Tabir Kepalsuan

Tabir Kepalsuan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Frasa “Tabir Kepalsuan” menyiratkan sebuah metafora yang kuat, sebuah tirai atau selubung yang menutupi kebenaran, menyembunyikan realitas di balik ilusi, manipulasi, atau kebohongan. Ini bisa menjadi titik tolak yang sangat kuat untuk refleksi spiritual, pendidikan karakter, atau kritik sosial.

Makna Filosofis dan Spiritualitas

• Tabir melambangkan batas antara yang tampak dan yang hakiki.

* Kepalsuan adalah segala bentuk kebohongan, kemunafikan, atau ilusi duniawi yang menjauhkan manusia dari fitrah dan kebenaran.

• Dalam konteks Qur’ani, ini bisa dikaitkan dengan ayat-ayat tentang ghurur (tipu daya dunia), seperti dalam QS. Al-Hadid:20:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Artinya: Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.

Refleksi Pendidikan dan Kepemimpinan

* Dalam pendidikan, “tabir kepalsuan” bisa merujuk pada sistem yang tampak baik namun menindas kreativitas dan fitrah anak.

* Dalam kepemimpinan, ia bisa menjadi simbol dari pencitraan, retorika kosong, atau kebijakan yang tidak berpihak pada kebenaran dan keadilan.

1. Kebohongan

Kebohongan adalah penyimpangan dari kebenaran—baik melalui ucapan, tindakan, maupun diam yang menyesatkan. Ia bukan sekadar “tidak berkata jujur”, tapi juga bisa berupa:

* Menyembunyikan fakta penting

* Mengaburkan realitas

* Menciptakan persepsi palsu

Dalam Al-Qur’an, kebohongan (al-kadhib) adalah salah satu sifat tercela yang dikaitkan dengan orang-orang munafik dan zalim. Beberapa ayat penting:

QS. Al-Baqarah:10

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ

Artinya: Dalam hati mereka ada penyakit,6) lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta.

6) Penyakit hati yang dimaksud adalah keraguan tentang kebenaran agama Islam, kemunafikan, atau kebencian terhadap kenabian Rasulullah saw.

QS. Al-Hajj: 30

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ وَاُحِلَّتْ لَكُمُ الْاَنْعَامُ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْاَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ ۙ

Artinya: Demikianlah (petunjuk dan perintah Allah). Siapa yang mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (ḥurumāt) 500) lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Semua hewan ternak telah dihalalkan bagi kamu, kecuali yang diterangkan kepadamu (keharamannya). Maka, jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhi (pula) perkataan dusta.

500) Arti yang terhormat (ḥurumāt) pada ayat ini ialah bulan haram (Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, Rajab), tanah haram, dan maqam Ibrahim.

Kebohongan bukan hanya soal etika, tapi juga penyakit hati yang mengaburkan fitrah dan menjauhkan dari cahaya kebenaran.

Dalam Pendidikan dan Kepemimpinan

* Pendidikan: Ketika guru atau orang tua berbohong (meski “demi kebaikan”), anak belajar bahwa kebenaran bisa dinegosiasikan. Ini merusak kepercayaan dan integritas.

* Kepemimpinan: Kebohongan dalam bentuk pencitraan, manipulasi data, atau janji palsu adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

Refleksi Diri: Apakah Aku Sedang Berbohong?

Gunakan pertanyaan ini sebagai cermin:

* Apakah aku menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diketahui orang lain?

* Apakah aku menciptakan kesan yang tidak sesuai kenyataan?

* Apakah aku membenarkan kebohongan demi “kebaikan”?

2. Kemunafikan

Kemunafikan adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya dalam pandangan spiritual dan etika. Ia bukan hanya soal ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan, tetapi juga tentang pengkhianatan terhadap fitrah, pengaburan kebenaran, dan perusakan kepercayaan dalam komunitas.

Dalam Al-Qur’an dan hadis, kemunafikan (nifaq) memiliki makna yang sangat serius. Bahkan, Allah menyebutkan bahwa orang-orang munafik berada di tingkatan paling bawah dari neraka (QS An-Nisa: 145).

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

Ada dua jenis kemunafikan:

1. Nifaq I’tiqadi (keyakinan):

* Menyembunyikan kekafiran dan berpura-pura beriman.

* Ini adalah bentuk kemunafikan yang paling berbahaya.

2. Nifaq ‘Amali (perilaku):

* Tidak sampai pada kekafiran, tapi mencerminkan sifat-sifat munafik.

* Rasulullah bersabda:

Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ciri-Ciri Kemunafikan dalam Kehidupan Sehari-hari

* Mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati.

* Berpura-pura mendukung, tapi diam-diam menjatuhkan.

* Menampilkan kesalehan di depan umum, tapi berbuat sebaliknya di tempat tersembunyi.

* Mengkritik orang lain atas kesalahan yang juga ia lakukan.

Hadits tentang tanda-tanda orang munafik adalah sebagai berikut:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kemunafikan bukan hanya soal keyakinan, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ketiga tanda tersebut adalah:

* Dusta dalam perkataan: Menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan.

* Ingkar janji: Tidak menepati komitmen yang telah dibuat.

* Khianat terhadap amanah: Tidak menjaga kepercayaan yang diberikan.

Rasulullah menyampaikan hadits ini sebagai peringatan agar umat Islam menjaga integritas dan kejujuran dalam kehidupan sosial dan spiritual.

Untuk menghindari kemunafikan, seseorang perlu:

* Menyelaraskan hati, lisan, dan perbuatan.

* Berani mengakui kelemahan dan memperbaikinya.

* Menjaga amanah dan menepati janji.

* Bersikap jujur meskipun pahit.

 

Tinggalkan Balasan

Search