#Ikhtiar Amal, Khauf, dan Roja’ dalam Perjalanan Seorang Muslim
Suatu hari, seseorang merasa telah mengumpulkan cukup banyak amal untuk berharap masuk surga. Ia rajin salat, gemar bersedekah, berpuasa, membaca Al-Qur’an, dan berusaha menjauhi maksiat. Dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa semua itu menjadi bekal yang membuatnya pantas mendapatkan surga. Tanpa disadari, ia mulai memandang amalnya seperti tabungan, seolah-olah surga adalah hadiah yang wajib diberikan setelah seluruh kewajiban diselesaikan.
Padahal, ada satu pertanyaan mendasar yang patut direnungkan : siapakah yang memberinya kemampuan untuk beribadah sejak awal ?. Bukankah kesehatan, waktu, kesempatan, keimanan, bahkan keinginan untuk berbuat baik, semuanya merupakan karunia Allah? Jika demikian, dengan apa manusia hendak membanggakan amalnya di hadapan Sang Pemberi segala nikmat?
Di sinilah kita perlu memahami sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tidak seorang pun masuk surga semata-mata karena amalnya, bahkan Rasulullah sendiri, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya. Hadis ini bukan ajakan untuk meremehkan amal, melainkan peringatan agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan spiritual.
Bayangkan seorang petani yang bekerja keras menanam benih, menyiram tanaman, dan menjaga ladangnya. Ia memang harus berusaha, tetapi ia tidak dapat memerintahkan matahari bersinar, hujan turun, atau tanah selalu subur. Panen membutuhkan ikhtiar, tetapi hasilnya tetap bergantung pada banyak hal di luar kendalinya. Demikian pula amal saleh: manusia wajib berusaha, tetapi tidak berhak menuntut surga seolah-olah telah membelinya dengan ibadah.
Bahkan, sebelum seseorang mengangkat tangan untuk berdoa, ia telah lebih dahulu menerima nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Napas yang masih berembus, hati yang masih mengenal iman, dan kesempatan untuk bertobat adalah rahmat yang sering luput dari kesadaran. Maka, amal saleh sesungguhnya bukan modal untuk menyombongkan diri, melainkan bentuk syukur atas kesempatan yang diberikan Allah. Kita beribadah bukan untuk menagih balasan, tetapi karena menyadari bahwa kita adalah hamba yang membutuhkan-Nya.
Namun, jangan pula salah memahami rahmat. Jika surga adalah karunia Allah, bukan berarti manusia boleh meninggalkan salat, mengabaikan kewajiban, atau sengaja bergelimang dosa dengan alasan bahwa Allah Maha Pengampun. Harapan tanpa ikhtiar hanyalah angan-angan. Seseorang yang mengaku berharap panen, tetapi tidak pernah menanam benih, sedang menipu dirinya sendiri. Begitu pula orang yang mengharapkan surga tanpa kesungguhan dalam ketaatan.
Dalam perjalanan menuju Allah, seorang Muslim perlu menjaga dua sayap batinnya: khauf dan roja’. Khauf adalah rasa takut kepada Allah, takut jika amal tidak diterima, dosa tidak diampuni, atau kehidupan berakhir dalam keadaan buruk. Rasa takut ini menjadi rem agar manusia tidak merasa suci, tidak meremehkan maksiat, dan tidak mudah menghakimi orang lain.
Sementara itu, roja’ adalah harapan kepada luasnya ampunan dan kasih sayang Allah. Harapan ini menjadi tenaga yang menggerakkan manusia untuk bangkit setelah jatuh, bertobat setelah berdosa, dan terus berbuat baik meskipun merasa amalnya masih sedikit.
Khauf tanpa roja’ dapat menyeret manusia menuju keputusasaan. Sebaliknya, roja’ tanpa khauf dapat melahirkan kelalaian dan keberanian meremehkan dosa. Keduanya harus berjalan beriringan, ditemani ikhtiar amal yang nyata. Ketika sehat dan memiliki kesempatan, seorang Muslim bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Ketika sakit atau mendekati akhir kehidupan, ia memperbesar harapan kepada ampunan dan rahmat Allah, tanpa kehilangan ketulusan untuk bertobat dan memperbaiki diri.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar seberapa banyak amal yang telah kita kumpulkan, melainkan bagaimana kita menjalani amal itu: dengan ikhlas atau ingin dipuji, dengan rendah hati atau merasa paling suci, dengan harapan kepada Allah atau merasa berhak atas balasan-Nya. Amal yang banyak tidak semestinya membuat seseorang merendahkan orang lain. Sebaliknya, semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin besar kesadarannya bahwa dirinya tetap membutuhkan ampunan dan rahmat-Nya.
Surga bukan upah yang dapat ditagih manusia, melainkan karunia yang diharapkan dari Allah. Amal saleh adalah jalan ketaatan, bukan alat untuk membeli keselamatan. Karena itu, teruslah beramal seakan-akan perjalanan masih panjang, teruslah bertobat seakan-akan dosa masih banyak, dan berharaplah kepada Allah seakan-akan rahmat-Nya jauh lebih luas daripada seluruh kesalahan kita.
Jangan pernah berhenti beramal karena merasa tidak pantas masuk surga. Namun, jangan pula merasa pasti masuk surga hanya karena telah banyak beramal. Sebab, seorang hamba yang mengenal Tuhannya akan terus berusaha tanpa kesombongan, takut tanpa keputusasaan, dan berharap tanpa kelalaian.(*)
Referensi:
1. QS. Az-Zumar \(39\): 53 — Larangan berputus asa dari rahmat Allah.
2. QS. An-Najm \(53\): 32 — Larangan menganggap diri paling suci.
3. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim — Hadis tentang masuk surga dengan rahmat Allah, bukan semata-mata karena amal.
