Salat Istisqa dan Hujan di Surabaya: Saatnya Memperkuat Syukur dan Dakwah Ekologis

Salat Istisqa dan Hujan di Surabaya: Saatnya Memperkuat Syukur dan Dakwah Ekologis
*) Oleh : Anang Dony Irawan
Wakil Ketua PCM Sambikerep & Dosen FH UMSURA
www.majelistabligh.id -

Hujan yang mengguyur sebagian besar kecamatan di Kota Surabaya pada Senin (26/10/2026) malam menjadi kabar yang disambut dengan rasa syukur setelah masyarakat menghadapi cuaca panas dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, turunnya hujan menjadi momentum untuk memperkuat doa, muhasabah, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sebelumnya, suhu udara maksimum di Surabaya selama Oktober 2026 dilaporkan mencapai 35°C hingga 38°C berdasarkan informasi yang merujuk pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda. Kondisi tersebut menggambarkan tantangan cuaca panas yang dirasakan masyarakat dan mengingatkan pentingnya ketersediaan air bagi kehidupan.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, warga Muhammadiyah dari berbagai jenjang pimpinan bersama seluruh komponen Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) melaksanakan salat istisqa, yaitu salat sunah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.

Pelaksanaan salat istisqa bukan hanya menjadi ikhtiar spiritual, melainkan juga kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri. Di tengah persoalan lingkungan yang semakin nyata, doa perlu disertai kesadaran untuk memperbaiki perilaku dan menjaga alam sebagai amanah dari Allah SWT.

Muhammadiyah Serukan Salat Istisqa dan Muhasabah

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan Maklumat Nomor 2/MLM/I.1/E/2026 tentang Seruan Pelaksanaan Salat Istisqa, Muhasabah, dan Ikhtiar Bersama Menghadapi Kemarau Panjang serta Kebakaran Hutan dan Lahan pada 20 Oktober 2026.

Maklumat tersebut menyerukan pelaksanaan salat istisqa, terutama di wilayah yang menghadapi kekeringan dan karhutla. Umat Islam juga diajak memperbanyak istigfar, bertobat, melakukan muhasabah, bersedekah, dan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak.

Seruan ini menegaskan bahwa menghadapi persoalan lingkungan tidak cukup hanya dengan mengeluhkan keadaan. Umat perlu mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mengambil langkah nyata untuk membantu sesama dan mencegah kerusakan lingkungan.

Salat istisqa mengajarkan manusia untuk menyadari keterbatasannya. Hujan merupakan karunia Allah SWT yang sangat dibutuhkan bagi keberlangsungan kehidupan. Karena itu, ketika hujan turun, umat Islam diajak untuk bersyukur. Sementara ketika hujan belum merata, doa dan ikhtiar tetap harus dilanjutkan.

Hujan yang turun di Surabaya setelah periode cuaca panas menjadi pengingat untuk memperkuat rasa syukur. Namun, turunnya hujan tidak boleh membuat masyarakat melupakan daerah lain yang masih menghadapi kekeringan dan dampak kebakaran hutan serta lahan.

Muhasabah: Menjaga Alam sebagai Amanah

Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam Surah Ar-Rum ayat 41, Allah SWT berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Ayat tersebut mengandung pesan agar manusia melakukan muhasabah atas perilakunya terhadap alam. Kerusakan lingkungan harus menjadi bahan evaluasi bersama, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam penyelenggaraan pembangunan.

Manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi. Amanah tersebut bukan berarti manusia bebas memanfaatkan alam tanpa batas, melainkan bertanggung jawab menjaga keseimbangan dan keberlanjutan kehidupan.

Karena itu, dakwah tentang lingkungan perlu menjadi bagian dari pembinaan umat. Kesadaran beragama seharusnya mendorong perilaku yang tidak merusak alam, tidak boros menggunakan air, tidak membakar lahan sembarangan, serta aktif menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Dalam konteks ini, muhasabah tidak berhenti pada penyesalan atas keadaan. Muhasabah harus melahirkan perubahan sikap dan tindakan yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Menguatkan Dakwah Ekologis melalui Masjid dan Amal Usaha Muhammadiyah

Masjid dan lembaga dakwah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran umat terhadap persoalan lingkungan. Pesan tentang pentingnya menjaga air, melindungi hutan, mencegah kebakaran, dan membantu masyarakat terdampak dapat disampaikan melalui khutbah, pengajian, kajian keislaman, serta kegiatan sosial.

Bagi Muhammadiyah, momentum salat istisqa dapat menjadi penguat dakwah ekologis yang mengintegrasikan ibadah dengan aksi nyata. Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial juga dapat berkontribusi melalui edukasi lingkungan, penghematan air, penghijauan, dan bantuan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.

Gerakan tersebut penting agar pesan keagamaan tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari kepedulian terhadap manusia, karena kerusakan alam pada akhirnya berdampak pada kesehatan, mata pencaharian, dan kesejahteraan masyarakat.

Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga menekankan pentingnya ikhtiar nyata, antara lain pencegahan dan pemadaman kebakaran, penegakan hukum secara adil, serta penyediaan air bersih dan layanan kesehatan bagi warga terdampak.

Dengan demikian, dakwah ekologis bukan sekadar tema tambahan dalam kegiatan keagamaan. Dakwah ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Bersyukur atas Hujan, Tidak Berhenti Berikhtiar

Turunnya hujan di sebagian besar kecamatan Surabaya pada Senin malam (26/10/2026) patut disyukuri. Namun, rasa syukur perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menjaga sumber air, memelihara daerah resapan, menghemat penggunaan air, dan merawat lingkungan sekitar.

Masyarakat juga perlu tetap waspada terhadap berbagai risiko setelah periode kemarau panjang. Hujan yang turun dengan intensitas tinggi dapat menimbulkan persoalan baru apabila saluran air tersumbat dan kawasan resapan mengalami kerusakan. Karena itu, menjaga lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika kekeringan terjadi.

Di sisi lain, solidaritas kepada masyarakat yang masih terdampak kekeringan harus terus diperkuat. Bantuan air bersih, pelayanan kesehatan, dan dukungan sosial menjadi bentuk kepedulian yang dapat dilakukan bersama oleh masjid, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas.

Salat istisqa mengingatkan umat bahwa doa dan ikhtiar merupakan dua hal yang tidak seharusnya dipisahkan. Doa meneguhkan penghambaan kepada Allah SWT, sedangkan tindakan nyata menjadi wujud tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan.

Hujan yang turun hendaknya tidak hanya menghadirkan kesejukan setelah cuaca panas, tetapi juga menumbuhkan kesadaran baru untuk menjaga bumi. Umat Islam perlu terus memperkuat keimanan sekaligus membangun kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search