Pernahkah Anda merasa cemas saat melihat pencapaian orang lain? Ketika seorang teman seangkatan sudah membeli rumah, meraih jabatan tinggi, atau melangsungkan pernikahan, sementara kita masih berjuang di titik yang sama? Perasaan terusik dan terburu-buru ini sering muncul karena kita tanpa sadar memandang hidup—khususnya rezeki—sebagai sebuah arena perlombaan.
Padahal, dalam Islam, rezeki bukanlah sebuah perlombaan lari yang menuntut siapa paling cepat sampai di garis finis. Rezeki adalah takdir yang telah terukur sempurna, ditakar dengan tepat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk setiap hamba-Nya.
Takaran yang Tak Akan Tertukar
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa rezeki setiap makhluk telah dijamin dan diatur dengan sangat teliti:
۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
“Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.350) Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)”. (QS. Hud 6)
350) Menurut sebagian mufasir, yang dimaksud dengan tempat kediaman adalah dunia dan tempat penyimpanan adalah akhirat. Menurut mufasir lain, maksud tempat kediaman adalah rahim dan tempat penyimpanan adalah tulang sulbi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan kita dalam hadisnya: “Sesungguhnya ruh kudus (Malaikat Jibril) membisikkan dalam batinku bahwa jiwa seseorang tidak akan mati sampai disempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah dalam mencari rezeki.” (HR. Ibn Majah)
Tidak ada rezeki yang tertukar. Rezeki yang ditakdirkan untuk Anda tidak akan pernah sampai ke tangan orang lain, dan apa yang didapatkan orang lain memang bukan bagian dari porsi Anda. Membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain hanya akan melahirkan kedengkian (hasad) dan mengikis rasa syukur.
Mengubah Cara Pandang: Dari Membandingkan Menjadi Bersyukur
Mengapa kita kerap merasa tertinggal? Karena kita sering membatasi makna rezeki sebatas materi: uang, kendaraan, atau posisi sosial. Padahal, rezeki Allah sangat luas mencakup hal-hal yang sering kita lupakan:
• Kesehatan tubuh yang membuat kita terbangun tanpa rasa sakit.
• Ketenangan jiwa dan kelapangan dada saat menghadapi ujian.
• Keluarga yang saling menyayangi dan sahabat yang shalih.
• Hidayah dan waktu untuk terus beribadah serta berbuat baik.
Ketika seseorang diberi kelimpahan harta, itu bukanlah tanda bahwa Allah menyayanginya melebihi yang lain. Begitu pula ketika rezeki seseorang terasa sempit, itu bukan tanda Allah membencinya. Keduanya adalah bentuk ujian (imthan). Harta diuji dengan rasa syukur dan kepedulian, sedangkan kesempitan diuji dengan kesabaran dan prasangka baik.
Menikmati Jalur Masing-Masing
Setiap orang memiliki start dan finish line yang berbeda, serta rupa ujian yang disesuaikan dengan kemampuannya. Fulan dipercaya mengelola harta berlimpah karena di sanalah jalan dakwahnya, sementara Fulanah diuji dengan kesederhanaan untuk mengangkat derajat kesabarannya.
Alih-alih menghabiskan energi untuk menoleh ke kanan dan ke kiri, fokuslah pada jalur yang sedang Anda tempuh. Berikhtiarlah secara maksimal, jemput rezeki dengan cara yang halal, dan serahkan hasilnya kepada Allah.
Lomba yang sebenarnya dalam Islam bukanlah lomba mengumpulkan materi, melainkan berlomba-lomba dalam kebaikan:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ
“Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan...” (QS. Al-Baqarah: 148)
Tenanglah. Rezekimu tidak akan diambil orang lain, dan rezeki orang lain tak perlu membuatmu cemas. Berjalanlah dengan ridha, karena kebahagiaan sejati tercipta saat hati merasa cukup (qanaah) atas apa yang telah Allah tetapkan. (*)
