Segala yang Kita Miliki Hanyalah Titipan

Segala yang Kita Miliki Hanyalah Titipan
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada masa ketika manusia begitu sibuk menjaga apa yang dimilikinya. Ia bekerja keras mengumpulkan harta, berjuang meraih jabatan, merawat kesehatan, membangun keluarga, dan menyusun masa depan seolah-olah semua itu akan selalu berada dalam genggamannya. Kita merasa tenang ketika semuanya berjalan sesuai harapan.

Namun, terkadang kita lupa bahwa tidak semua yang berada dalam genggaman benar-benar menjadi milik kita selamanya. Ada yang datang sebagai anugerah, ada yang tumbuh melalui perjuangan, dan ada pula yang suatu saat harus pergi tanpa sempat kita persiapkan.

Dalam ajaran Islam, segala yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Harta yang kita banggakan, jabatan yang kita pertahankan, kesehatan yang kita nikmati, orang-orang yang kita cintai, bahkan kehidupan yang sedang kita jalani, semuanya berada dalam kekuasaan-Nya.

Manusia hanya diberi kesempatan untuk menikmati, merawat, dan memanfaatkannya selama waktu yang telah ditetapkan. Kita boleh berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan apa yang dimiliki, tetapi kita tidak pernah mempunyai kuasa mutlak untuk memastikan bahwa semuanya akan tetap bersama kita.

Sering kali, kesadaran itu baru muncul ketika kehilangan datang mengetuk pintu kehidupan. Seseorang yang dahulu hidup berkecukupan mendadak kehilangan pekerjaannya. Orang yang merasa sehat tiba-tiba harus menghadapi penyakit. Ada yang kehilangan rumah karena bencana, kehilangan kepercayaan karena pengkhianatan, atau kehilangan orang tercinta yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Pada saat seperti itu, dunia seakan berhenti berputar. Kita bertanya mengapa semua ini terjadi, mengapa sesuatu yang begitu dicintai harus pergi, dan mengapa doa-doa yang dipanjatkan seolah tidak mampu mengubah keadaan.

Namun, kehilangan tidak selalu berarti bahwa Allah sedang meninggalkan kita. Ada hal-hal yang tidak mampu kita pahami ketika sedang terluka. Kita melihat sesuatu yang direnggut dari kehidupan, tetapi belum tentu mampu melihat pelajaran yang mungkin tumbuh setelahnya. Meski demikian, kita juga tidak perlu memaksakan diri untuk menganggap setiap musibah sebagai sesuatu yang mudah diterima.

Bersedih adalah manusiawi. Menangis bukan tanda lemahnya iman. Bahkan orang beriman pun dapat merasakan duka yang mendalam. Yang perlu dijaga adalah agar kesedihan tidak membuat kita kehilangan harapan dan menjauh dari Allah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah kalimat yang mengandung pelajaran mendalam ketika seseorang menghadapi kehilangan: “Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki waktu yang telah ditentukan. Maka bersabarlah dan berharaplah pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan ini mengingatkan kita bahwa apa yang datang dan pergi dari kehidupan tidak pernah terlepas dari keterbatasan manusia. Kesadaran tersebut bukan untuk membuat kita berhenti berusaha, melainkan agar kita tidak merasa memiliki kuasa atas segala sesuatu.

Jika harta berkurang, kita tetap harus berikhtiar untuk bangkit. Jika jabatan hilang, kita masih dapat memperbaiki diri dan menemukan jalan pengabdian yang lain. Jika kesehatan terganggu, kita perlu berobat dan menjaga tubuh sebaik mungkin. Jika orang yang kita cintai meninggal dunia, kita boleh merasakan duka, mengenang kebaikannya, dan mendoakannya. Keimanan tidak mengajarkan manusia untuk menyerah pada keadaan. Sebaliknya, keimanan mengajarkan kita untuk tetap berusaha tanpa menggantungkan seluruh kebahagiaan pada sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.

Ada pula pelajaran yang lebih halus dari kehilangan: jangan sampai kita baru menyadari nilai sesuatu setelah ia pergi. Ketika sehat, kita sering lupa bersyukur atas tubuh yang memungkinkan kita beraktivitas. Ketika keluarga masih berkumpul, kita terkadang terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Ketika memiliki kesempatan, kita menunda kebaikan seolah waktu tidak akan pernah habis. Padahal, banyak hal yang paling berharga dalam hidup justru tidak dapat dibeli dengan uang dan tidak selalu bisa dikembalikan setelah hilang.

Karena itu, memahami bahwa segala sesuatu hanyalah titipan seharusnya membuat kita lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan. Kita tidak dilarang memiliki harta, mengejar cita-cita, menduduki jabatan, atau menikmati kebahagiaan bersama keluarga. Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci dunia. Yang perlu dihindari adalah ketika dunia menguasai hati, sehingga kita merasa paling berharga saat memiliki banyak hal dan merasa tidak berarti ketika kehilangan sebagian darinya. Harta seharusnya menjadi sarana berbuat baik, jabatan menjadi kesempatan untuk melayani, dan keluarga menjadi amanah yang kita cintai serta jaga dengan penuh tanggung jawab.

Lalu, apakah setiap kehilangan pasti diganti dengan sesuatu yang lebih baik di dunia? Kita tidak selalu dapat memastikan bentuk dan waktunya. Ada kehilangan yang tidak tergantikan oleh apa pun di dunia ini. Namun, seorang mukmin diajarkan untuk tetap berharap pada rahmat Allah, meyakini bahwa kesabaran tidak sia-sia, dan percaya bahwa kebaikan yang Allah janjikan tidak terbatas pada apa yang dapat kita lihat sekarang. Terkadang, yang kita harapkan bukanlah sesuatu yang kembali seperti semula, melainkan hati yang perlahan pulih, kekuatan untuk melanjutkan hidup, atau pahala yang kelak kita temukan di sisi-Nya.

Pada akhirnya, kehidupan mengajarkan kita satu kenyataan yang tidak selalu mudah diterima: kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa dan kelak meninggalkannya tanpa membawa apa yang selama ini kita kumpulkan, kecuali amal yang telah kita usahakan dengan izin Allah. Maka, jangan terlalu sombong ketika memperoleh banyak hal, dan jangan merasa hidup telah berakhir ketika sebagian darinya pergi. Syukuri apa yang masih ada, rawat apa yang dipercayakan, perjuangkan apa yang masih mungkin diusahakan, dan ikhlaskan apa yang memang telah menjadi ketetapan-Nya.

Sebab, kedewasaan iman bukanlah ketika kita tidak pernah takut kehilangan, melainkan ketika kita tetap mampu bersyukur saat menerima dan berusaha bersabar saat kehilangan. Kita belajar mencintai tanpa merasa memiliki secara mutlak, menjaga tanpa merasa berkuasa sepenuhnya, serta berjuang tanpa melupakan siapa pemilik segala sesuatu. Selama masih diberi waktu, gunakanlah titipan itu untuk menebar manfaat, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah. Sebab, yang terpenting bukanlah berapa lama sesuatu berada dalam genggaman kita, melainkan seberapa baik kita menjaganya selama ia dipercayakan kepada kita.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search