Ramadan dan Perawatan Bangunan Iman, Dari Buniya al-Islam hingga Epistemologi Takwa

Ramadan dan Perawatan Bangunan Iman, Dari Buniya al-Islam hingga Epistemologi Takwa
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Penulis buku seri epistemologi Qur'ani, Pengurus PRM Berbek dan pengasuh kajian tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek
www.majelistabligh.id -

Rasulullah ﷺ bersabda: بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ

Islam dibangun atas lima perkara…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata بُنِيَ (buniya) menunjukkan bahwa Islam adalah bangunan yang tersusun, bukan kumpulan ritual acak.

Al-Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan rukun-rukun Islam adalah “ushul” (fondasi utama) yang menjadi penopang agama, sebagaimana tiang dan dasar bangunan menopang rumah.

Maka puasa Ramadan bukan aksesori, tetapi bagian struktur. Ramadan: Kebutuhan Manusia, Bukan Beban

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

(QS. Al-Baqarah: 183)

Al-Imam Ibnu Katsir menegaskan, kewajiban puasa adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) untuk menundukkan syahwat dan mempersempit jalan setan. Artinya, puasa diwajibkan karena manusia membutuhkannya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan:

1. Puasa umum (menahan makan dan minum)

2. Puasa khusus (menahan anggota tubuh dari dosa)

3. Puasa khususul khusus (menahan hati dari selain Allah)

Ini menunjukkan puasa adalah latihan komprehensif, bukan sekadar biologis.

Universalitas Puasa

Allah berfirman:

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ

Al-Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penyebutan umat terdahulu bertujuan menguatkan hati kaum mukminin, bahwa mereka tidak sendirian dalam kewajiban ini.

Puasa adalah sunnatullah dalam pembentukan manusia.

Ia hadir dalam sejarah para nabi karena manusia selalu membutuhkan pengendalian diri.

Tujuan Besar: Takwa

Allah menutup ayat dengan:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa puasa melemahkan dorongan syahwat sehingga hati lebih mudah tunduk kepada Allah.

Imam An-Nawawi menegaskan bahwa hakikat takwa adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan dengan kesadaran penuh.

Takwa bukan sekadar rasa takut. Ia adalah kesadaran permanen.

Ayyāman Ma’dūdāt: Rahmat dalam Keterbatasan

Allah menyebut puasa sebagai:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

Al-Qurthubi menafsirkan bahwa ini adalah bentuk tas-hil (kemudahan) agar manusia tidak merasa berat sejak awal.

Beberapa hari yang terhitung, namun pahala dan dampaknya besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Latihan yang singkat, ganjaran yang agung.

Epistemologi Kemudahan

Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini menegaskan rahmat Allah dalam syariat-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya agama ini mudah.” (HR. Bukhari)

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa seluruh syariat dibangun di atas asas rahmat dan maslahat bagi hamba. Maka rukhsah dalam puasa bukan kompromi, tetapi bagian dari kesempurnaan syariat.

Kesimpulan:

Dari rangkaian ayat dan hadis ini, kita memahami:

1. Islam adalah bangunan yang kokoh.

2. Puasa adalah bagian struktur yang vital.

3. Ramadan adalah kebutuhan ruhani manusia.

4. Tujuan akhirnya adalah takwa.

5. Waktunya terbatas, tetapi dampaknya panjang.

6. Syariat dibangun atas kemudahan dan rahmat.

Ramadan bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah madrasah kesadaran.

Jika kita menjalani puasa hanya secara fisik, kita kehilangan ruhnya. Namun jika kita memaknainya sebagai tarbiyah ilahiyah, maka bangunan iman kita akan semakin kokoh. (*)

Tinggalkan Balasan

Search