu ada yang tak beres. Mungkin karena pikiran yang tak kunjung reda, atau karena perasaan bersalah yang kita simpan terlalu lama. Itulah yang dalam psikologi disebut psikosomatis — luka batin yang menagih perhatian lewat tubuh.
Psikolog mengatakan, tubuh dan pikiran bekerja seperti dua sisi dari satu koin. Ketika otak terus mengulang pikiran negative ketika perilaku dosa dilakukan — cemas, takut, atau merasa gagal — tubuh menganggapnya sebagai ancaman nyata. Hormon stres keluar tanpa henti, detak jantung naik, otot menegang. Tubuh bersiap melawan musuh yang sebenarnya tak pernah ada. Lama-lama, kita benar-benar merasa sakit.
Aaron Beck, salah satu bapak psikologi kognitif, pernah menulis bahwa cara berpikir seseorang bisa menjadi racun bagi tubuhnya sendiri. Dan mungkin, tanpa sadar, kita sedang meracuni diri dengan pikiran yang tak pernah kita benahi.
Islam memandang hubungan itu dengan cara yang lebih lembut. Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hati di sini bukan sekadar organ, tapi pusat dari semua rasa dan niat manusia. Saat hati penuh dosa, iri, atau amarah, tubuh ikut gelisah. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Artinya, ketenangan bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri yang berdamai dengan bertaubat.
Coba perhatikan sekitar kita. Ada teman yang selalu terlihat ceria di depan kamera, tapi sering mengeluh tak bisa tidur. Ada ibu rumah tangga yang jarang marah, tapi tubuhnya mudah lelah. Bahkan ada orang yang setiap hari berbuat baik, tapi hatinya masih terasa kosong. Semua itu bisa jadi bentuk psikosomatis — bukan karena kurang ibadah, tapi karena terlalu lama menumpuk emosi tanpa pernah diurai. Tubuh mereka menanggung apa yang tidak sempat diucapkan oleh mulut. Dan seperti halnya manusia, tubuh pun punya batas sabar.
Maka, penyembuhan bukan cuma soal obat atau terapi. Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu jujur pada diri sendiri untuk tidak mengulangi dosa. Mengakui salah bukan berarti kalah. Bertaubat bukan tanda lemah, tapi bukti bahwa kita ingin kembali ke jalan Ilahi. Karena sebenarnya, saat hati tenang, tanpa perilaku dosa maka seluruh tubuh ikut sembuh — pelan, tapi pasti. https://lynk.id/faridfi
