Memasuki usia 113 tahun, Muhammadiyah dihadapkan pada pertanyaan penting: apakah semangat tajdid Kiai Ahmad Dahlan masih hidup dalam gerakan hari ini? Milad ini menjadi momen menilai kembali realisasi agenda Muktamar 2022 yang menargetkan akselerasi melalui delapan program prioritas.
Sejumlah capaian mulai terlihat dari internasionalisasi, digitalisasi hingga penguatan kaderisasi. Namun berbagai tantangan juga muncul, seperti kesenjangan antarwilayah, perubahan kebutuhan generasi muda serta dinamika sosial-politik nasional. Karena itu, refleksi menjadi keharusan agar Muhammadiyah tetap relevan sebagai gerakan pembaruan yang memadukan kekuatan moral, intelektual dan aksi sosial.
Menapaki Usia 113 Tahun: Saat Tradisi Tajdid Diuji Ulang
Ketika Muhammadiyah memasuki usia 113 tahun, pertanyaan besar kembali menggema: Apakah gerakan tajdid yang diwariskan Kiai Ahmad Dahlan masih berdenyut dalam tubuh Persyarikatan? Milad ini tidak hanya berbicara angka, tetapi cermin panjang perjalanan reformasi Islam yang terus diulang, diuji dan dikoreksi. Sejak Muktamar ke-48 dengan tema “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta” sebenarnya bukan hanya slogan, tetapi janji intelektual dan moral bahwa Muhammadiyah tidak boleh puas menjadi pewaris sejarah. Muhammadiyah harus menjadi penentu masa depan.
Periode 2022–2027 dirancang sebagai era akselerasi. Ada delapan program prioritas yang menjadi peta jalan. Namun, sebagaimana lazimnya gerakan besar, capaian-capaian ini selalu datang bersama ketegangan internal, dilema moral dan tantangan struktural. Di titik inilah refleksi menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
Antara Capaian dan Pekerjaan Rumah: Membaca Program Prioritas
A. Internasionalisasi Muhammadiyah: Antara Misi Global dan Jati Diri
Internasionalisasi Persyarikatan mungkin merupakan ambisi paling visioner dalam periode ini. Kehadiran PCIM dan PCIA dari Melbourne, Kairo, Ankara, Tokyo hingga New York telah mendorong Muhammadiyah tampil sebagai wajah Islam Indonesia yang moderat, rasional dan humanis di panggung global. Bagi diaspora, PCIM/PCIA bukan sekedar tempat pengajian, melainkan juga tempat berkembang menjadi pusat studi, layanan sosial hingga advokasi terhadap isu-isu kemanusiaan dan minoritas Muslim.
Namun, keberhasilan ini menyimpan dua catatan penting:
1. Diversitas Geografis
Muhammadiyah tidak hadir dalam ruang sosial yang homogen. Kultur masyarakat muslim di Jerman sangat berbeda dengan di Mesir; diskursus Islam di Amerika tidak sama dengan di Malaysia. Tantangan besarnya adalah bagaimana menjaga DNA Persyarikatan tetap otentik tanpa memaksa homogenisasi. Muhammadiyah perlu memberi ruang improvisasi, agar setiap PCIM mampu berdiri sesuai konteks sosial budayanya, tanpa kehilangan arah ideologis.
2. Kemandirian Finansial
Banyak PCIM/PCIA masih menggantungkan keberlanjutan kegiatan pada donasi pusat atau AUM. Jika internasionalisasi ingin menjadi gerakan, bukan program temporal, maka kemandirian finansial adalah keniscayaan. Muhammadiyah harus memfasilitasi model bisnis, networking internasional, hingga filantropi diaspora agar cabang luar negeri tidak sekadar simbol, tetapi menjadi node strategis peradaban global.
B. Digitalisasi Organisasi: Melaju Cepat, Tetapi Tidak Rata
Digitalisasi melalui reformasi SIMAM, teknologi kesehatan dan pendidikan berbasis platform telah memperlihatkan akselerasi nyata terutama di AUM besar yang memiliki sumber daya kuat. Rumah sakit besar Muhammadiyah semakin akuntabel, sekolah-sekolahnya makin profesional.
Tetapi modernisasi ini meninggalkan bayang-bayang kesenjangan digital. Cabang dan ranting di wilayah 3T masih tertinggal jauh. Ironisnya, digitalisasi kadang lebih banyak bergerak di level administrasi, bukan transformasi dakwah. Sementara itu budaya digital belum sepenuhnya menjadi bagian dari pengkaderan.
Maka di sinilah Muhammadiyah diuji:
Apakah digitalisasi akan menjadi mesin pemersatu, atau justru menegaskan jurang antara pusat dan akar rumput?
Kesalehan Digital harus tumbuh secara merata, tidak hanya dalam aplikasi manajemen, tetapi juga dalam literasi dakwah, pendidikan virtual dan penguatan komunitas digital grassroot.
C. Kaderisasi Generasi Muda: Menyentuh yang Dekat, Menjawab yang Genting
Muhammadiyah menyadari bahwa masa depan ada pada Generasi Milenial, Z, dan Alfa. Isu-isu mereka berbeda: kesehatan mental, perubahan iklim, kesetaraan perempuan, alienasi identitas hingga kecemasan hidup digital. Dalam hal ini, organisasi otonom seperti IPM, IMM, PM dan NA telah melangkah lebih progresif daripada gerakan Islam arus utama.
Namun, kaderisasi masih menghadapi persoalan klasik:
1. Model pembelajaran yang masih fiqh-sentris, belum cukup memberi ruang pada wacana sosial, epistemologis dan interdisipliner.
2. Minimnya penetrasi kader ke sektor-sektor strategis seperti birokrasi, media, BUMN dan industri kreatif.
3. Pendekatan kaderisasi yang belum responsif terhadap disrupsi digital dan polarisasi politik.
Jika tidak berani mereformasi kurikulum kaderisasi, Muhammadiyah berpotensi kehilangan relevansi di mata generasi muda kritis yang hidup dalam era hiper-informasi.
Konsistensi Sikap Kebangsaan: Muhammadiyah Sebagai Penjaga Moral Ruang Publik
Dalam turbulensi politik nasional pasca-2022 hingga jelang Pemilu 2024, Muhammadiyah membuktikan dirinya sebagai kekuatan moral yang matang. Manhaj Tarjih tetap menjadi panduan dan sikap politik non-partisan dijaga dengan disiplin. Di tengah polarisasi publik, Muhammadiyah tidak larut dalam arus pragmatisme politik. Peran kritis Muhammadiyah tampak dalam isu-isu seperti:
1. Reformasi sistem pemilu
2. Ketimpangan ekonomi
3. Keadilan hukum
4. Ketahanan keluarga
5. Moderasi beragama
Di era ketika banyak ormas terjebak politik praktis, Muhammadiyah memilih menjadi partner kritis negara. Mengapresiasi yang benar, tetapi tegas menyinggung yang salah. Sikap ini semakin mengokohkan posisinya sebagai pilar civil society yang menjaga demokrasi tetap bernalar.
Otokritik sebagai Nafas Tajdid
Muhammadiyah telah membuktikan banyak capaian dalam tiga tahun terakhir. Internasionalisasi bergerak, digitalisasi berkembang, kaderisasi terus disempurnakan. Namun, di usia 113 tahun, tantangan sebenarnya bukan pada program, melainkan pada keberanian melakukan otokritik.
Ada dua agenda besar yang mendesak:
1. Mengatasi Kesenjangan Center–Periphery
AUM maju harus menjadi motor penggerak untuk cabang dan ranting. Muhammadiyah adalah gerakan umat, bukan gerakan kota. Penguatan akar rumput harus kembali menjadi prioritas ideologis.
2. Harmonisasi Teologi Aksi
Risalah Islam Berkemajuan harus hadir sebagai energi pemberdayaan dalam mengurai kemiskinan struktural, menjaga bumi dari krisis iklim, membela keadilan bagi perempuan dan kelompok rentan.
Visi “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta” hanya akan bermakna apabila teologi aksi Muhammadiyah menjadi praksis sosial yang menyentuh mereka yang tertindas dan terpinggirkan.
Muhammadiyah hari ini adalah peradaban. Namun peradaban hanya bertahan bila ia terus mereformasi dirinya. Setiap generasi memikul amanah yang sama: menjaga bara tajdid agar tidak padam, dan memastikan bahwa cahaya Islam Berkemajuan benar-benar menerangi semesta. (*)
