Saat Istighfar tak Sekadar di Bibir

Ustaz Furkan Abidin Ali, S.H.I.
*) Oleh : Furkan Abidin Ali, S.H.I.
Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, baik yang disadari maupun tidak. Ada dosa yang lahir dari ucapan dan perbuatan, ada pula kelalaian hati ketika terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan perintah Allah Swt.

Oleh karena itu, seorang muslim tidak sepatutnya merasa bersih dari dosa. Sebaliknya, ia perlu memperbanyak istighfar, memohon ampunan, serta bersungguh-sungguh memperbaiki diri melalui tobat.

Kapan Waktu Terbaik Beristighfar? Salah satu gambaran indah tentang hamba yang gemar beristighfar diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat ayat 18. Allah Swt memuji mereka yang memanfaatkan waktu sahur untuk memohon ampunan:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Wa bil-ashḥāri hum yastaghfirūn.

“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 18)

Ayat ini mengajarkan bahwa ciri orang bertakwa bukan hanya rajin beribadah, melainkan juga memiliki kerendahan hati untuk mengakui kekurangan diri di hadapan Sang Pencipta.

Istighfar Bukan Sekadar Lisan

Sebagian orang mampu membiasakan diri membaca istighfar ratusan kali, namun masih meremehkan kebohongan, ghibah, kecurangan, atau menyakiti sesama. Padahal, istighfar yang sejati seharunya menjadi pemantik perubahan perilaku.

Rasulullah saw menggambarkan betapa indahnya penerimaan tobat dalam hadisnya: Allah jauh lebih gembira menerima taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang sempat hilang di padang pasir yang luas (HR. Muslim, no. 2747).

Hadis ini menegaskan betapa luasnya rahmat Allah dan bertapa terbukanya kesempatan bagi kita untuk kembali.

Istighfar yang disertai taubat nasuha hendaknya melahirkan lima langkah nyata:

  1. Menyadari kesalahan – Tidak mencari pembenaran atas dosa yang dilakukan.
  2. Menyesali perbuatan – Menumbuhkan kesungguhan batin untuk berubah.
  3. Meninggalkan kemaksiatan – Berhenti melakukan dosa, bukan sekadar mengulang bacaan ampunan.
  4. Bertekad tidak mengulangi – Menjauhi segala hal yang berpotensi menyeret kembali pada dosa.
  5. Memperbaiki hak sesama – Meminta maaf, mengembalikan hak orang lain, atau mengganti kerugian yang pernah ditimbulkan.

Dengan demikian, istighfar bukanlah alasan untuk terus berbuat dosa, melainkan jembatan menuju jalan kebenaran.

Bagi yang belum terbiasa, tidak perlu langsung membebani diri dengan target yang berat. Mulailah secara bertahap dan jagalah konsistensinya. Salah satu bacaan yang ringkas namun padat makna adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullāha wa atūbu ilaih.

“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”

Hayati maknanya dan resapi dalam hati setiap kali melafalkannya.

Jadi, jangan biarkan waktu sahur berlalu hanya untuk menunggu azan Subuh. Jadikan momen hening tersebut untuk bermunajat, mengakui kelemahan, dan menjemput ampunan-Nya.

Para sahabat, generasi tabi’in, hingga tabi’ut tabi’in telah mewariskan keteladanan mulia dalam menjaga kebersihan jiwa dan keistikamahan ibadah. Kini, giliran kita untuk menghidupkan kembali semangat tersebut dalam keseharian. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search