Semua Orang Punya Hati, Tapi Tidak Semua Punya Kepedulian

Semua Orang Punya Hati, Tapi Tidak Semua Punya Kepedulian
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Ia menyinggung perbedaan antara memiliki potensi rasa (hati) dan mengaktualisasikan rasa itu dalam tindakan nyata (kepedulian).

Hati: Anugerah Fitrah

Setiap manusia diciptakan dengan hati. Hati adalah pusat rasa, tempat bersemayamnya cinta, empati, dan nurani. Ia adalah anugerah fitrah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Namun, memiliki hati saja tidak cukup. Hati bisa menjadi lembut atau keras, bisa peka atau beku, tergantung bagaimana kita merawatnya. Hati: simbol fitrah, kemampuan dasar manusia untuk merasakan, mencintai, dan berempati.

Kepedulian: Hati yang Berbuah Aksi

Kepedulian adalah wujud nyata dari hati yang hidup. Ia bukan sekadar rasa iba, melainkan tindakan yang lahir dari kesadaran. Menyapa orang yang kesepian, membantu yang kesulitan, menjaga lingkungan, atau sekadar mendengarkan dengan tulus – semua itu adalah bentuk kepedulian. Tanpa kepedulian, hati hanya menjadi simbol kosong yang tidak memberi manfaat bagi sesama. Kepedulian: bukan sekadar rasa, tapi aksi: mendengar, menolong, berbagi, menjaga.

Pesan pentingnya: kepedulian adalah pilihan sadar, bukan otomatis lahir dari sekadar memiliki hati. Banyak orang berhenti di rasa, sedikit yang melangkah ke aksi.

Mengapa Kepedulian Itu Penting?

Menumbuhkan rasa kemanusiaan: Kepedulian membuat kita sadar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.
Menguatkan ikatan sosial: Masyarakat yang peduli akan lebih kokoh, saling menopang di saat suka maupun duka.
Mendekatkan diri pada Allah: Dalam banyak ayat dan hadis, kepedulian terhadap sesama adalah jalan menuju ridha-Nya.

Tantangan: Mengapa Banyak Hati yang Tidak Peduli?

Ada orang yang memiliki hati, tetapi membiarkannya tertutup oleh ego, kesibukan, atau ketakutan. Mereka merasa cukup dengan perasaan, tanpa mau bergerak. Padahal, kepedulian menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menanggung sedikit beban demi orang lain.

Ajakan: Jadikan Hati Kita Berguna

Mari kita renungkan: apakah hati kita hanya sekadar ada, atau sudah menjadi sumber kepedulian? Jangan biarkan hati membeku. Latihlah ia dengan:
* Membiasakan diri melihat kebutuhan orang lain.
* Menyisihkan waktu, tenaga, atau harta untuk membantu.
* Menumbuhkan empati melalui doa dan refleksi

Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap manusia diberi hati, tetapi tidak semua hati digunakan untuk memahami dan peduli. Salah satu ayat yang sangat relevan adalah QS. Al-A‘raf [7]:179, yang menggambarkan orang-orang yang memiliki hati namun tidak dipakai untuk memahami kebenaran.

Ayat Al-Qur’an yang Menjelaskan
QS. Al-A‘raf [7]:179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

Makna ayat ini:
* Semua orang diberi hati (qalb), mata, dan telinga sebagai potensi.
* Namun, tidak semua menggunakannya untuk peduli, memahami, dan mengikuti kebenaran.
* Lalai dan tidak peduli menjadikan manusia kehilangan fungsi hati yang sejati.

Ayat Lain yang Menguatkan
QS. Al-Hajj [22]:46
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

Artinya: Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.

QS. Al-Munafiqun [63]:3
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ اٰمَنُوْا ثُمَّ كَفَرُوْا فَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ

Artinya: Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian kufur. Maka, hati mereka dikunci sehingga tidak dapat mengerti.

Hadits-Hadits Tentang Hati dan Kepedulian
1. Hati sebagai Penentu Amal
Rasulullah ﷺ bersabda:
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna: Semua orang punya hati, tetapi tidak semua menjaganya. Hati yang rusak akan melahirkan sikap tidak peduli, keras, dan lalai terhadap sesama.

2. Hati Bisa Menjadi Buta
Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.”
(HR. Muslim, menafsirkan QS. Al-Hajj: 46)

Makna: Ada orang yang memiliki hati, tetapi tidak digunakan untuk peduli dan memahami. Hati yang buta membuat seseorang tidak peka terhadap penderitaan orang lain.

3. Hati yang Bersih Membawa Kepedulian
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Makna: Kepedulian lahir dari hati yang bersih. Allah menilai hati yang hidup dengan empati, bukan sekadar penampilan luar.

4. Hati Bisa Mengeras Karena Lalai
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR. Tirmidzi)

Makna: Hati yang mati tidak lagi peduli. Lalai, sibuk dengan kesenangan, dan tidak mau merenung menjadikan hati kehilangan rasa empati.

Hati adalah fitrah: setiap manusia memilikinya. Kepedulian adalah pilihan: hanya mereka yang mau menggunakan hati untuk memahami, berempati, dan bertindak yang benar-benar peduli. Bahaya lalai: hati yang tidak dipakai untuk peduli akan menjadi keras, tertutup, bahkan lebih sesat daripada binatang ternak.

Semua orang memang punya hati, tetapi tidak semua mau peduli. Kepedulian adalah pilihan, dan pilihan itu menentukan apakah hati kita sekadar berdenyut atau benar-benar hidup. Jadilah manusia yang berguna, bukan sekadar sempurna. Karena kepedulian adalah tanda bahwa hati kita masih hidup, dan hidup kita berarti bagi orang lain. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search