Ramadan Hampir Berlalu, Apa yang Tersisa di Dalam Diri?

Ramadan Hampir Berlalu, Apa yang Tersisa di Dalam Diri?
*) Oleh : Fathan Faris Saputro
Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan
www.majelistabligh.id -

Hari-hari Ramadan yang kita jalani hampir sampai pada penghujungnya. Malam-malamnya yang penuh keberkahan sedikit demi sedikit telah berlalu meninggalkan jejak dalam perjalanan ruhani setiap mukmin. Puasa yang kita lakukan, qiyamul lail yang kita kerjakan, tilawah yang kita baca, dan sedekah yang kita keluarkan kini telah tercatat dalam lembaran amal kita. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang semestinya membentuk pribadi yang lebih dekat kepada Allah.

Namun ingatlah, wahai kaum muslimin, Ramadan yang pergi tidak sekadar meninggalkan kenangan. Ia meninggalkan kesaksian atas setiap amal yang kita lakukan sepanjang bulan yang mulia ini. Hari-hari dan malam-malam Ramadan akan menjadi saksi di hadapan Allah atas apa yang kita kerjakan di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ

Pada hari ketika setiap jiwa mendapati segala kebaikan yang telah dikerjakannya dihadirkan, dan demikian pula keburukan yang pernah ia lakukan.” (Ali ‘Imran: 30).

Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada satu pun amal manusia yang luput dari perhitungan Allah. Setiap rakaat yang kita lakukan, setiap air mata yang menetes dalam doa, dan setiap ayat Al-Qur’an yang kita baca tidak akan pernah sia-sia. Allah menghitungnya satu per satu dengan perhitungan yang sempurna. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:

يَا عِبَادِي، إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian, lalu Aku sempurnakan balasannya. Siapa yang mendapati kebaikan maka hendaklah ia memuji Allah, dan siapa yang mendapati selain itu maka janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim).

Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita menjalani Ramadan, tetapi kini mereka telah berada di alam kubur. Mereka yang dahulu ikut berpuasa, bertarawih, dan berdoa bersama kita kini telah kembali kepada Allah. Sementara kita masih diberi kesempatan untuk menikmati sisa-sisa Ramadan yang penuh berkah ini. Oleh karena itu, sangat mungkin Ramadan yang sedang kita jalani sekarang adalah Ramadan terakhir dalam kehidupan kita.

Ramadan akan pergi sebagaimana bulan-bulan sebelumnya telah berlalu. Namun amal yang kita lakukan di dalamnya akan tetap tinggal dan tercatat dalam catatan kehidupan kita. Ia akan menjadi saksi yang tidak pernah berdusta pada hari ketika manusia berdiri di hadapan Allah. Karena itu, setiap detik yang tersisa di bulan ini memiliki nilai yang sangat berharga. Tidak sepantasnya seorang mukmin menyia-nyiakan kesempatan yang begitu agung ini.

Para ulama selalu mengingatkan bahwa nilai sebuah amal tidak hanya ditentukan oleh permulaannya, tetapi juga oleh bagaimana amal itu diakhiri. Seseorang mungkin memulai dengan baik, tetapi belum tentu mampu menjaga kebaikan itu hingga akhir. Karena itu, penutup amal memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari).

Pesan Rasulullah ﷺ ini mengandung pelajaran yang sangat dalam bagi setiap orang beriman. Keberhasilan hidup seseorang tidak hanya dilihat dari seberapa banyak amal yang ia lakukan, tetapi juga bagaimana ia mengakhirinya dengan ketaatan kepada Allah. Oleh sebab itu, sisa-sisa Ramadan yang masih kita miliki harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita mengakhiri bulan yang mulia ini dengan kelalaian dan kemalasan.

Ramadan adalah bulan pembebasan dari api neraka. Di dalam bulan ini Allah membebaskan banyak hamba-Nya dari azab yang pedih. Namun orang yang benar-benar beruntung adalah mereka yang mendapatkan taufik untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. Pertanyaannya, apakah kita termasuk di antara mereka yang mendapatkan karunia itu.

Tentu hanya Allah yang mengetahui siapa saja yang termasuk orang-orang yang dibebaskan dari neraka. Oleh karena itu, pada sisa-sisa Ramadan ini kita harus memperbanyak doa dengan penuh kesungguhan. Kita memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan ampunan dan pembebasan dari neraka. Tidak ada jaminan keselamatan bagi siapa pun kecuali dengan rahmat Allah.

Sebaliknya, manusia yang paling merugi adalah mereka yang dibiarkan mengikuti hawa nafsunya hingga Ramadan berlalu tanpa membawa perubahan dalam dirinya. Ia menjalani hari-hari Ramadan sebagaimana hari-hari biasa tanpa memperbaiki iman dan amalnya. Ketika bulan itu pergi, tidak ada bekas kebaikan yang tertinggal dalam hidupnya. Lebih menyedihkan lagi jika namanya tidak termasuk di antara mereka yang dibebaskan dari api neraka.

Karena itu, selama Ramadan belum benar-benar pergi, selama malam-malamnya masih tersisa, dan selama kita masih diberi kesempatan untuk sujud serta berdoa, maka janganlah kita menyia-nyiakannya. Terlebih lagi pada sepuluh malam terakhir yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?” (Al-Qadr: 2).

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena keutamaannya yang luar biasa, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau tidak hanya memperbanyak ibadah untuk dirinya sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya agar ikut menghidupkan malam-malam tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah pribadi, tetapi juga momentum menghidupkan iman dalam keluarga.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengetuk pintu rumah Ali dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma pada malam hari. Beliau mengajak keduanya untuk bangun dan melaksanakan shalat malam. Sambil mengetuk pintu, beliau membaca firman Allah:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

Perintahkan keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam menjaganya.” (Thaha: 132).

Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab menjaga keimanan tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga. Seorang mukmin tidak cukup hanya memperbaiki dirinya sendiri tanpa memperhatikan orang-orang terdekatnya. Ia harus menjadi pengingat dan penguat iman bagi keluarganya. Ramadan adalah waktu terbaik untuk menumbuhkan kebiasaan tersebut.

Karena itu, marilah kita memohon perlindungan kepada Allah dari sifat lemah dan malas. Kita memohon kepada-Nya taufik dan pertolongan agar mampu menghidupkan sisa-sisa Ramadan dengan amal yang terbaik. Kita bertawakal kepada Allah sambil melipatgandakan amal kebaikan dan memperbanyak ibadah. Pada saat yang sama, kita merendahkan diri di hadapan-Nya dengan doa yang penuh harapan.

Salah satu amalan paling agung pada akhir Ramadan adalah memperbanyak doa kepada Allah. Doa adalah bentuk penghambaan yang paling tulus dari seorang hamba kepada Rabbnya. Dalam doa, seorang mukmin mengakui kelemahannya dan memohon pertolongan dari Dzat Yang Maha Kuasa. Karena itu, tidak ada ibadah yang lebih menunjukkan kerendahan hati selain berdoa kepada Allah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang doa yang sebaiknya dibaca ketika mendapati malam Lailatul Qadar. Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa yang sangat agung dan penuh makna. Beliau bersabda agar membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi).

Doa ini mengandung pengakuan bahwa manusia penuh dengan kekurangan dan kesalahan. Kita memohon kepada Allah agar menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan. Kita berharap agar Allah mengganti kelemahan kita dengan ampunan dan rahmat-Nya. Karena itu, doa ini sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam terakhir Ramadan.

Allah Ta’ala juga menegaskan kedekatan-Nya dengan hamba-hamba-Nya yang berdoa. Dia mendengar setiap permohonan yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan. Tidak ada doa yang sia-sia di sisi Allah, meskipun terkadang jawabannya tidak datang dalam waktu yang kita harapkan. Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 186).

Tidak ada kenikmatan yang lebih besar bagi seorang mukmin selain bermunajat kepada Allah. Dalam doa, hati menemukan ketenangan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Sebaliknya, ketika seseorang kehilangan rasa nikmat dalam berdoa dan beribadah, itu merupakan salah satu bentuk ujian yang berat dalam kehidupan. Oleh karena itu, janganlah kita berhenti berdoa dan jangan pernah bosan mengetuk pintu langit.

Sesungguhnya Rabb kita tidak pernah menolak orang yang memohon kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. Dia adalah tempat berlindung bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dia juga penolong bagi mereka yang berharap kepada-Nya dalam kesulitan. Setiap doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus akan mendapatkan perhatian dari Allah.

Betapa besar kedudukan doa dalam kehidupan seorang mukmin. Doa mampu menghadirkan akhir kehidupan yang baik dan memperbaiki keadaan seseorang. Ia juga menjadi sebab datangnya keberkahan dalam amal dan keluasan rezeki. Oleh karena itu, janganlah tergesa-gesa menunggu jawaban dari doa yang kita panjatkan.

Rabb kita mencintai hamba yang terus memohon kepada-Nya dengan penuh kesabaran. Dia menyukai kerendahan hati dan ketundukan seorang hamba yang berharap kepada-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:

يُسْتَجابُ لأحَدِكُمْ ما لَمْ يَعْجَلْ، يقولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud. Pada saat itu, seorang mukmin berada dalam posisi yang paling rendah di hadapan Allah. Karena itu, beliau menganjurkan agar memperbanyak doa ketika sedang sujud. Beliau bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ العَبْدُ مِن رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa pada saat itu.” (HR. Muslim).

Pada akhirnya, pertanyaan besar yang harus kita renungkan adalah apa yang benar-benar tersisa di dalam diri setelah Ramadan berlalu. Apakah hati kita menjadi lebih lembut dan lebih dekat kepada Allah, atau justru kembali seperti sebelum Ramadan datang. Apakah kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih dermawan, dan lebih rajin beribadah. Ataukah semua kebiasaan baik itu akan hilang seiring berlalunya bulan suci ini.

Ramadan sejatinya bukan hanya tentang satu bulan ibadah yang berlalu begitu saja. Ia adalah madrasah yang mendidik jiwa agar tetap hidup dalam ketaatan sepanjang tahun. Jika Ramadan berhasil mengubah diri kita menjadi lebih baik, maka itulah tanda bahwa ibadah kita diterima oleh Allah. Namun jika tidak ada perubahan dalam diri kita, maka kita perlu merenungkan kembali bagaimana kita menjalani bulan yang mulia itu. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search