Rekening Gelap di Balik Kursi Kekuasaan

Rekening Gelap di Balik Kursi Kekuasaan
*) Oleh : Syahrul Ramadhan, S.H, M.Kn.
Sekretaris : LBH AP PDM LUMAJANG
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah rekening yang tidak pernah tercatat di bank mana pun. Tidak ada kartu debit, tidak ada buku tabungan, bahkan tidak ada aplikasi mobile banking untuk memantau transaksinya. Rekening ini tersembunyi, tapi saldo di dalamnya terus bertambah tanpa pernah salah catat. Orang-orang menyebutnya: rekening gelap di balik kursi kekuasaan.

Rekening ini bukan diisi dengan uang, melainkan dengan amanah yang disia-siakan, dengan hak orang kecil yang diabaikan, dengan kebijakan yang hanya menyenangkan kelompok, atau dengan khutbah yang penuh kepentingan. Setiap kali ada yang melupakan tanggung jawab, maka tercatatlah setoran baru di rekening gelap itu.

Saldo yang Bertambah Diam-Diam

Uniknya, rekening ini bisa bertambah tanpa terasa. Seorang pemimpin sibuk menuding kesalahan orang lain, tapi lupa bercermin. Seorang pengurus rapat membicarakan idealisme, padahal diam-diam membiarkan praktik yang tidak adil. Seorang penceramah lantang bicara agama, tapi hanya untuk modal politik. Semua itu, meski tampak manis di mata manusia, tetap dianggap setoran di rekening gelap oleh Allah.

Hutang Amanah yang Tak Bisa Dicicil

Dulu, jabatan disebut amanah. Tapi di tangan sebagian orang, amanah berubah menjadi hutang. Hutang yang tidak bisa dicicil dengan janji manis, tidak bisa dilunasi dengan tepuk tangan, apalagi dengan seremonial yang penuh pujian. Hutang itu hanya bisa ditebus dengan keadilan, kerja tulus, dan keberanian menegakkan kebenaran, sekalipun pahit.

Kursi yang Bisa Menjadi Bara

Setiap kursi yang diduduki, bisa jadi kursi panas. Setiap tanda tangan di atas kertas bisa berubah menjadi saksi di akhirat. Bahkan, setiap khutbah dan nasihat bisa berubah menjadi bara, bila yang disampaikan hanyalah kemasan indah untuk menutupi niat yang gelap.

Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya (QS. Al-Baqarah: 44):

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Allah)? Maka tidakkah kamu mengerti?

Ayat ini seperti mengetuk: jangan sibuk mengecek rekening orang lain, sementara rekening gelap di balik kursi kita sendiri semakin menggunung.

Rekening gelap itu nyata, meski tak terlihat. Ia menunggu, mencatat, dan kelak akan menagih. Maka pertanyaannya sederhana: apakah kursi yang kita duduki sedang menabung pahala, atau justru menambah saldo rekening gelap yang akan menyeret kita ke dalam api?

 

Tinggalkan Balasan

Search