Ramadan, Benarkah Kita Bersedih Atas Kepergianmu?

Ramadan, Benarkah Kita Bersedih Atas Kepergianmu?
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kadagsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Ramadan adalah tamu agung yang datang membawa cahaya, ketenangan, dan kesempatan untuk membersihkan diri. Saat ia pergi, wajar bila hati merasa kehilangan, sebab suasana ibadah, doa, dan keberkahan terasa begitu kental. Namun, kesedihan itu bukan sekadar nostalgia, ia adalah tanda cinta kita kepada bulan yang penuh rahmat.

Ramadan selalu menghadirkan rasa yang unik: gembira saat menyambutnya, lalu seakan ada kesedihan ketika ia pergi. Pertanyaannya, benarkah kita harus bersedih atas kepergian Ramadan?

Ramadan sebentar lagi engkau akan pergi. Banyak hati berkata sedih, bannyak lisan, mengucap kehilangan. Namun hari ini kita mencoba bertanya dengan jujur kepada diri kita sendiri.

Beberapa renungan:
* Ramadan bukan sekadar bulan, tapi madrasah. Jika kita lulus, maka tanda keberhasilan adalah istiqamah setelahnya.

• Kesedihan yang benar bukan karena hilangnya suasana tarawih atau buka bersama, melainkan karena takut tidak bisa menjaga kualitas ibadah yang sudah dibangun.

• Kebahagiaan yang sejati adalah ketika Ramadan meninggalkan jejak dalam hati: lebih dekat dengan Allah, lebih sabar, lebih dermawan, lebih rendah hati.

Jadi, bukan salah bila kita merasa kehilangan. Tapi jangan berhenti di rasa itu, jadikan ia dorongan untuk menjaga cahaya Ramadan tetap menyala dalam hidup sehari-hari.

Ramadan bukan sekadar hitungan hari, ia adalah madrasah ruhani: tempat kita belajar menahan diri, memperbanyak doa, memperhalus akhlak, dan merasakan kedekatan dengan Allah. Maka wajar bila hati terasa hampa ketika ia pergi, seperti kehilangan sahabat yang selalu mengingatkan kita pada kebaikan.

Namun, kesedihan itu tidak seharusnya membuat kita lemah. Justru ia menjadi tanda bahwa Ramadan telah benar-benar menyentuh hati kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga ruh Ramadhan agar tetap hidup setelah bulan itu berlalu:

Benarkah aku benar benar bersedih saat engkau pergi?

Sebab jika kita melihat kembali hari-hari yang telah berlalu bersamamu, ternyata masih banyak waktu yang terbuang sia-sia. Masih sering menunda membaca ayat-ayat-Mu. Masih menunda waktu sholat untuk memperpanjang sujud. Masih menunnda memperbaiki hati.

Lalu kita kembali bertanya
Apakah kesedihan ini lahir dari hati yang mencitai Ramadan? Ataukah hanya perasaan yang igin terlihat sedih dihadapan Ramadhan dan di hadapan manusia?

Kesedihan yang lahir di penghujung Ramadan bisa memiliki dua wajah.

Pertama, ia bisa muncul dari hati yang benar-benar mencintai Ramadan. Seperti seseorang yang kehilangan sahabat karib, hati merasa berat karena bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan akan segera pergi. Kesedihan ini adalah tanda cinta dan kerinduan yang tulus, karena Ramadhan menghadirkan suasana yang sulit digantikan oleh bulan lain.

Kedua, ada pula kesedihan yang lebih bersifat “tampak luar” sekadar ingin terlihat sedih di hadapan orang lain atau di hadapan Ramadan itu sendiri. Ini bukan kesedihan yang lahir dari cinta, melainkan dari keinginan untuk menampilkan diri sebagai orang yang peduli, padahal hatinya tidak benar-benar merasakan kehilangan.

Perbedaan keduanya terletak pada keikhlasan hati. Jika kesedihan itu membuat seseorang semakin dekat dengan Allah, semakin rindu pada ibadah, dan semakin bersemangat menjaga amal setelah Ramadan, maka itu adalah kesedihan yang lahir dari cinta. Namun jika kesedihan hanya berhenti pada ekspresi tanpa perubahan dalam diri, maka ia lebih mirip perasaan yang ingin “tampak” saja.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search