“Regretting because you chose the wrong partner is the most expensive lesson. Be careful, because he will be your friend until the end of your life”
“(Menyesal karena salah memilih pasangan adalah pelajaran termahal. Hati-hati, karena ia akan menjadi kawanmu sampai akhir hayat)”
Proses ta’aruf yang hati-hati adalah ikhtiar terbaik, namun pernikahan tetap merupakan takdir dan ladang ujian. Jika Anda merasa “salah pilih jodoh,” ketahuilah bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan setiap kesulitan pasti mengandung hikmah. Allah SWT berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar-Rum: 21)
Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa tujuan utama pernikahan adalah sakinah (ketenangan) dan hadirnya mawaddah (cinta yang bersemi) serta rahmah (kasih sayang) meskipun ada perbedaan. Jika ketenangan belum tercapai, berarti perjuangan untuk mewujudkan mawaddah dan rahmah masih harus dilanjutkan.
Solusi dalam Bingkai Syariat:
1. Kondisi Ekstrem (Sangat Berat): Jika rumah tangga sudah mencapai kondisi yang sangat ekstrem dan membawa mudarat (keburukan) yang lebih besar pada agama, jiwa, atau keselamatan, maka mengambil langkah yang lebih maslahat, termasuk perpisahan, adalah pilihan syar’i. Dalam hadis, Dari Abu Said Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Khudry, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
Artinya:
”Tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan bahaya bagi orang lain.” (HR. Ibnu Majah No. 2341)
2. Kondisi Tidak Ekstrem (Bisa Diperbaiki): Jika masalahnya masih memungkinkan, maka bertumbuhlah bersama. Keutamaan memilih pasangan, sebagaimana sabda Nabi, adalah karena agamanya (fadhfar bidzatiid diin), sebab agama adalah fondasi. Jika sama-sama memiliki niat tulus untuk memperbaiki diri dan berpegang pada agama, Insya Allah kekurangan bisa ditutupi, karena pernikahan adalah sekolah kesabaran.
Jadi, jodoh adalah takdir yang membutuhkan ikhtiar. Jika Anda merasa ‘salah’, ingatlah bahwa Allah tidak pernah salah. Berjuanglah untuk mewujudkan sakinah, mawaddah, wa rahmah yang dijanjikan-Nya. Hanya jika kondisi sudah sangat merusak, syariat memberi jalan keluar. Namun selama niat baik masih ada, perbaiki diri, fokus pada agama, dan berjuanglah bersama pasangan.
Semoga bermanfaat. (*)
