Ketika berbicara tentang pendidikan unggulan, pikiran kita kerap langsung tertuju pada sekolah-sekolah terbaik yang melahirkan siswa berprestasi. Namun sesungguhnya, perjalanan mewujudkan SDM unggul tidak berhenti di bangku sekolah. Hal itu berlanjut hingga pada jenjang perguruan tinggi. Dan di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai, khususnya bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia.
Gagasan ini merupakan pengembangan dari tulisan saya di salah satu media berjudul “Dari Sekolah Unggulan ke Universitas Unggulan: Tantangan Baru bagi Perguruan Tinggi Islam”, yang terbit pada 30 Maret 2026.
Tulisan tersebut lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari pengalaman langsung yang saya peroleh ketika mengikuti Program Pendidikan Singkat Luar Negeri (SSLN) dalam rangka Program Pendidikan Singkat Nasional (P3N) XXVI Tahun 2025 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), yang berlangsung dari 26 Agustus hingga 2 Desember 2025.
Dalam program tersebut, saya berkesempatan mengunjungi langsung institusi-institusi pendidikan terkemuka di Singapura, mulai dari Ministry of Education (MOE), National Institute of Education (NIE), National University of Singapore (NUS), hingga National Institute of Technical Education (ITE). Apa yang saya saksikan di sana menjadi cermin yang sangat jernih untuk merefleksikan kondisi pendidikan tinggi Islam di Indonesia saat ini.
Singapura telah membuktikan bahwa membangun SDM unggul membutuhkan ekosistem pendidikan yang utuh dan berkesinambungan, dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi. Sistem pendidikan mereka tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan terhubung dalam satu rantai yang saling menguatkan. Sekolah unggulan melahirkan lulusan terbaik, dan universitas unggulan mengolah mereka menjadi SDM yang benar-benar siap menghadapi tantangan global.
Di sinilah letak persoalan yang kerap kita hadapi di Indonesia. Kita sudah mulai serius membangun sekolah-sekolah unggulan, namun belum sepenuhnya menyiapkan perguruan tinggi (khususnya PTKI) untuk menjadi penerus estafet keunggulan itu. Lulusan terbaik sekolah unggulan membutuhkan perguruan tinggi yang setara dalam hal kualitas, inovasi, dan daya saing. Jika tidak, mata rantai keunggulan itu akan putus di tengah jalan.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana NUS tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi menjadi ekosistem riset dan inovasi yang hidup dan berdenyut. Mahasiswanya bukan hanya dididik untuk lulus, tetapi disiapkan untuk memimpin, menciptakan, dan berkontribusi nyata bagi peradaban. Inilah standar yang harus kita kejar, dan standar ini sangat relevan bagi PTKI yang tengah berjuang meningkatkan daya saingnya.
Tantangan yang dihadapi PTKI sesungguhnya berlapis. Di satu sisi, ada tuntutan untuk mempertahankan kedalaman kajian keislaman yang menjadi identitas dan keunggulan komparatif mereka. Di sisi lain, ada desakan untuk terus bertransformasi mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan industri yang bergerak sangat cepat.
Dari pengamatan saya di MOE dan NIE Singapura, kunci untuk menjawab tantangan berlapis ini terletak pada tiga hal mendasar. Pertama, kualitas sumber daya manusia, yang harus terus ditingkatkan melalui sistem rekrutmen yang ketat dan program pengembangan profesional yang berkelanjutan. Kedua, kurikulum yang tidak hanya relevan secara akademik tetapi juga responsif terhadap kebutuhan industri dan perkembangan global, dengan tetap mempertahankan kedalaman nilai-nilai keislaman sebagai rohnya. Ketiga, tata kelola kelembagaan yang otonom, akuntabel, dan transparan merupakan sebuah prasyarat mutlak bagi perguruan tinggi yang ingin melompat ke level berikutnya.
Kunjungan ke ITE Singapura juga membuka perspektif baru tentang pentingnya pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan dunia industri. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa keunggulan pendidikan tidak melulu soal akademik semata, tetapi juga tentang bagaimana perguruan tinggi mampu menjembatani dunia ilmu dengan dunia kerja secara nyata dan terukur.
Pengalaman di Singapura semakin meyakinkan saya bahwa transformasi PTKIN khususnya menuju status Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Berbadan Hukum (PTKIN-BH), bukan sekadar perubahan status administratif. Ia adalah sebuah lompatan peradaban yang menuntut kesiapan menyeluruh: dari aspek kelembagaan, akademik, sumber daya manusia, hingga kemandirian finansial.
Singapura membangun universitas unggulannya bukan dalam semalam. Ia membangunnya dengan visi jangka panjang, komitmen politik yang kuat, investasi yang konsisten, dan keberanian untuk terus berinovasi. Pelajaran inilah yang paling berharga untuk kita bawa pulang dan terapkan dalam konteks pengembangan PTKI di Indonesia.
Perjalanan dari sekolah unggulan menuju universitas unggulan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditunda. PTKI harus berani mengambil langkah transformatif, bukan dengan meninggalkan identitas keislamannya, melainkan justru dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan yang mendorong inovasi, mendorong keadilan, dan mendorong kemajuan peradaban.
Indonesia, dengan jumlah PTKI terbesar di dunia, sesungguhnya memiliki modal yang luar biasa. Yang dibutuhkan kini adalah keberanian untuk bertransformasi, konsistensi dalam menjalankan kebijakan, dan komitmen bersama bahwa investasi terbesar sebuah bangsa adalah investasi pada kualitas manusianya. Singapura telah membuktikannya. Kini giliran kita.
