Semua Pasti Dilihat oleh Allah

Semua Pasti Dilihat oleh Allah
*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Warga Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Hari itu, 1 Ramadan 1438 H, adalah hari puasa pertama puteri ketigaku, Lefy Hanin Felicitia. Dalam hidupnya ia belum pernah menjalankan ibadah puasa selama sehari penuh. Karena kebetulan bersamaan dengan hari libur yang cukup panjang, maka ia bertekad menjalankan ibadah puasa ramadhan sehari penuh.

Sepuluh menit menjelang berbuka puasa, ia merengek ingin makan duluan. Setiap detik, ia bertanya, “sudah boleh Yah?”, “boleh ya Ma?”, “sekarang ya Mbak Dhina?”, dan seterusnya. Katanya sudah pusing dan lapar.

Pada hari biasa, ia yang biasanya susah disuruh mandi sore, di bulan Ramadan ia sangat rajin mandi. Kakaknya sampai bertanya, “kok mandi lagi Dik?”

“Iya Mbak biar segerrr”, jawabnya.

Meski ia kepanasan dan kehausan, namun saya yakin ia tidak minum di kamar mandi atau di dapur saat orang lain tidak melihatnya. Meskipun ia lapar sekali, namun saya yakin ia tidak makan ketika tidak ada orang yang mengintipnya. Ia yakin dan telah melakukan kejujuran besar untuk dirinya sendiri.

Apa yang dilakukan oleh anak kecil seperti di atas sebenarnya sama persis dengan apa yang dilakukan oleh muslim muslimah dewasa. Kita tidak membatalkan puasa hanya karena orang lain tidak melihatnya. Kita telah menguji diri kita sendiri untuk jujur dan tidak melanggar aturan Allah, meski orang lain tidak melihatnya.

Ketika kita yakin bahwa Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu, maka kita sesungguhnya telah membangun integritas dalam diri secara nyata. Inilah hikmah puasa yang mestinya bisa diterapkan pada hal-hal lain yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ya, bukan hanya pada saat puasa di bulan Ramadan, semestinya.

Dalan QS Al-Hasyr, dalam sebuah surat yang pendek, Allah mengingatkan kita untuk bertakwa hingga dua kali. Di akhir Ayat, Allah mengingatkan bahwa Allah Maha Mengatahui atas seluruh apa yang dilakukan oleh manusia. Ini artinya bahwa takwa itu sangat dekat dengan kehati-hatian dan rasa takut kepada Allah.

Suatu ketika Umar bin al-Khattab bertanya kepada Ubay bin Kaab, “Apa yang engkau pahami dengan takwa, wahai Ubay bin Ka’ab?”

Ubay bin Ka’ab lalu bertanya balik kepada Umar, “Pernahkah engkau melewati sebuah jalan sempit yang di atasnya ada duri-duri atau kerikil-kerikil tajam yang berserakan?”

“Ya tentu saja pernah,” jawab Umar.

“Maka, apa yang kamu lakukan?”

“Aku melewatinya dengan sangat hati-hati agar tidak tertusuk duri dan terpeleset mengenai batu tajam itu.”

“Dan itulah takwa”, kata Ubay bin Kaab.

Puasa yang kita lakukan akan mengantarkan seseorang pada derajat takwa. Orang yang bertakwa itu berhati-hati dalam bertindak agar tidak melanggar larangan Allah agar ia tidak terjerumus dalam lubang kenistaan. Hal yang demikian, dapat diketahui ketika seseorang selesai menjalankan ibadah puasa atau pasca bulan ramadhan nanti.

Kita bangun keyakinan itu selama sebulan penuh, tapi dalam sekejap bisa hilang dan luntur. Bisa jadi akan terkikis makanan dan minuman yang menggiurkan di hari raya. Atau, karena kita sudah tidak merasakan lapar dan dahaga kembali, sehingga ingatan kita akan Tuhan menyusut? Atau, jangan-jangan keberimanan dan kesalehan kita hanya terbatas muncul pada waktu-waktu tertentu dan di tempat-tempat tertentu, seperti hanya saat Ramadan, saat di masjid dan musalla saja, saat mendengarkan pengajian saja, setelah itu sirna begitu saja? Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan ini hanyalah renungan untuk kita yang telah berpuluh-puluh tahun menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Semoga Allah memberikan ke-istiqamah-an pada kita semua. Aamiin.

 

Tinggalkan Balasan

Search