”Fasting is refraining from what one likes so that the soul gets used to abandoning what Allah hates.”
”(Puasa adalah menahan diri dari apa yang dicintai, agar jiwa terbiasa meninggalkan apa yang dibenci oleh Allah).”
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah spiritual untuk melatih pengendalian diri. Dalam Islam, puasa dipandang sebagai perisai (Al-junnah) yang membentengi seorang Muslim dari gejolak syahwat dan godaan maksiat. Allah SWT berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 183)
Menurut para mufasir, esensi dari kalimat “agar kamu bertakwa” adalah terciptanya penghalang kokoh antara seorang hamba dengan siksa Allah. Dengan mengekang keinginan jasmani, jiwa akan menjadi lebih peka terhadap larangan-Nya, sehingga noda dosa dapat dihindari.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ. وَفِي رِوَايَةٍ: وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ
Artinya:
“Puasa adalah perisai. Maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula ribut-ribut.” Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Dan jangan berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajak berkelahi atau menghinanya, maka katakanlah: ‘Aku sedang puasa’ (ia mengulang ucapannya dua kali).” (HR. Al-Bukhari No. 1894 & HR. Muslim No. 1151)
Pesan luhur di atas menegaskan bahwa orang yang berpuasa dituntut untuk menjaga kesempurnaan ibadahnya dari segala hal yang dapat menggugurkan pahala. Caranya adalah dengan menghiasi diri melalui akhlak karimah serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela.
Menjadikan puasa sebagai perisai berarti membiarkan hati kita dijaga sepenuhnya oleh keimanan. Mari kita jadikan ibadah ini bukan sekadar rutinitas penggugur kewajiban, melainkan momentum emas untuk menyucikan diri dari noda dosa.
Semoga bermanfaat.
