“Thinking before reacting is a sign of true maturity”
“(Berpikir sebelum bereaksi adalah tanda kedewasaan sejati)”
Amarah adalah gejolak emosi yang sering kali sulit dikendalikan. Ketika amarah menguasai diri, rasanya seperti ada api yang membakar jiwa dan pikiran, membuat kita kehilangan akal sehat dan bertindak di luar kendali. Namun, Islam mengajarkan cara-cara efektif untuk meredam amarah dan kembali pada ketenangan.
Salah satu cara yang dianjurkan adalah dengan mengubah posisi. Ketika amarah memuncak saat kita berdiri, cobalah untuk duduk. Jika masih belum reda, berbaringlah. Perubahan posisi ini secara fisik dapat merendahkan ego dan emosi, sehingga pikiran bisa lebih jernih. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar orang yang marah untuk duduk atau berbaring. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.
Artinya:
“Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud No. 4782)
Jika amarah masih berkobar, padamkanlah dengan air wudu. Air memiliki sifat menenangkan dan membersihkan. Wudu bukan hanya membersihkan fisik, tetapi juga spiritual, memadamkan api amarah yang diprovokasi oleh setan. Setelah berwudu, lakukanlah salat dua rakaat.
Salat adalah ibadah yang paling komprehensif, di dalamnya terkandung zikir, doa, istigfar, dan tawakal. Saat bersujud, kita meletakkan dahi di tempat yang paling rendah, sebuah simbol kepasrahan total kepada Allah. Di sinilah ketenangan hakiki akan kita temukan, meredakan hati dan pikiran dari gejolak amarah.
Jadi, mengendalikan amarah adalah jihad terbesar. Dengan menerapkan sunah Nabi Muhammad SAW mengubah posisi dan memadamkan amarah dengan wudu serta salat kita tidak hanya meredakan emosi, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah, Sang Maha Pemberi Ketenangan.
Semoga bermanfaat.
