Puasa Mata, Telinga dan Lisan: Menyempurnakan Ibadah

Puasa Mata, Telinga dan Lisan: Menyempurnakan Ibadah
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

“True fasting is when your heart is able to imprison your desires and your tongue is protected from hurting others”
“(Puasa yang sejati adalah saat hatimu mampu memenjarakan syahwat dan lidahmu terjaga dari menyakiti sesama)”

​Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan pendidikan jiwa untuk mengendalikan hawa nafsu. Puasa yang sempurna melibatkan “puasa” anggota tubuh dari segala hal yang diharamkan.

​Puasa Mata berarti menundukkan pandangan dari hal yang mengundang syahwat atau maksiat. Puasa Telinga artinya menutup pendengaran dari ghibah, dusta, atau perkataan sia-sia. Sementara itu, Puasa Lisan adalah menjaga ucapan agar tetap dalam kebaikan, kejujuran, dan zikir. Allah SWT berfirman:
​وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
​Artinya:
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Qs. Al-Isra: 36).

​Ayat ini menegaskan bahwa setiap organ tubuh adalah amanah yang kelak akan bersaksi di hadapan Allah atas apa yang kita lakukan di dunia.

​Dalam sebuah hadis, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
​مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
​Artinya:
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh terhadap rasa lapar dan haus yang dia tahan.”(HR. Bukhari No. 1903).

​Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Jika seseorang tetap berdusta, berbuat curang, atau ghibah, Allah tidak membutuhkan puasa tersebut karena esensi penyucian diri telah hilang. Puasa sejati menuntut penjagaan lisan dan perbuatan dari dosa, bukan hanya menahan makan.

​Mari kita jadikan puasa ini sebagai momentum untuk menyucikan diri secara lahir dan batin.

​Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search