Satu Kebohongan Merobek Jutaan Kejujuran

*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Betapa rapuhnya kepercayaan dan betapa mahalnya nilai kejujuran. Ungkapan seperti: “Satu kebohongan merobek jutaan kejujuran, satu kesalahan merobek ribuan kepercayaan.”

Kata-kata ini bukan sekadar retorika, tapi refleksi mendalam tentang bagaimana satu tindakan bisa menghancurkan fondasi hubungan, komunitas, bahkan peradaban.

Harga Sebuah Kebohongan
Dampak Langsung
* Kehilangan Kepercayaan: Sekali rusak, sulit dipulihkan.
* Kerusakan Reputasi: Individu, lembaga, bahkan bangsa bisa tercoreng.
* Efek Domino: Satu kebohongan bisa melahirkan kebohongan lain untuk menutupinya.

Dampak Tak Terlihat
* Kegelisahan Batin: Pelaku kebohongan sering hidup dalam ketakutan dan penyesalan.
* Keretakan Sosial: Komunitas bisa terpecah karena hilangnya rasa aman dan saling percaya.
* Kehancuran Spiritualitas: Dalam perspektif Islam, kebohongan adalah dosa yang menghalangi ridho Allah.

Satu Kebohongan Merobek Jutaan Kejujuran
* Sebuah benang kejujuran yang dijalin rapi, lalu satu simpul kebohongan menarik dan merusaknya, menyebabkan       benang-benang lain ikut terurai.
* Kebohongan pertama: Biasanya kecil, tapi membuka celah keraguan.
* Kerusakan kepercayaan: Setiap kebohongan menurunkan kredibilitas.
* Dampak sosial: Ketidakpercayaan menyebar, merusak komunitas dan sistem.
* Pemulihan: Butuh waktu, konsistensi, dan keberanian untuk mengakui dan memperbaiki.

Pesan spiritual:
“Kejujuran adalah cahaya fitrah. Sekali redup, hanya taubat dan istikamah yang bisa menyalakannya kembali.”

Satu Kesalahan Merobek Ribuan Kepercayaan
* Sebuah jembatan kepercayaan yang kokoh, lalu satu batu kesalahan jatuh dan menyebabkan retakan yang             menjalar ke seluruh struktur.
* Kesalahan kecil: Bisa berupa kata yang tidak dijaga, keputusan yang tidak adil, atau tindakan yang melukai.
* Efek berantai: Retakan menyebar ke hubungan, reputasi, dan sistem nilai.
* Respons yang menentukan: Apakah retakan diperbaiki dengan kejujuran dan tanggung jawab, atau dibiarkan     hingga runtuh?

Pesan spiritual:
“Kesalahan bukan akhir, tapi awal dari kejujuran yang diuji. Kepercayaan bisa tumbuh kembali, jika akar taubat dan amanah ditanam dalam hati.”

Kalimat “Satu Kebohongan Merobek Jutaan Kejujuran” sangat selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an yang menekankan pentingnya kejujuran dan bahayanya kedustaan. Meskipun tidak ada ayat yang secara harfiah menyebut “jutaan kejujuran,” banyak ayat dan hadis yang menggambarkan dampak destruktif dari kebohongan terhadap integritas pribadi dan sosial.

1. QS. At-Taubah: 119
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!

Ayat ini menegaskan bahwa kejujuran adalah identitas orang beriman dan menjadi syarat kebersamaan dalam kebaikan.

2. QS. Al-Mu’min: 28
ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi pendusta.

Ayat ini menunjukkan bahwa kebohongan bukan hanya dosa personal, tapi juga penghalang hidayah dan kebenaran.

3. QS. Al-An’Am: 28
وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ
Artinya: Sesungguhnya mereka benar-benar para pendusta.

Ayat ini menggambarkan bagaimana kebohongan bisa menjadi pola hidup yang menyesatkan dan merusak kepercayaan.

Hadis Nabi ﷺ (HR. Muslim no. 2607)
“Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka…”

Hadis ini menjelaskan efek berantai dari kebohongan: dari satu dusta menuju kerusakan moral dan spiritual.

Ayat yang paling mendekati makna “satu kesalahan merobek ribuan kepercayaan” adalah Surat Al-Hujurat ayat 12, yang menggambarkan bagaimana satu tindakan buruk—seperti prasangka, tajassus (mencari-cari kesalahan), atau ghibah—dapat menghancurkan kehormatan dan kepercayaan dalam komunitas:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Makna mendalamnya:
* Buruk sangka bisa menjadi awal dari keretakan hubungan, bahkan jika belum terbukti.
* Tajassus (mengintai kesalahan) merusak rasa aman dan saling percaya.
* Ghibah (menggunjing) digambarkan sekeji memakan daging saudara yang telah mati—simbol kehancuran martabat dan kepercayaan.

Dalam Hadis di tegaskan:
Jika engkau mengikuti cela (kesalahan) kaum muslimin, engkau pasti merusak mereka atau hampir merusak mereka.” (HR. Abu Dawud)

 

Tinggalkan Balasan

Search